Motif Penemuan Mayat Pelajar di Manggarai, Dugaan Bunuh Diri Hingga Bukti Sadapan WhatsApp
DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI – Seorang pelajar di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang teridentifikasi berinisial LD (18) asal Wewo, Kecamatan Satarmese ditemukan meninggal di area semak-semak kawasan Wae Ces Golo Lusang, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Senin 12 Oktober 2026.
Pelajar berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan dalam kondisi telungkup, berbaring dengan dada dan perut menghadap ke samping.
Ia ditemukan oleh seorang warga setempat bernama Adrianus yang baru pulang sensor kayu dari kebun sekitar Pukul 16.00 WITA.
Tak hanya itu, Adrianus juga menemukan satu unit sepeda motor terparkir di jalan raya, sekitar 15 meter dari lokasi penemuan korban.
“Waktu pulang sensor kayu dari kebun saya terkejut tiba-tiba ketemu sesosok mayat laki-laki dalam posisi telungkup di semak-semak. Saat saya mendekat, badannya sudah penuh dengan lalat, ada sepeda motor terparkir di jalan raya” ungkap Adrianus yang juga dibenarkan oleh tiga rekan lainnya.
Mereka pun melaporkan kejadian tersebut ke Kantor Kelurahan Waso dan memberi informasi kepada pihak Kepolisian Resort (Polres) Manggarai untuk mendatangi lokasi.
Anggota Polres Manggarai yang mendatangi lokasi tersebut langsung melakukan olah TKP, memasang police line dan mengumpulkan keterangan saksi-saksi.
Dari hasil olah TKP dan keterangan saksi yang dikumpulkan, Polres Manggarai pun berhasil mengungkap motif dibalik kematian LD yang teridentifikasi sebagai seorang pelajar itu.
Kasi Humas Polres Manggarai, Kompol Gusti Putu Saba Nugraha menjelaskan, dari hasil olah TKP korban LD diduga mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Terkuaknya dugaan bunuh diri itu saat petugas kepolisian menemukan obat semprot hama sawah dan menemukan adanya tiga titik bercak muntahan tepat di samping korban.
Tak hanya itu, polisi juga menemukan satu unit sepeda motor, handphone, jaket, sandal dan sebatang rokok suriah di sekitar lokasi penemuan korban.
“Sehingga bisa diduga ia meninggal dunia karena bunuh diri. Tapi ini sifatnya masih dugaan yah, saya tekankan ini masih dugaan sifatnya. Dugaan tersebut didukung dengan pelaksanaan olah TKP dimana polisi menemukan adanya obat semprot hama sawah serta bercak muntahan di dekat korban” ungkap Kompol Gusti.
Dugaan kuat lainnya dibuktikan dengan hasil visum dokter yang tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Hasil visumnya kami sudah dapat dan disitu diterangkan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada fisik jenazah, sehingga bisa diduga korban meninggal karena bunuh diri. Mungkin saja ia bawah motor ke arah situ lalu berhenti dan langsung minum obat, kemudian reaksi obat itu membuat korban meninggal dunia” ungkapnya mengandaikan.
Lebih lanjut Kompol Gusti menambahkan, hal lain yang menguatkan dugaan korban meninggal dunia karena bunuh diri setelah polisi berhasil mengumpulkan bukti keterangan dari para saksi.
Dalam kasus ini, polisi berhasil mengumpulkan bukti WA yang tersadap dari handphone korban, dimana ada bukti chatingan antara korban dan teman dekat.
Bukti chatingan tersebut menggunakan bahasa daerah setempat yang berbunyi “Rantang beban ata tua daku, kong bunuh diri kaut ga, dedia sekolah enu asi pande kecewa ata, boto cama aku ite” bunyi bahasa daerah setempat yang artinya “Dari pada beban orang tua saya lebih baik bunuh diri saja. Saya bunuh diri saja, sekolah baik-baik nona jangan buat orang kecewa supaya tidak seperti saya.
“Dari bukti sadapan WA itu polisi menduga kuat korban meninggal karena bunuh diri” kata Kompol Gusti.
Selain bukti sadapan WA, polisi juga menerima keterangan saksi terkait masalah keuangan sekolah korban.
Dalam keterangan itu dijelaskan bahwa pada hari Minggu 11 Oktober kakak kandung korban sempat mengunjungi indekos korban yang beralamat di Ngencung, Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong untuk membayar uang sekolah korban. Akan tetapi korban tidak ada di tempat. Nomor handphone dan media sosial korban juga tidak aktif saat dihubungi.
“Kakaknya sempat datang untuk bayar uang sekolah katanya, tetapi sampai di indekos korban sedang tidak berada di tempat. Lalu keesokan harinya kakak kandung korban mendapat kabar meninggal dunia” ujar Kompol Gusti.
Reporter: Berto Davids

Tinggalkan Balasan