Ngotot Lindungi Bahasa Prancis, PM Kanada Lawan Ancaman Donald Trump
OTTAWA DIKSIMERDEKA.COM Makin mendidih! Tensi politik di kawasan Amerika Utara kini berada di titik nadir yang sangat mengerikan. Perang Dagang Kanada AS akhirnya meledak menjadi benturan diplomatik terbuka usai Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, melakukan perlawanan sengit.
Secara mengejutkan, Carney dengan gagah berani menolak mentah-mentah proposal perjanjian dagang dari Amerika Serikat pada hari Senin(24/8/2026) kemarin. Pasalnya, proposal konyol tersebut secara terang-terangan berusaha menggerus keistimewaan bahasa Prancis di wilayah Quebec.
Merasa harga diri bangsanya diinjak-injak, sang Perdana Menteri pun memukul balik ancaman Presiden Donald Trump yang sebelumnya sesumbar akan memblokir ekonomi Kanada. Oleh karena itu, konflik berdarah di sektor ekonomi ini dipastikan akan memakan banyak korban dari kalangan pebisnis dalam waktu dekat!
Dilansir dari The Guardian,sebelumnya, sang Perdana Menteri memang mendapat banyak pujian dari berbagai tokoh politik karena berani menolak proposal yang mengancam pelestarian budaya Frankofon (berbahasa Prancis) tersebut.
Perang Tarif Makin Gila, Kanada Ogah Tunduk
Beberapa jam sebelumnya, Presiden AS Donald Trump justru menunjukkan sikap masa bodoh yang luar biasa. Bahkan, Trump sama sekali tidak tertarik untuk meredakan ketegangan diplomatik ini. Dia malah berkicau di media sosial dengan menuduh bahwa Kanada telah “menipu Amerika Serikat selama bertahun-tahun”.
Oleh karena itu, Trump mengancam akan menjatuhkan serangkaian tarif baru yang sangat menghancurkan kekuatan ekonomi, khususnya untuk sektor mobil dan truk. Akibatnya, Carney langsung memerintahkan tim negosiatornya untuk meninggalkan meja perundingan pada pekan lalu.
Kemudian, tarif untuk berbagai produk Kanada mulai berlaku secara efektif pada akhir pekan lalu. Kebijakan semena-mena ini otomatis menghantam sekitar 5 persen dari total ekspor Kanada ke AS. Selanjutnya, otoritas Kanada menegaskan akan membalas serangan tarif tersebut pada awal September mendatang.
Lebih lanjut, Carney langsung melakukan inspeksi ke sebuah galangan kapal bersama Perdana Menteri Quebec pada hari Senin. Di hadapan para hadirin, dia menegaskan kembali bahwa negaranya “tidak bisa menerima” usulan kesepakatan dagang yang merugikan perlindungan bahasa Prancis. Dia juga menambahkan bahwa pemerintahannya “tidak akan memberikan apa yang mereka minta”. Sontak, keputusan berani ini memicu reaksi dan deklarasi dari berbagai pengamat serta pemimpin politik. Mereka kompak menilai bahwa negara tersebut kini telah sepenuhnya terjun ke dalam Perang Dagang Kanada AS melawan sekutu lamanya sendiri.
Harga Mati Identitas Quebec di Tengah Gempuran Negosiator AS
Sementara itu, wilayah Quebec yang mayoritas penduduknya berbahasa Prancis memang selalu berusaha keras melindungi identitas unik mereka. Terkadang, provinsi ini bahkan mengeluarkan undang-undang khusus yang berbenturan dengan pemerintah federal. Dalam beberapa tahun terakhir, aturan-aturan ketat ini sukses membuat barisan negosiator AS frustrasi berat. Mereka kemudian terus-menerus menganggap aturan tersebut sebagai penghambat sistem perdagangan. Sebagai contoh, Undang-Undang 96 mewajibkan semua produk dagang di wilayah Quebec memiliki deskripsi berbahasa Prancis. Selain itu, Undang-Undang 109 memaksa raksasa layanan media seperti Netflix, Spotify, dan Apple untuk memprioritaskan konten berbahasa Prancis bagi pengguna lokal.
Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Quebec Christine Fréchette langsung pasang badan. Dia memuji keputusan Carney yang berani meninggalkan perundingan demi menjaga “garis merah” bagi kelompok masyarakat Frankofon. “Budaya kita, bahasa kita merupakan pusat dari identitas kita dan sangat penting untuk mengecualikannya dari meja perundingan,” tegasnya kepada para wartawan pada akhir pekan lalu. Dia kembali melanjutkan, “Itu adalah sesuatu yang sangat krusial bagi kami dan hal itu tidak akan berubah, meskipun kami diancam dengan berbagai tarif berbeda, hal itu tidak akan berubah. Kami akan tetap mempertahankan jati diri kami.”
Tentu saja, eskalasi ketegangan Perang Dagang Kanada AS ini berdampak langsung pada dinamika politik lokal. Hasil jajak pendapat pada awal bulan ini menunjukkan bahwa kebencian rakyat terhadap Trump mencapai rekor tertinggi di wilayah Quebec.
Di sisi lain, kelompok pro-separatis di provinsi tersebut justru mengalami penurunan dukungan yang sangat drastis di tengah luka ekonomi akibat ulah AS. Pekan lalu, politisi pro-kedaulatan Paul St-Pierre Plamondon yang paling berpeluang menang dalam pemilu provinsi mendatang, menyatakan bahwa partainya akan menunda rencana referendum pemisahan diri dari Kanada sampai Trump lengser dari jabatannya. Dia menulis bahwa penentuan nasib politik Quebec “tidak boleh dibajak oleh kekacauan politik Amerika, ledakan emosi presiden yang tidak terduga, atau oleh kampanye ketakutan”.
Sayangnya, Federasi Kamar Dagang Quebec (FCCQ) menyebut kebijakan tarif Trump ini sebagai “skenario terburuk” bagi para pelaku usaha di wilayah tersebut. “Quebec, faktanya, telah menjadi wilayah yang paling terdampak oleh tarif ini sejak awal mula perang dagang ini,” ujar Fréchette menambahkan. “Di seluruh wilayah kami, banyak bisnis terancam kehilangan kontrak. Kenyataannya, hal ini sudah dimulai.”
Reaksi Pihak AS dan Kemarahan Kolega Kanada
Sementara itu, Perwakilan Dagang utama Trump, Jamieson Greer, justru meremehkan polemik ini dengan menyebut laporan terkait perdebatan perlindungan bahasa Prancis sebagai “berita palsu yang lucu” pada hari Senin. “Hal itu tidak benar,” ucap Greer kepada CNBC. “Saya menyukai orang Quebec dan saya suka mereka berbicara bahasa Prancis.” Dia bahkan mengklaim bahwa dirinya beserta anak-anaknya juga bisa berbicara bahasa tersebut.
Greer berdalih bahwa akar masalah sebenarnya muncul ketika Kanada “memaksa” raksasa streaming AS untuk membayar sebagian keuntungan demi mendukung konten lokal Kanada. Padahal nyatanya, Kanada sudah membatalkan aturan pungutan pajak layanan digital tersebut sebelumnya. “Saya mengerti mengapa orang Quebec menginginkan konten berbahasa Prancis. Kami pikir hal itu benar-benar sangat berharga dan kami mendorong semua negara untuk benar-benar mengutamakan negara mereka sendiri dan mengutamakan identitas nasional mereka,” tutup Greer.
Namun, Carney dengan sigap langsung menolak klaim menyesatkan tersebut. Kepada wartawan, sang Perdana Menteri menegaskan bahwa situasi ini sama sekali tidak “lucu” dan terdapat “perbedaan sangat besar” dalam sudut pandang mereka.
Lebih parahnya lagi, Trump justru melipatgandakan provokasinya pada hari Senin. “Kanada telah menipu Amerika Serikat selama bertahun-tahun,” amuk Trump di media sosial. Sambil mengkritik kebijakan proteksionis Kanada, Trump menambahkan, “Tarif yang sangat tinggi dan konyol terhadap petani Amerika tidak bisa dipertahankan, dan tidak akan ada lagi!” Sang Presiden AS yang kini menghadapi tekanan domestik akibat kekacauan dagang ini, bahkan berjanji akan menaikkan tarif masuk untuk mobil, truk, suku cadang, dan baja mulai 1 Januari mendatang. “Kita tidak butuh Kanada, mereka yang butuh kita!” tulisnya menggunakan huruf kapital yang provokatif.
Sontak, langkah arogan ini memicu serangan balik yang sangat keras dari para pemimpin politik Kanada. Perdana Menteri Konservatif Ontario, Doug Ford, dengan lantang mengatakan kepada media lokal bahwa Trump bisa “mencium bokongku” (kiss my ass). “Kita harus melemparkan segalanya untuk melawannya. Dia sombong, dia congkak, dan Anda tahu, seperti kata Ronald Reagan, jika Anda membiarkan seorang perundung, apa yang akan menghentikan perundung itu untuk mengejar Anda besok dan keesokan harinya. Dan begitulah Donald Trump – dia adalah seorang perundung,” kata Ford penuh amarah. “Ya, dia akan segera menerima kenyataan pahit.” Demikianlah puncak krisis Perang Dagang Kanada AS yang kini makin brutal dan sulit dikendalikan.

Tinggalkan Balasan