DIKSIMERDEKA.COM, WASHINGTON-Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal damai yang diajukan Amerika Serikat. Trump menyebut jawaban Teheran “sepenuhnya tidak bisa diterima” di tengah mulai retaknya gencatan senjata di Timur Tengah.

Ketegangan kawasan kembali meningkat setelah serangan drone dilaporkan terjadi di sejumlah negara Teluk dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang “belum berakhir”.

Proposal balasan Iran dikirim ke Washington melalui mediator Pakistan.

Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran meminta pencabutan sanksi Amerika Serikat, penghentian blokade laut AS di Strait of Hormuz, serta jaminan tidak ada lagi serangan terhadap Iran setelah kesepakatan awal tercapai.

Dilansir dari The Guardian Sebelumnya, Amerika Serikat mengirim proposal damai berupa memorandum 14 poin yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi dasar negosiasi baru terkait program nuklir Iran.

Baca juga :  Mantan Bos CIA Minta Trump Dilengserkan: ‘Amandemen ke-25 Dibuat untuk Dia’

Dalam proposal tersebut, Washington disebut meminta Iran menghentikan pengayaan uranium hingga 20 tahun, memindahkan stok uranium berkadar tinggi ke luar negeri, serta membongkar fasilitas nuklirnya.

Namun menurut laporan Wall Street Journal, Iran menolak pembongkaran fasilitas nuklir dan hanya menawarkan moratorium lebih singkat.

Trump langsung bereaksi keras.

“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya — benar-benar tidak bisa diterima,” kata Trump.

Sebelumnya Trump juga menulis di platform Truth Social bahwa Iran telah “mempermainkan Amerika Serikat dan dunia selama 47 tahun”.

“Iran tidak akan tertawa lagi,” tulis Trump.

Trump dijadwalkan berbicara dengan Netanyahu pada Minggu waktu setempat.

Netanyahu sendiri menegaskan perang belum akan selesai selama Iran masih memiliki stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.

“Ini belum berakhir karena masih ada material nuklir — uranium yang diperkaya — yang harus dikeluarkan dari Iran,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan program 60 Minutes.

Ia bahkan mengatakan cara terbaik adalah masuk langsung ke Iran untuk mengamankan material nuklir tersebut sebagai bagian dari kesepakatan.

“Anda masuk dan mengambilnya,” ujar Netanyahu.

Trump dalam wawancara lain justru terdengar lebih santai terkait stok uranium Iran. Ia menyebut Amerika Serikat masih mengawasi lokasi penyimpanan melalui satelit dan sistem Space Force milik AS.

“Kalau ada yang mendekati tempat itu, kami akan tahu dan kami akan menghancurkannya,” kata Trump.

Meski gencatan senjata telah diumumkan sebulan lalu, Trump kembali membuka peluang serangan militer baru terhadap Iran.

Baca juga :  Prabowo–Trump Teken Deal Dagang Rp525 Triliun, Pasar RI Dibuka luas untuk AS

Ia mengklaim Amerika Serikat baru menyerang sekitar 70 persen target yang diinginkan dan masih memiliki target lain yang bisa dihantam sewaktu-waktu.

Tekanan terhadap Trump meningkat menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Beijing disebut mendorong penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz demi menjaga stabilitas ekonomi global.

Baca juga :  Trump Sebut Proposal Damai Iran “Sampah”, Hormuz Memanas Lagi

Salah satu isu utama dalam negosiasi mendatang adalah nasib sekitar 440 kilogram uranium Iran dengan tingkat pengayaan 60 persen yang mendekati level senjata nuklir.

Militer Iran menyatakan seluruh pasukan berada dalam kondisi siaga penuh untuk melindungi stok uranium tersebut.

“Kami mempertimbangkan kemungkinan mereka mencoba mencurinya melalui operasi infiltrasi atau operasi udara,” kata Brigadir Jenderal Akrami Nia di media pemerintah Iran.

Laporan menyebut Trump juga telah menerima sejumlah opsi militer untuk merebut stok uranium Iran. Namun operasi tersebut diperkirakan membutuhkan pasukan besar dan waktu berminggu-minggu.