Demi Selamatkan PLTN, Rumania Ledakkan Sungai Danube Pakai 180 Kg Peledak
BUKARES, DIKSIMERDEKA.COM – Gelombang panas ekstrem dan kekeringan yang melanda Eropa kini memicu ancaman baru terhadap pasokan listrik. Rumania dan Hungaria terpaksa mengurangi bahkan menghentikan operasional reaktor nuklir yang bergantung pada aliran Sungai Danube setelah debit air turun ke titik terendah dalam sejarah.
Pemerintah Rumania bahkan mengambil langkah yang tidak biasa dengan melakukan peledakan terkontrol di Sungai Danube menggunakan 180 kilogram bahan peledak guna mengalihkan aliran air pendingin ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Cernavodă, satu-satunya reaktor yang masih beroperasi.
Menurut laporan harian Adevărul, ledakan tersebut menghancurkan batu besar yang menghambat aliran sungai. Air kemudian diarahkan menuju kanal pendingin reaktor nuklir melalui pembangunan bendungan sementara.
Menteri Pertahanan Rumania Radu Miruță mengatakan setiap hari tambahan operasional reaktor nuklir sangat berharga di tengah krisis energi.
“Setiap hari setelah Rabu atau Kamis reaktor masih bisa beroperasi merupakan keuntungan. Satu hari operasi nilainya tiga kali lebih besar dibanding biaya peledakan ini,” ujarnya.
Darurat Energi Nasional
Pemerintah Rumania telah menetapkan status darurat nasional sepanjang Agustus setelah produksi listrik menurun drastis akibat surutnya Sungai Danube.
PLTN Cernavodă sebelumnya harus menghentikan sebagian operasinya karena pasokan air pendingin tidak lagi mencukupi.
Para ahli menyebut peledakan itu hanya solusi sementara agar aliran air menuju reaktor tetap terjaga hingga kondisi sungai membaik.
Hungaria Bersiap Kehilangan Sumber Listrik Utama
Kondisi serupa juga terjadi di Hungaria.
PLTN Paks, pembangkit nuklir peninggalan era Soviet yang selama ini memasok hampir 50 persen kebutuhan listrik nasional, kini hanya beroperasi di bawah separuh kapasitas normal.
Perdana Menteri Hungaria Péter Magyar mengatakan pembangkit tersebut diperkirakan harus ditutup sepenuhnya pekan depan apabila permukaan Sungai Danube tidak kembali naik.
“Krisis energi dapat dimulai pekan ini. Kita membutuhkan langkah terkoordinasi dan penghematan agar dampaknya tidak semakin besar,” tulis Magyar melalui media sosial X.
Ia mengungkapkan satu turbin terakhir berkapasitas 240 megawatt masih dapat beroperasi untuk sementara sehingga penutupan total bisa sedikit ditunda.
Pemerintah juga mengajak masyarakat mengurangi konsumsi listrik secara sukarela.
Menurut Magyar, penghematan tersebut telah berhasil menurunkan beban listrik nasional hingga 700 megawatt hanya dalam sehari.
Perusahaan farmasi Richter juga mengumumkan akan memangkas konsumsi listrik lebih dari 50 persen selama tiga pekan ke depan.
Serbia Ikut Terdampak
Krisis akibat surutnya Sungai Danube juga merambah Serbia.
Pembangkit listrik tenaga air terbesar di negara itu kini hanya mampu beroperasi sekitar 20 persen dari kapasitas normal, sehingga Perdana Menteri Djuro Macut menggelar rapat darurat membahas ketahanan energi nasional.
Danube Capai Titik Terendah
Para ahli memperkirakan kondisi Sungai Danube belum akan membaik dalam beberapa pekan ke depan karena prakiraan cuaca tidak menunjukkan adanya hujan signifikan.
Danube yang melintasi 10 negara Eropa kini mengalami penurunan muka air hingga mencetak rekor terendah di sejumlah wilayah.
Surutnya sungai bahkan memunculkan berbagai temuan bersejarah, mulai dari bangkai kapal Perang Dunia II, bom peninggalan perang, hingga fosil mamut berbulu (woolly mammoth) yang ditemukan warga di dasar sungai dekat Desa Ryahovo, Bulgaria.
Para arkeolog dari Museum Sejarah Regional Kota Ruse telah diterjunkan untuk meneliti penemuan langka tersebut.
Krisis ini memperlihatkan bagaimana perubahan iklim tidak hanya mengancam sektor pertanian dan transportasi sungai, tetapi juga mulai mengguncang ketahanan energi Eropa yang bergantung pada pasokan air untuk mendinginkan reaktor nuklir.

Tinggalkan Balasan