DIKSIMERDEKA.COM ATLANTA Tradisi Foto Bersama G20 alias family photo yang jadi ritual pembuka wajib dalam sidang menteri luar negeri mendadak ambyar di Atlanta, Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, terpaksa membatalkan sesi jepret-jepret tersebut setelah negara-negara sekutu seperti Inggris, Australia, dan pejabat Uni Eropa mengancam walk out jika harus berdiri satu frame dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

Seperti yang dilansir The Guardian, meski kehilangan momen keakraban simbolis tersebut, Rubio tetap membuka perundingan dengan nada serius, menyerukan persatuan di tengah ancaman keamanan dan perdagangan global.

“Kita berada pada momen kritis,” ujar Rubio di hadapan para delegasi. “Kita menghadapi serangkaian krisis ekonomi dan geopolitik yang saling terkait.”

Penolakan terhadap Rusia memang sudah terasa panas sebelum acara dimulai. Sekitar sepertiga negara yang hadir di Atlanta terang-terangan ogah berdekatan dengan perwakilan Moskow.

Sekutu AS Terang-terangan Emoh Semeja dengan Lavrov

Ketegangan paling tajam datang dari kubu Eropa. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, sudah mewanti-wanti sebelum sesi hari Jumat dimulai bahwa kubunya menolak keras normalisasi dengan Moskow.

Baca juga :  Perang Iran Bikin AS Boncos Rp470 Triliun, Harga BBM Terancam Meledak

“Sama sekali tidak akan ada foto bersama antara mitra Eropa dan Tuan Lavrov karena… tidak ada kenormalan dengan Rusia,” tegas Wadephul.

Senada dengan Jerman, Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, juga memastikan langkah boikot dari negaranya. “Kami tidak berinteraksi dengan cara seperti itu dengan Rusia dan sudah tidak melakukannya selama beberapa tahun,” ucapnya.

Di dalam ruang sidang, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, tanpa tedeng aling-aling mengutuk invasi Rusia ke Ukraina sebagai tindakan brutal dan tidak bisa dibenarkan—tepat di hadapan Lavrov. Ia menyebut perang ilegal Rusia telah mengacaukan pasar internasional dan memperparah krisis pangan global.

Juru bicara Wong menegaskan dukungan penuh atas keputusan AS membatalkan sesi jepret bersama tersebut. “Australia bersikap jelas dan konsisten: kami tidak akan menormalisasi invasi brutal dan ilegal Rusia ke Ukraina. Fokus kami di G20 tetap pada pekerjaan penting di hadapan kami dan mengatasi tantangan yang dihadapi ekonomi global,” ungkap sang juru bicara.

Baca juga :  7 Kapal Angkut Solar Rusia Menuju AS, 'Kongkalikong' Trump-Putin Bikin Geger!

Manuver Trump Rangkul Putin dan Depak Afrika Selatan

Kericuhan diplomatik di Atlanta ini menjadi bukti nyata adanya perpecahan yang dipicu oleh manuver pemerintahan Donald Trump. Pemerintahan Trump diketahui tengah bermanuver mengintegrasikan kembali Rusia dan Presiden Vladimir Putin ke dalam komunitas internasional, mengabaikan fakta bahwa invasi ke Ukraina masih terus berdarah-darah.

Para diplomat yang hadir menggambarkan sesi pembukaan berjalan sopan namun kaku. Posisi Rusia terkait Ukraina tetap keras kepala, begitu pula penolakannya terhadap status Polandia di G20. Sikap ngotot ini membuat para peserta pesimis sidang bisa menghasilkan komunike atau pernyataan bersama di akhir acara pada hari Sabtu (31/1/2026).

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Polandia, Radosław Sikorski, yang hadir berstatus tamu istimewa, mengaku tak kaget dengan kebuntuan ini.

“Ada perang yang sedang berlangsung dan pesertanya duduk di sekitar meja ini, jadi sangat sulit untuk menyepakati satu pemikiran bersama,” katanya kepada wartawan.

Baca juga :  Proposal Damai Ditolak, Trump Ngamuk Siap Rebut Uranium Iran

Banyak pihak juga menyoroti kejanggalan daftar tamu. Ukraina, yang biasanya diundang di era sebelumnya, kini dicoret. AS berdalih hanya ingin fokus pada anggota resmi. Polandia yang bukan anggota justru diundang dan sedang diusahakan masuk keanggotaan resmi oleh AS.

Anehnya, Afrika Selatan yang merupakan anggota pendiri G20 sekaligus satu-satunya wakil Benua Afrika, justru tidak diundang. Negara ini diketahui memiliki hubungan panas dengan pemerintahan Trump. Saat Afrika Selatan memimpin G20 tahun lalu, pejabat AS termasuk Trump dan Rubio bahkan memboikot acara yang mereka gelar.

Menanggapi insiden pendepakan ini, Juru Bicara Menteri Hubungan Internasional Afrika Selatan Ronald Lamola, Phindile Kunene, melontarkan kritik tajam. “Kami secara konsisten menegaskan bahwa ketidakhadiran kami bukanlah atas kemauan sendiri,” tegas Kunene.

Sejumlah peserta sidang yang enggan disebut namanya menyebutkan, terlepas dari segala drama boikot dan perselisihan ini, seluruh negara sepakat menekan ego demi menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin G20 bulan depan yang akan dijamu langsung oleh Donald Trump di Florida.