DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali menargetkan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas dengan total kapasitas 1.550 megawatt (MW) hingga 2032. Penambahan pembangkit tersebut diarahkan untuk memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan Bali terhadap pasokan dari luar pulau.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan pembangunan pembangkit tersebut merupakan bagian dari visi Bali Mandiri Energi yang mengutamakan kemandirian pasokan dan penggunaan energi yang lebih bersih.

Koster mengatakan pembangkit berbahan bakar gas berkapasitas 200 MW akan mulai dibangun tahun ini. Kapasitas tersebut kemudian ditambah secara bertahap hingga mencapai 1.550 MW pada 2032.

“Saya tidak mengizinkan bahan bakar batu bara, apalagi solar,” kata Koster saat memberikan sambutan dalam acara HUT IWO Bali, Minggu (30/8/2026).

Koster mengatakan ketergantungan Bali terhadap pasokan listrik dari Jawa memiliki sejumlah risiko. Salah satunya karena sebagian pasokan listrik disalurkan melalui kabel bawah laut Jawa-Bali.

Baca juga :  PKB Ditutup Secara Resmi, Gubernur Koster Harap Seni Menjadi Media Pembentuk Kepribadian

Saat ini, ketersediaan listrik Bali mencapai sekitar 1.450 MW dengan beban puncak sekitar 1.300 MW. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.100 MW berasal dari pembangkit yang berada di Bali, sedangkan sekitar 350 MW dipasok dari Paiton, Jawa Timur, melalui kabel bawah laut Jawa-Bali.

Menurut Koster, ketergantungan terhadap pasokan eksternal perlu dikurangi untuk memperkuat ketahanan energi Bali. Kabel bawah laut, kata dia, memiliki risiko gangguan akibat kondisi alam maupun aktivitas transportasi laut.

Namun, konsep Bali Mandiri Energi tidak berarti Bali harus sepenuhnya terlepas dari sistem kelistrikan di luar pulau. Kemandirian yang dimaksud adalah memastikan pembangkit yang berada di Bali mampu menopang kebutuhan listrik daerah.

Selain kecukupan pasokan, Koster menekankan pentingnya sumber energi yang digunakan. Dari kapasitas listrik sekitar 1.450 MW saat ini, sekitar 700 MW masih bersumber dari pembangkit berbahan bakar fosil.

Baca juga :  Gubernur Siqujor Filipina Pelajari Pariwisata Bali yang Bertumpu pada Budaya

“Bali itu harus mandiri energi dan menggunakan energi bersih,” ujar Koster.

Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan pembangkit yang lebih ramah lingkungan. Selain pembangkit berbahan bakar gas, pemerintah mengembangkan sumber energi terbarukan, salah satunya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Koster mendorong penggunaan PLTS di berbagai sektor, mulai dari hotel, pusat perbelanjaan, restoran, perkantoran hingga perumahan. Pemanfaatan energi surya tersebut diharapkan memperluas diversifikasi sumber energi di Bali.

Selain energi surya, Koster menyebut energi gelombang laut berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif. Pemerintah, kata dia, tengah melakukan riset bersama sejumlah pihak untuk mengembangkan energi tersebut dengan potensi produksi sedikitnya 50 MW.

Pengembangan energi terbarukan akan melengkapi pembangkit berbahan bakar gas. Kombinasi berbagai sumber energi itu diarahkan untuk menjaga kecukupan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis batu bara.

Baca juga :  Gubernur Koster Minta MUI Jaga Harmonisasi dan Kompak Membangun Bali

Koster mengatakan kebijakan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan listrik, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, pembangunan energi di Bali harus memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan.

“Pembangkitnya juga harus bersih, di hilirnya juga harus bersih,” kata Koster.

Kebutuhan energi Bali diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata. Pemerintah pun perlu memastikan ketersediaan pasokan dalam jangka panjang.

Koster mengatakan listrik telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menopang industri pariwisata Bali. Gangguan pasokan listrik dapat berdampak pada operasional hotel, restoran, pusat perbelanjaan, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya.

Pembangunan pembangkit di Bali dan pengembangan energi terbarukan menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengarahkan sistem kelistrikan Bali menuju penggunaan energi yang lebih bersih.

Reporter: Agus Pebriana