Kirim ‘Hadiah’ Asap Karhutla ke Filipina, Udara Metro Cebu Masuk Zona Merah Berbahaya!
CEBU CITYDIKSIMERDEKA.COM – Ulah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali mencoreng muka bangsa di kancah internasional. Kali ini, kiriman “hadiah” kabut Asap Karhutla lintas batas (transboundary haze) dari Tanah Air sukses mengepung dan mencekik wilayah Metro Cebu, Filipina, hingga membuat kualitas udaranya terjun bebas ke zona merah pada Rabu (2/9/2026).
Dilansir dari Inquirer berdasarkan pemantauan Environmental Management Bureau (EMB) di bawah Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (DENR) wilayah Visayas Tengah, tingkat polutan di Metro Cebu sudah berada di ambang batas “sangat tidak sehat”.
Angka Air Quality Index (AQI) melonjak drastis menyentuh angka 203 pada hari Rabu, naik signifikan dari angka 173 sehari sebelumnya.
Menghadapi kepungan polusi pekat ini, pihak biro lingkungan hidup langsung mengeluarkan instruksi darurat. Warga, terutama yang memiliki riwayat gangguan pernapasan, diminta keras untuk mendekam di rumah.
Bagi yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, warga diimbau wajib mengenakan masker, memperbanyak minum air putih, serta mengambil langkah pencegahan ekstra demi meminimalisir hirupan udara beracun tersebut.
H2: Asap Kiriman Kalimantan Dibawa Angin Muson Barat Daya
Penyebab di balik memburuknya langit Cebu ini dibongkar oleh Arthur Niño Calupig, spesialis pemantauan kualitas udara di EMB-7. Ia memastikan bahwa polutan mematikan tersebut murni kiriman dari seberang lautan akibat amukan si jago merah.
“Asap dari kebakaran di Kalimantan, Indonesia, terbawa ke arah Filipina oleh angin habagat, atau muson barat daya,” ungkap Calupig.
Ia juga memperingatkan bahwa kabut asap jahanam ini berpotensi bertahan hingga beberapa hari ke depan jika titik-titik api di Indonesia gagal dipadamkan dan pola angin tidak kunjung berubah.
Meski langit diselimuti kabut tebal, Departemen Kesehatan di Visayas Tengah (DOH-7) melaporkan bahwa hingga hari Rabu belum ada lonjakan pasien yang masuk rumah sakit akibat dampak langsung asap tersebut.
Kendati demikian, pemerintah setempat engkecualikan risiko dan tetap siaga penuh. Unit-unit kesehatan pedesaan (RHU) diinstruksikan bersiap menghadapi lonjakan kunjungan pasien.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Van Philip Baton, Kepala Divisi Pendukung Kesehatan Lokal DOH-7.
“Kami mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus asma, sehingga kita mungkin akan melihat lonjakan ini di RHU dan klinik swasta… Jadi pengingat bagi publik adalah untuk segera berkonsultasi jika mereka memiliki riwayat asma atau penyakit paru obstruktif kronis,” ujarnya.
Dr. Baton juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak nekat melakukan pengobatan mandiri (self-medication), khususnya bagi para penderita asma atau penyakit pernapasan kronis lainnya yang mulai merasakan keluhan.

Tinggalkan Balasan