Kiamat Internet Mengintai! Bug PHP Bikin Jutaan Website Dunia Mati Total, Hacker Pesta Pora
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA Jagat dunia maya sedang dibayangi ancaman “kiamat” siber. Berbagai situs web di seluruh dunia mendadak gelap gulita setelah sebuah celah keamanan fatal (vulnerabilitas) ditemukan pada bahasa pemrograman komputer yang menjadi fondasi utama berdirinya internet. Dalangnya : Bug PHP
Dilansir The Guardian, pemerintah di berbagai negara Eropa, seperti Belgia, Belanda, Finlandia, Prancis, dan Jerman, dibuat blingsatan. Mereka terpaksa mematikan sementara sejumlah situs web resmi negara demi menambal kelemahan kritis pada PHP, bahasa pemrograman yang menjadi tulang punggung bagi hampir 70 persen website di muka bumi ini.
Bug PHP yang baru diumumkan ke publik pada hari Selasa ini langsung memicu sirine peringatan dari badan keamanan nasional di Washington dan London. Artinya, jutaan website harus segera diperbaiki sebelum dibobol habis-habisan. Salah satu pakar infrastruktur internet bahkan memperingatkan bahwa aktor negara Rusia atau sindikat kejahatan terorganisir bisa saja mengeksploitasi celah ini untuk melancarkan serangan siber mematikan.
Sebagai gambaran betapa vitalnya PHP, platform populer seperti WordPress, Wikipedia, aplikasi pesan Slack, dan sebagian besar sejarah sistem Facebook dibangun menggunakan bahasa ini. Yayasan Wikimedia bahkan mengaku telah mematikan beberapa sistem mereka pada hari Rabu sebagai langkah pencegahan darurat hingga tambalan keamanan (patch) bisa diterapkan.
Organisasi pengembang PHP sebenarnya sudah merilis tambalan pada hari Rabu setelah para peneliti keamanan siber menemukan cacat tersebut. Namun, Badan Keamanan Nasional AS (NSA) tidak mau ambil risiko. NSA langsung memerintahkan semua organisasi yang menggunakan PHP untuk segera mematikan sistem mereka (offline) jika tidak bisa langsung melakukan penambalan. NSA mengingatkan bahwa kerentanan ini bisa “memberikan jalur langsung ke sistem file atau basis data server”.
Setali tiga uang, Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) mengeluarkan instruksi serupa dan meminta organisasi untuk memeriksa “pintu belakang (backdoor) yang mungkin sudah dipasang oleh penyerang”.
Berlomba Melawan Hacker yang Dipersenjatai AI
Situasi makin genting karena solusi perbaikan cacat ini sudah bocor ke publik. Para pakar keamanan kini bersiap menghadapi tsunami intrusi, mengingat alat Kecerdasan Buatan (AI) bisa dengan mudah merekayasa balik (reverse engineer) bug tersebut tanpa butuh tenaga ekstra. Para peretas dipastikan sedang berlomba mencuri start sebelum pemilik website sempat melakukan update.
Costin Raiu, salah satu pendiri perusahaan riset keamanan siber dan respons insiden TLP:Black, menyebut bahwa AI memicu “perlombaan eksploitasi”. Ia memperingatkan bahwa mimpi buruk selanjutnya adalah “kompromi massal terhadap setiap server web yang rentan di internet”.
Keresahan serupa disuarakan oleh Prof Alan Woodward, pakar keamanan siber di Universitas Surrey.
“Sangat mengejutkan dan meresahkan mengingat sejauh mana PHP digunakan di seluruh dunia. PHP telah mengeluarkan tambalan dengan sangat cepat. Hal terpenting bagi semua penggunanya adalah segera menerapkannya untuk memastikan sistem mereka aman,” tegas Woodward.
Namun, ia menyoroti nasib miris bagi website-website kecil atau yang jarang diurus. “Bagian yang meresahkan adalah akan ada deretan panjang website yang mungkin tidak dirawat dengan baik dan akan terus rentan, yang berarti kita mungkin melihat serangan berlanjut selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Untuk target-target besar yang menggiurkan, saya sangat berharap mereka ditambal dengan cepat,” sambungnya.
“Ada perlombaan ini, dan sayangnya beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa mereka sedang ikut berlomba,” Woodward mengingatkan tentang sempitnya jendela waktu bagi para pelaku kejahatan siber beraksi.
Celah Tersembunyi Selama Satu Dekade
Lalu, siapa penemu celah mematikan ini? OpenAI mengklaim bahwa mereka memimpin koalisi peneliti yang menemukan cacat tersebut, dan menyebut “frontier AI” atau AI mutakhir menjadi kunci utamanya. Namun, peneliti yang langsung menemukan kelemahan itu menyebut bahwa mereka hanya menggunakan model AI yang sudah tersedia untuk publik.
Perusahaan keamanan siber Calif dalam blog resminya membeberkan bahwa mereka menemukan celah ini dengan bantuan large language model pada 1 Agustus dan langsung menggodok solusinya. Tak mau kalah, perusahaan keamanan siber milik Alphabet (induk Google), Wiz, menyatakan telah menemukannya juga berkat bantuan Wiz Atlas (alat riset kerentanan AI otonom mereka), Google Gemini 4 Argon, dan OpenAI GPT-5.6 Sol.
Celah ini rupanya bagai bom waktu. Menurut Wiz, kerentanan ini telah tersembunyi dengan rapi di dalam basis kode PHP selama lebih dari satu dekade dan akan sangat rumit jika harus dieksploitasi oleh peretas manusia secara manual.
Mengerikannya lagi, serangan ini ternyata bukan sekadar teori. Kepala Keamanan Amazon, CJ Moses, mengungkapkan pada Rabu malam bahwa tim keamanannya telah mendeteksi upaya peretasan yang memanfaatkan kerentanan ini. Serangan itu menargetkan salah satu sistem umpan (“honeypot”) mereka pada tanggal 17 Oktober—empat hari sebelum cacat Bug PHP ini diungkap secara resmi ke hadapan publik.

Tinggalkan Balasan