Trump Siapkan “Project Freedom” di Hormuz, Kapal Terjebak Diselamatkan, Iran Diingatkan Jangan Ganggu
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGON, — Ratusan kapal dan puluhan ribu pelaut terjebak di jalur energi paling vital dunia, . Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menyiapkan misi “Project Freedom” untuk memandu mereka keluar dari Selat Hormuz.
Di tengah klaim pembicaraan “sangat positif” dengan Iran, Washington tetap memberi sinyal keras: operasi ini tidak boleh diganggu, atau konsekuensinya akan serius.
Trump menyampaikan rencana tersebut melalui media sosial pada Minggu (3/5) waktu setempat. Operasi yang diberi nama Project Freedom itu disebut sebagai langkah kemanusiaan untuk membantu kapal dan awaknya keluar dengan aman dari jalur pelayaran strategis tersebut.
“Saya telah meminta perwakilan saya untuk memberi tahu bahwa kami akan menggunakan upaya terbaik untuk membawa kapal dan awak mereka keluar dari selat dengan aman,” ujar Trump dilansir dari The Guardian.
Namun, Trump tidak merinci bagaimana lebih dari 850 kapal yang terjebak di kawasan Teluk akan dievakuasi. Sejumlah pejabat AS menyebut rencana tersebut tidak melibatkan pengawalan langsung oleh kapal perang Angkatan Laut AS, melainkan koordinasi lalu lintas pelayaran.
Pengumuman ini muncul di tengah sinyal yang saling bertentangan dari Washington. Sebelumnya, Trump sempat meragukan proposal damai Iran dan menyatakan Teheran belum “membayar harga yang cukup”.
Seorang pejabat tinggi Iran memperingatkan bahwa setiap upaya campur tangan AS di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, Iran memberlakukan blokade terhadap kapal asing di Selat Hormuz. Sebagai balasan, AS juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Kondisi ini membuat sekitar 850 kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak di kawasan tersebut. Situasi tersebut memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Trump menyatakan langkah ini juga dipengaruhi oleh permintaan sejumlah negara yang meminta bantuan AS untuk mengamankan jalur pelayaran.
“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami akan memandu kapal-kapal tersebut keluar dari perairan terbatas ini agar dapat kembali beroperasi,” kata Trump.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa setiap gangguan terhadap operasi tersebut akan ditanggapi secara tegas.
“Jika proses kemanusiaan ini diganggu, maka gangguan tersebut harus ditangani dengan kekuatan,” ujarnya.
Sementara itu, Iran menyatakan telah menerima respons dari Washington atas proposal damai 14 poin yang diajukan melalui Pakistan dan masih mempelajarinya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan proposal tersebut berfokus pada penghentian konflik dalam jangka waktu 30 hari. Ia juga menegaskan bahwa pembahasan saat ini tidak mencakup isu nuklir.
“Pada tahap ini, kami tidak memiliki negosiasi nuklir,” kata Baghaei.
Meski ada sinyal diplomasi, ketegangan tetap tinggi. Spekulasi mengenai kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran kembali mencuat, terutama untuk menekan program nuklir Teheran.
Di sisi lain, harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$120 per barel akibat terganggunya jalur distribusi energi global. Dampak ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Situasi semakin kompleks dengan kehadiran tiga kapal induk AS di Timur Tengah jumlah yang belum pernah terjadi sejak perang Irak 2003.
Perkembangan ini menunjukkan konflik Iran tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga pada perdagangan global, keamanan energi, dan stabilitas geopolitik dunia.

Tinggalkan Balasan