Houthi Rebut Pulau Perim , Jalur Minyak Arab Saudi Di Laut Merah Tercekik
SANA’A DIKSIMERDEKA.COM –Situasi di Yaman makin bikin jantungan! Aksi Houthi rebut Pulau Perim di Selat Bab al-Mandab sukses bikin geger. Manuver mematikan ini membuat mereka makin leluasa mengontrol salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, sekaligus mencekik jalur ekspor minyak andalan Arab Saudi.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran ini mengambil alih pulau vulkanik tersebut setelah pasukan sekutu pemerintah yang didukung PBB (bermarkas di Aden) kocar-kacir meninggalkannya. Ini adalah puncak dari rentetan kekalahan dramatis di pesisir barat Yaman dalam beberapa hari terakhir, termasuk jatuhnya kota pelabuhan Mocha pada hari Kamis lalu.
Dilansir The Guardian, Arab Saudi yang selama ini menjadi beking utama dan pemodal pemerintah resmi Yaman tak tinggal diam. Jumat kemarin, jet-jet tempur Saudi langsung membombardir posisi Houthi di Mocha sebagai aksi balasan.
Sebagai informasi, Selat Bab al-Mandab adalah “urat nadi” yang menghubungkan Asia ke Eropa via Laut Merah dan Terusan Suez. Pulau Perim, atau yang juga dikenal sebagai Mayun, membelah perairan ini tepat di titik paling sempitnya. Uni Emirat Arab (UEA), yang dulunya sekutu Saudi di koalisi anti-Houthi, sempat membangun pangkalan udara di pulau ini sebelum akhirnya angkat kaki dari konflik tersebut pada bulan Januari.
Harga Minyak Meroket, Barat Ketar-ketir
Saudi belakangan ini makin bergantung pada Laut Merah dan Bab al-Mandab untuk mengekspor minyak mentahnya, lantaran Iran terus menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Asal tahu saja, sekitar 12% pasokan barang dunia biasanya dikirim melewati selat sempit ini.
Kendali penuh Houthi atas pelayaran di selat tersebut, ditambah dominasi Iran di Selat Hormuz, jelas akan memperkuat cengkeraman pasukan anti-Barat atas suplai energi global. Buntutnya? Harga minyak dunia langsung mendidih hingga menembus lebih dari USD100 per barel seiring makin panasnya perang di Yaman.
Iran langsung bersorak. Dalam pernyataan resminya pada hari Jumat, Teheran menyambut baik manuver Houthi ini—sebuah komentar panjang perdana mereka soal pertempuran yang kembali pecah di Yaman. Iran dan Houthi memang sudah lengket sejak kelompok pemberontak itu naik ke tampuk kekuasaan di Yaman pada 2014 silam.
Dalam pernyataannya, Houthi memuji keberhasilan mereka mengusir pasukan “musuh Saudi” dari enam distrik di wilayah Taiz dan Hodeidah. Mereka mengklaim sukses merebut wilayah seluas 4.500 mil persegi, menargetkan “tujuh divisi militer dari pasukan musuh Saudi”, serta melakukan “pembunuhan, penangkapan,” terhadap ratusan tentara. Tak hanya itu, mereka juga mengklaim telah membebaskan ratusan tahanan “yang ditahan oleh tentara bayaran musuh Saudi selama bertahun-tahun”.
Strategi Amburadul, Sekutu Mulai Pecah Kongsi
Sumber diplomatik Inggris membocorkan bahwa mereka tidak menyangka Donald Trump bakal menjatuhkan sanksi pengeboman AS terhadap posisi Houthi di Yaman, meski sudah ada permohonan dari Saudi. Laju Houthi yang begitu cepat, ditambah perpecahan politik akut di wilayah Yaman yang tidak dikuasai Houthi, bikin negara-negara Barat ketakutan setengah mati kalau ibu kota pemerintah Yaman, Aden, juga bakal jatuh ke tangan Houthi. (Sebagai catatan, Inggris secara efektif memperlakukan Yaman layaknya wilayah protektoratnya hingga tahun 1967).
Serangan mematikan Houthi ini telah menelan lebih dari 500 korban jiwa dan memaksa sekitar 46.000 orang mengungsi dari rumah mereka, beber badan migrasi PBB, Jumat.
Di sisi lain, ekspansi Houthi di pesisir Laut Merah dari pelabuhan Hodeidah ini makin memperkuat posisi tawar Iran dalam usahanya mencapai kesepakatan dengan negara-negara Teluk (GCC) terkait kontrol Selat Hormuz ke depan. Iran kabarnya telah mencapai kesepakatan rute yang disetujui sementara dengan Oman. Rencananya, manuver ini bakal dibahas dalam pertemuan menteri luar negeri GCC di Salalah, Senin besok.
Jika disetujui GCC, kesepakatan ini bakal menekan AS untuk mencabut blokade pelabuhan minyak Iran yang selama ini sukses bikin ekonomi Teheran megap-megap.
Sementara itu, AS sendiri diam-diam bikin kejutan dengan menyepakati gencatan senjata dengan Houthi pada Mei 2025 lalu setelah biaya pengeboman makin membengkak. Houthi memberikan jaminan tertutup bahwa mereka tak akan menyerang kapal AS di Laut Merah. Jaminan serupa juga ditegaskan kembali oleh pimpinan Houthi minggu ini untuk semua kapal niaga, kecuali kapal tanker minyak milik Arab Saudi.
Saling Tuding Tumbangnya Mocha
Pada 14 Agustus, Saudi sesumbar membentuk koalisi angkatan laut internasional beranggotakan 14 negara (termasuk Bahrain, Pakistan, Somalia, Djibouti, Turki, dan Mesir) untuk melindungi navigasi di Bab al-Mandab dan Teluk Aden. Namun, koalisi ini sejauh ini masih “gaib” dan tak terlihat taringnya di perairan, meski Riyadh ngeles kalau membentuk koalisi besar butuh waktu.
Jatuhnya kota Mocha juga memicu saling tuding yang tajam. Mayor Jenderal Tareq Saleh, pimpinan Pasukan Perlawanan Nasional yang mundur dari kota itu, kini disorot habis-habisan. Ia berdalih mundur demi menyusun ulang kekuatannya. Namun, peraih Nobel Perdamaian Yaman 2011, Tawakkol Karman, lewat Facebook-nya langsung mendesak Presiden Yaman Rashad al-Alimi untuk mencopot Saleh dan menyeretnya ke meja hijau atas tuduhan konspirasi serta pengkhianatan tingkat tinggi!
Amr al-Bidh, perwakilan urusan luar negeri dari Dewan Transisi Selatan (STC)—organisasi politik separatis di Yaman—mengaku sudah berkali-kali memperingatkan para diplomat Barat soal perlunya strategi komprehensif untuk mengalahkan Houthi. Sesekali melancarkan serangan udara dinilai sama sekali tidak cukup.
Ia dengan pedas menuding Saudi tidak kompeten secara strategis dan malah menjauhkan pasukan selatan yang justru paling krusial untuk melawan Houthi.
“Posisi saat ini sangat serius,” tegas al-Bidh. “Kehadiran Houthi di selat ini berarti mereka akan dapat mengendalikan saluran air tanpa perlu menggunakan senjata canggih, yang pada gilirannya dapat mereka gunakan di tempat lain. Kemajuan ini juga kemungkinan akan memberi mereka pendapatan baru melalui kendali pelabuhan di sepanjang pantai barat Laut Merah.”
Houthi sendiri bahkan sudah berani banting harga dengan menawarkan tarif konsesi miring demi merebut lalu lintas kapal dari pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai pemerintah Yaman di Teluk Aden.
STC sejatinya adalah kekuatan politik dan militer dominan di selatan Yaman sampai Januari lalu, sebelum Arab Saudi secara mengejutkan mengebom pasukan mereka, membredel organisasi politiknya, dan menahan hingga 20 pemimpinnya di Riyadh.
Janji manis Saudi untuk berdialog soal nasib kawasan selatan pada bulan Januari nyatanya cuma angin lalu. “Pengkhianatan janji-janji telah membuat penduduk selatan tidak bersedia meninggalkan wilayah asal mereka untuk melawan Houthi di utara,” cibir al-Bidh. “Saudi selama 10 tahun telah bergantung pada rakyat selatan untuk mencegah Houthi, dan STC dengan sebanyak 80.000 pasukan yang dimilikinya, telah menjadi tulang punggung kekuatan itu.”
Kini, Saudi menghadapi buah simalakama: apakah harus mengemis negosiasi dengan Houthi terkait masa depan Yaman, atau nekat mendorong mundur pasukan Houthi yang sudah terlanjur meluas.
Bagi Iran, meski Houthi beroperasi independen tanpa harus disetir Teheran, bentrokan melawan Saudi ini jadi durian runtuh. Saudi kemungkinan besar akan balik menekan Washington agar melunak terhadap Iran. Di sisi lain, negara-negara Barat juga mulai garuk-garuk kepala melihat persenjataan mereka dipakai Saudi di Yaman—apakah tindakan Saudi ini masih sesuai dengan hukum humaniter internasional atau sekadar alibi “membela diri”.

Tinggalkan Balasan