DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak bencana selama musim kemarau 2026. Pemetaan tersebut mencakup potensi kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, hingga kebakaran permukiman dan tempat pemrosesan akhir (TPA).

Kepala Pelaksana BPBD Bali Gede Agung Teja Busana Yadnya mengatakan kekeringan telah terjadi di sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Buleleng, Jembrana, dan Karangasem. Berdasarkan data kejadian yang tercatat pada periode 11 April hingga 23 Agustus 2026, sebanyak 529 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan.

Di Buleleng, kekeringan tercatat terjadi di Desa Sinabun dan Desa Madenan. Sementara di Jembrana, wilayah terdampak meliputi Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, Desa Pergung, Kelurahan Bale Agung, Desa Berangbang, Desa Yeh Embang Kauh, Desa Tukadaya, dan Desa Manistutu.

Baca juga :  BPBD Provinsi Bali Kembali Terima Penghargaan Penanganan Bencana Terbaik

Adapun di Karangasem, kekeringan tercatat terjadi di Desa Baturinggit, Desa Tianyar Timur, dan Desa Tianyar.

Selain kekeringan, BPBD Bali juga mencatat adanya kebutuhan penanganan krisis air bersih di sejumlah daerah. Hingga 23 Agustus 2026, distribusi air bersih telah dilakukan dengan total 521.000 liter.

Rinciannya, sebanyak 233.000 liter disalurkan di Buleleng, 285.000 liter di Jembrana, dan 30.000 liter di Karangasem.

Gede Teja mengatakan musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah kejadian tercatat di beberapa kabupaten.

Di Buleleng, kebakaran melanda wilayah Kecamatan Gerokgak dengan luas sekitar 91,52 hektare dan Kecamatan Seririt seluas lima hektare. Di Karangasem, kebakaran terjadi di Kecamatan Kubu dengan luas sekitar lima hektare yang mencakup lahan pertanian dan lahan kosong, serta dua hektare lahan kosong di Kecamatan Abang.

Baca juga :  BPBD Bali Apresiasi Aplikasi AR Agung ARmed yang Dikembangkan ITB STIKOM Bali

Kebakaran juga tercatat di Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, dengan luas sekitar 15 hektare dan dua hektare lahan kosong di Kecamatan Gunaksa. Di Jembrana, kebakaran lahan kosong terjadi di Desa Pekutatan dengan luas sekitar 1,5 hektare.

Sementara di Bangli, kebakaran hutan tercatat terjadi di Kecamatan Kintamani dengan luas sekitar 1,33 hektare.

Selain hutan dan lahan, BPBD Bali turut memantau potensi kebakaran pada gedung, permukiman, serta fasilitas pengelolaan sampah.

Ia mengatakan beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain TPST 3R Culik di Kecamatan Abang, Karangasem, yang terdampak sekitar 10 are, serta TPST 3R Tejakula di Buleleng.

Baca juga :  Hotel Bali Bersertifikat Tangguh Bencana, 24 Properti Raih SKB untuk Jaga Kepercayaan Wisatawan

“TPA Suwung di Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Sanggaran, Kecamatan Denpasar Selatan, juga masuk dalam pemantauan. Area yang terdampak kebakaran tercatat sekitar dua are,” ungkapnya.

Teja mengatakan pemetaan tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan BPBD Bali dalam menghadapi peningkatan risiko bencana selama musim kemarau.

Kondisi cuaca kering dapat meningkatkan potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan, lahan, dan fasilitas pengelolaan sampah.

BPBD Bali terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang memiliki potensi risiko serta penanganan terhadap masyarakat yang terdampak, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dan pengendalian kebakaran.

Reporter: Agus Pebriana