Ukraina Serang Kilang Rusia, Ngotot Abaikan Tekanan Trump
DIKSIMERDEKA.COM KYIV – Ukraina rupanya tak mau lagi sekadar jadi pion. Jelang pemilihan sela (midterm elections) Amerika Serikat, aksi nekat Ukraina serang kilang Rusia kembali memanas. Peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump seakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan, bertepatan dengan berakhirnya gencatan senjata di kota Oleshky pada Minggu malam.
Media pemerintah Rusia pada Minggu melaporkan bahwa armada drone jarak jauh Ukraina sukses memicu kebakaran hebat di kilang Kstovo, wilayah Nizhny Novgorod, pada malam hari. Serangan ini terjadi tak lama setelah gempuran masif lainnya menghantam kilang raksasa milik BUMN energi Rusia, Rosneft, di wilayah Samara.
Bikin Kesal Gedung Putih, Zelensky Pilih Main Aman
Sebelumnya, The Wall Street Journal sempat melaporkan bahwa Ukraina akhirnya tunduk pada tekanan Gedung Putih untuk berhenti mengebom infrastruktur energi Rusia. Namun, fakta di lapangan berbicara lain ketika Ukraina serang kilang Rusia lagi akhir pekan ini.
Pejabat Ukraina dengan tegas menyatakan kepada surat kabar Kyiv Independent bahwa mereka tidak pernah menyepakati tuntutan Jared Kushner, menantu Presiden AS, yang meminta penghentian serangan ke kilang minyak selama 30 hari. Imbasnya, serangan ke wilayah Rusia kembali dilanjutkan pada Jumat. Pejabat Kremlin pun langsung meradang dan mengeluh bahwa Kyiv kini “benar-benar mengabaikan” keinginan AS.
Hubungan Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, memang sedang memanas. Trump secara terbuka menyalahkan Zelensky atas lonjakan harga bahan bakar global dan nekat mencabut sanksi AS terhadap diesel Rusia bulan lalu.
Sadar sedang disorot AS, Zelensky bermain cantik. Ia menolak mengonfirmasi langsung rentetan serangan kilang minyak terbaru itu, diduga kuat untuk menghindari kemarahan Washington. Alih-alih membahas minyak, Zelensky justru memamerkan bahwa pasukan bersenjatanya sukses menghantam pabrik industri pertahanan di wilayah Rostov, Rusia, yang memproduksi rudal.
Sebuah sistem rudal Pantsir hancur lebur dalam operasi yang diklaim Zelensky sebagai bagian dari “sanksi jarak jauh” Ukraina yang akan terus berlanjut.
Zelensky menegaskan negaranya terpaksa membalas dendam karena kampanye tanpa ampun Moskow yang terus membombardir fasilitas energi di kota-kota Ukraina menggunakan drone dan rudal balistik. Akibat serangan malam Rusia di empat wilayah, ratusan ribu rumah tangga Ukraina harus rela hidup gelap-gelapan.
“Intensitas serangan sangat tinggi, dan Rusia berusaha semaksimal mungkin mengeksploitasi defisit pencegat rudal balistik kita,” tegas Presiden Ukraina tersebut melalui saluran Telegram. Ibu kota Kyiv bahkan harus mengalami pemadaman listrik selama delapan hingga 10 jam pada Minggu setelah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) vital mereka rusak parah.
Namun, Zelensky membawa kabar baik bagi rakyatnya. Ia membeberkan bahwa Rusia sedang babak belur dengan rekor kerugian tertinggi sejak perang besar dimulai: 54.400 personel militer Rusia tewas dan terluka sepanjang bulan Oktober. Ukraina juga berhasil merebut kembali 96,2 kilometer persegi wilayahnya bulan lalu—lebih luas 10,4 kilometer persegi dari yang mampu dirampas Moskow. Dengan nada optimis, Zelensky menekankan: “Rusia sedang kalah.”
Gencatan Senjata Oleshky Berakhir, Ancaman Baru Mengintai
Eskalasi serangan ini meletus tepat sebelum gencatan senjata lokal enam hari yang dimediasi oleh Ibu Negara AS, Melania Trump, resmi berakhir di Oleshky, kota Ukraina yang diduduki Rusia.
Akhir pekan lalu, ratusan warga berhasil dievakuasi dan bersatu kembali dengan keluarga mereka di Ukraina utara. Kedua belah pihak sama-sama mengklaim misi kemanusiaan tersebut sebagai sebuah kesuksesan.
“Gencatan senjata, yang berlaku dari 27 Oktober hingga 1 November, telah berakhir,” ujar Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, seraya memuji momen tersebut sebagai “langkah penting dalam upaya kemanusiaan bersama kita.”
Sayangnya, jeda pertempuran ini dicurigai punya motif ganda. Pengamat militer Ukraina menuding Rusia memanfaatkan masa tenang tersebut untuk memperkuat posisi tempur mereka dan merotasi pasukan yang kelaparan serta kelelahan di Oleshky. Kota strategis yang berada di tepi kiri Sungai Dnipro ini berhadapan langsung dengan kota besar Kherson—wilayah yang sukses direbut kembali oleh Ukraina pada musim gugur 2022. Para pengamat yakin, serangan balasan baru dari Rusia kini tak terhindarkan.

Tinggalkan Balasan