DIKSIMERDEKA.WASHINGTON – Aroma kontroversi menyengat dari pengiriman Solar Rusia yang kini tengah berlayar menuju Amerika Serikat.”. Tujuh kapal tanker yang mengangkut perkiraan 288.000 ton solar (diesel) asal Rusia kini tengah berlayar menuju Amerika Serikat (AS. Namun, nasib kapal-kapal ini masih menggantung di tengah sengitnya perseteruan politik terkait legalitas pengiriman tersebut.

Manuver pengiriman yang dilacak secara ketat oleh kelompok lingkungan Greenpeace ini merupakan fase pertama dari kesepakatan pasokan kontroversial. Kesepakatan ini diteken langsung oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin awal bulan ini, yang secara dramatis memutarbalikkan sanksi minyak Rusia yang telah berjalan bertahun-tahun.

Laporan sebelumnya hanya mencatat tiga kapal tanker yang berangkat dari terminal minyak Rusia di Laut Baltik. Namun, dengan menggabungkan berbagai sumber termasuk situs pelacakan kapal, Greenpeace meyakini pemantauan terbaru mereka adalah yang paling lengkap.

Shaun Burnie, spesialis energi dari Greenpeace Ukraina, mendesak agar Kongres atau otoritas lokal di AS segera memblokir pengiriman tersebut, mengingat lokasi kapal kini sudah bisa dipetakan.

“Bukannya memberi hadiah kepada Rusia atas perang kejinya terhadap Ukraina, yang dibutuhkan justru sanksi hukuman yang lebih keras terhadap Rusia,” tegas Burnie. “Pengiriman ini bisa dihentikan.”

Baca juga :  Ngotot Lindungi Bahasa Prancis, PM Kanada Lawan Ancaman Donald Trump

Satu dari tujuh kapal tanker tersebut, Taurus, dilaporkan sudah berada relatif dekat dengan perairan AS. Sementara saat peta pelacakan pertama kali diterbitkan, lima kapal lainnya berada di dekat Inggris, dan tiga di antaranya sedang berlayar melintasi Selat Inggris.

Jerit Tangis Ukraina di Tengah Guyuran Minyak

Ironisnya, saat minyak Rusia melenggang ke AS, darah kembali tumpah di Ukraina. Pada Kamis pagi, 14 orang dilaporkan tewas ketika drone Rusia menghantam peron kereta yang padat di pusat kota Dnipro. Lima warga lainnya juga tewas dalam serangan siang bolong di dua kota berbeda, Chernihiv dan Kremenchuk.

Perusahaan kereta api negara Ukraina, Ukrzaliznytsia, mengonfirmasi bahwa drone berkecepatan tinggi bertenaga jet itu menyerang saat kereta komuter bersiap berangkat dari stasiun utama Dnipro. Mayat-mayat bergelimpangan dalam serangan pukul 11 siang yang terbilang tak biasa ini.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengutuk keras kesepakatan minyak tersebut. Ia memperingatkan bahwa uang yang dihasilkan akan membantu Kremlin mendanai perang yang terus berlangsung.

Baca juga :  Sekutu AS Menolak Terlibat Konflik Iran, Harga Energi Naik dan Aliansi Tertekan

Zelenskyy menyebut “kesepakatan pintu belakang” ini memberi Putin lebih banyak peluang di medan pertempuran.

Dalih Harga BBM dan Bayang-Bayang Pemilu Sela

Kesepakatan mengejutkan yang diumumkan pada 9 Oktober ini mengharuskan Putin memasok 1,8 juta ton solar ke AS, dimulai dengan pengiriman instan sebanyak 300.000 ton. Sebagai imbalannya, Trump memberikan pengecualian sanksi selama enam bulan agar pengiriman bisa berjalan mulus.

Sejak Putin meluncurkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, Rusia sejatinya telah dihantam gelombang sanksi ekonomi dari AS, Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara Barat lainnya. Namun musim gugur ini, Trump memutar haluan dan mencoba bekerja sama lebih erat dengan Putin, kendati peluru Rusia belum berhenti menghujani negara tetangganya.

Gedung Putih dilaporkan terus mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk mengambil minyak tersebut. Namun, para pembeli tampak ragu dan mundur teratur karena besarnya risiko hukum, apalagi menjelang Pemilu Sela hari Selasa mendatang.

Awal pekan ini, sekelompok anggota parlemen AS yang dipimpin senator dari Partai Demokrat telah memperingatkan bank-bank dan otoritas pelabuhan. Mereka diancam akan menghadapi penyelidikan kongres dan tindakan hukum lainnya jika berani memproses minyak Rusia tersebut.

Baca juga :  Konflik Memanas! Trump dan Zelensky Bersitegang Usai "Deal" Solar AS & Rusia

Gubernur New Jersey dari Partai Demokrat, Mikie Sherrill, menyatakan sedang mencari celah untuk mencegah pembongkaran muatan solar itu jika ada kapal yang merapat ke negaranya bagiannya. Ia secara blak-blakan menyebut kesepakatan Trump-Putin itu “korup dan ilegal”.

Bagi Trump, kesepakatan ini adalah amunisi untuk menekan harga BBM. Popularitas sang presiden memang tengah merosot tajam usai harga bahan bakar di AS meroket pasca serangannya ke Iran pada musim semi lalu. Namun, niat menurunkan harga tampaknya belum berbuah manis. Menurut American Automobile Association (AAA), harga per galon justru naik dari $6,28 saat kesepakatan diumumkan menjadi $6,33.

Di sisi lain, posisi politik Trump kian terjepit. Jajak pendapat menunjukkan tingginya kemungkinan kontrol DPR AS jatuh ke tangan Demokrat, sementara persaingan di tingkat Senat masih terlalu ketat untuk diprediksi.

Sementara itu, Kremlin terus berupaya menutup rapat informasi tentang ekspor minyak terbarunya ini. Sebuah dekrit presiden yang dikeluarkan pada akhir September lalu secara resmi membatasi publikasi informasi terkait ekspor minyak demi menghindari pantauan sanksi internasional.