DIKSIMERDEKA.COM LONDON Keputusan mengejutkan datang dari militer Amerika Serikat (AS). Paman Sam secara mendadak menarik mundur seluruh pesawat pengebom mematikannya dari pangkalan militer RAF Fairford di Inggris. Langkah drastis ini diambil tepat di tengah panasnya investigasi polisi antiteror terkait dugaan rencana serangan mematikan di sekitar pangkalan udara tersebut.

Seorang pejabat dari departemen AS pada Minggu akhirnya buka suara. Ia mengonfirmasi bahwa seluruh armada pesawat pengebom kebanggaan mereka telah angkat kaki dari pangkalan Inggris tersebut dan dipulangkan kembali ke stasiun pangkalan asal mereka di Amerika.

Meski pihak AS bungkam soal alasan pasti penarikan tersebut, publik sudah bisa menebak arahnya. Keputusan ini meletus tak lama setelah insiden genting pada 27 September lalu, di mana polisi dibuat kalang kabut oleh laporan kemunculan tiga “kendaraan mencurigakan” yang mengintai di sekitar pangkalan udara yang terletak di Gloucestershire itu.

Insiden itu berbuntut panjang. Lima pria awalnya digaruk aparat atas kecurigaan pelanggaran terorisme di dekat pangkalan, sebelum akhirnya dilepas dengan status bebas bersyarat. Tak berhenti di situ, pria keenam—seorang warga negara ganda Inggris-Iran—juga ikut ditangkap dan kemudian dibebaskan dengan jaminan yang sama.

Baca juga :  Belum Kelar! Trump dan Iran Kembali Adu Kekuatan Saat Khamenei Dimakamkan

Sumber-sumber di Whitehall (pusat pemerintahan Inggris) sama sekali tidak menampik rumor bahwa keputusan Washington menarik pasukannya adalah respons langsung atas ancaman teror di pangkalan tersebut. Kepada BBC, sumber tersebut juga membisikkan bahwa langkah ini murni keputusan militer tingkat operasional, bukan manuver politik, dan telah dikomunikasikan secara langsung dari militer AS ke rekan sejawat mereka di Inggris.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Pertahanan Inggris masih bungkam seribu bahasa.

Jejak Iran dan Sindiran Donald Trump

Ketegangan ini bukan tanpa sebab. RAF Fairford selama puluhan tahun memang menjadi ujung tombak lokasi operasi garis depan Angkatan Udara AS (USAF).

Dalam beberapa bulan terakhir, pangkalan ini bahkan jadi sorotan dunia karena menjadi titik tolak landas pesawat pengebom AS yang menuju Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah London merestui permintaan Washington untuk menggunakan pangkalan tersebut sebagai basis serangan defensif terhadap Iran.

Baca juga :  Iran Klaim Serang Kapal Tanker di Selat Hormuz, Trump Kumpulkan Kabinet Bahas Perang dan Krisis Energi

Bahkan pada Juli lalu, Teheran sudah menebar ancaman terang-terangan dengan menyatakan, “setiap pangkalan yang digunakan untuk agresi terhadap wilayah Iran merupakan target sah bagi pasukan kami.”

Hanya selang beberapa hari setelah insiden penangkapan, Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, blak-blakan menyebut ada “indikasi kuat” bahwa Iran ikut campur tangan dalam insiden tersebut, meski ia enggan merinci lebih jauh. Tuduhan ini tentu saja langsung dibantah mentah-mentah oleh Teheran.

Drama penangkapan ini bermula saat lima pria (berusia 23 hingga 25 tahun), yang semuanya warga negara Inggris asal London, dicegat di pagi buta. Kendaraan mereka kepergok melaju mencurigakan menuju pangkalan yang dioperasikan oleh USAF tersebut. Mereka ditahan atas kecurigaan pelanggaran bahan peledak dan persiapan aksi teroris. Polisi berdalih bahwa pembebasan mereka dengan jaminan adalah “keputusan investigasi” yang “didasarkan pada pengalaman dan strategi”.

Baca juga :  Putin Sebut Perang Ukraina Segera Berakhir, Rusia Mulai Bicara Damai

Menyusul kemudian, pria keenam berusia 25 tahun ikut diringkus di London pada Kamis dengan tuduhan serupa, namun polisi antiteror mengonfirmasi pada Sabtu bahwa pria ini juga sudah dilepaskan dengan jaminan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam wawancaranya dengan Fox News sebelum penangkapan pria keenam, sempat melontarkan pernyataan tajam. Ia mengklaim insiden itu “jelas melibatkan tangan aktor asing,” meski ia mengaku tak bisa bicara banyak di televisi.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump tak bisa menyembunyikan kekesalannya melihat para terduga teroris itu bisa menghirup udara bebas. Ia mengaku “terkejut” para tersangka dibebaskan dengan jaminan oleh otoritas Inggris.

“Kami tahu segalanya tentang mereka, kami tidak akan membebaskan mereka,” gerutu Trump sinis. Meski begitu, ia mencoba mendinginkan suasana dengan menambahkan bahwa Inggris telah bekerja sama “sangat erat” dengan AS dalam menangani kasus ini.