CEUTA DIKSIMERDEKA,COM –Empat hari lalu, Youssef El Abbas melihat peluang untuk merebut kembali kehidupan yang telah hilang selama tujuh tahun.

Saat itu beredar kabar bahwa sekitar 400 orang berhasil berenang dari Maroko menuju Ceuta, wilayah kantong milik Spanyol di pesisir Afrika Utara yang hanya berjarak sekitar 19 kilometer dari daratan utama Spanyol melintasi Selat Gibraltar.

Bagi El Abbas (44), seorang ayah empat anak asal Maroko, ini menjadi kesempatan untuk kembali ke Spanyol setelah dideportasi pada 2019 karena izin tinggalnya habis menyusul kehilangan pekerjaan di Bilbao.

Ia segera naik taksi menuju kota Tetouan, di selatan Ceuta.

Dalam perjalanan, ia melihat unggahan Facebook dan laporan media yang menyebut otoritas Maroko membiarkan orang-orang melintasi sisi perbatasan mereka.

Artinya, berbeda dengan mereka yang menyeberang malam sebelumnya, El Abbas cukup berjalan melalui darat, kemudian berenang sekitar lima menit untuk memasuki wilayah Spanyol dan menghindari pos pemeriksaan perbatasan.

Saat tiba di Tetouan, ia mendapati kota itu dipenuhi ribuan orang.

“Anak-anak muda berlari di jalan-jalan, memenuhi setiap sudut kota,” katanya kepadathe Guardian. Minggu (2/8/2026),

Setelah melanjutkan perjalanan menuju Fnideq—kota yang berbatasan langsung dengan Ceuta—ia menyadari bahwa seluruh pos pemeriksaan yang biasanya mencegah warga tanpa dokumen Eropa mendekati perbatasan telah dibuka.

“Polisi Maroko berteriak kepada kami, ‘Pergi! Pergi! Lari sekarang! Masuk ke Spanyol!'” kenangnya.

“Padahal malam sebelumnya mereka memukuli orang-orang. Tapi pagi itu mereka justru membiarkan kami lewat. Tidak ada yang masuk akal.”

Namun, El Abbas memperhatikan bahwa hanya warga Maroko yang diizinkan melintas.

Sementara para migran dari Afrika Sub-Sahara justru dipukul mundur secara paksa.

Ia tiba di perbatasan pukul 14.45.

Lima belas menit kemudian, setelah berenang singkat, ia sudah berdiri di wilayah Spanyol.

Namun tidak semua orang seberuntung dirinya.

“Hanya dalam 10 menit berada di air, saya melihat empat jenazah mengambang di perairan Maroko. Orang-orang menarik tubuh mereka ke darat.”

Mereka termasuk sedikitnya 72 orang yang tewas karena tenggelam atau terinjak saat berusaha mencapai Ceuta.


Gelombang Migrasi Terbesar

El Abbas hanyalah satu dari sekitar 50.000 orang yang memasuki Ceuta pekan ini.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyebut kejadian tersebut sebagai “pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol.”

Pemerintah Spanyol menuding lonjakan migran dimanfaatkan jaringan penyelundup manusia setelah Mahkamah Agung Spanyol memutuskan bahwa migran yang dicegat di laut menuju Ceuta atau Melilla tidak lagi bisa langsung dipulangkan tanpa proses hukum.

Namun berkembang pula spekulasi bahwa Maroko sengaja melonggarkan penjagaan perbatasan sebagai bentuk ketidaksenangan atas kunjungan Sánchez ke Aljazair, negara yang mendukung kemerdekaan Sahara Barat dari Maroko.

Duta Besar Maroko untuk Spanyol, Karima Benyaich Millán, membantah tudingan tersebut.

Ia mengatakan pemerintah Maroko tidak senang dengan gelombang migrasi itu dan berharap mereka yang berada di Ceuta segera kembali.

Pemerintah Maroko juga menyalahkan organisasi kriminal sebagai penyebab membeludaknya migran.


Mimpi Bertemu Keluarga

Bagi El Abbas, kembali ke Spanyol bukan sekadar mencari pekerjaan.

Istri dan keempat anaknya masih tinggal di Bilbao.

Sejak dideportasi tujuh tahun lalu, ia hidup terpisah dari keluarganya dan hanya bekerja serabutan memperbaiki telepon genggam bersama ayahnya di Maroko.

“Saya tidak pernah berhenti bermimpi kembali.”

“Di Maroko saya memang hidup, tetapi sebenarnya saya tidak benar-benar menjalani kehidupan.”

Namun kepulangannya justru berubah menjadi pengalaman pahit.

Saat pertama kali tiba di Ceuta, seorang anggota Guardia Civil membantu menarik tubuhnya keluar dari laut.

Beberapa hari kemudian, menurut pengakuannya, aparat yang sama justru memukuli kelompok migran tempat ia berada.

“Tangan yang menarik saya keluar dari air ternyata tangan yang sama yang kemudian memukul saya.”


Terjebak di Jalanan Ceuta

Meski lebih dari 48.000 orang telah kembali ke Maroko hingga Jumat malam, ratusan migran masih bertahan di Ceuta.

Mereka tidur di taman, trotoar, dan alun-alun kota sambil berharap mendapat kesempatan menuju daratan utama Spanyol.

Namun meninggalkan Ceuta hampir mustahil.

Said (17), remaja asal Casablanca, menjadi salah satu yang masih bertahan.

Ia hanya memiliki sebotol air dan sekotak yoghurt pemberian warga setempat.

Setelah tiba di Ceuta, ia sempat dibawa ke pusat perlindungan anak tanpa pendamping.

Namun karena kapasitas penuh, ia kembali tidur di jalanan.

Menurut seorang tentara yang tidak ingin disebutkan namanya, saat ini aparat memperlakukan anak-anak migran tanpa pendamping sama seperti migran dewasa dan mengembalikan mereka ke Maroko.

Said dan teman-temannya mengaku tidak bisa membeli makanan karena banyak toko dan restoran menolak melayani mereka.


Solidaritas dan Ancaman Politik

Empat hari setelah gelombang migrasi besar terjadi, Ceuta perlahan mulai pulih.

Kafe kembali buka dan aktivitas warga mulai berjalan normal.

Banyak warga lokal membagikan air minum, roti, selimut, hingga pakaian kepada para migran.

Namun suasana solidaritas itu mulai terganggu dengan kedatangan sejumlah politisi sayap kanan dan kelompok neo-Nazi yang ingin memanfaatkan krisis kemanusiaan tersebut untuk kepentingan politik.

“Mereka ingin memanfaatkan perasaan kami agar terlihat sebagai pembela Ceuta,” kata seorang warga bernama Malika.

“Kami tidak menginginkan mereka di sini.”


Harapan Seorang Remaja

Di tengah ketidakpastian, Said tetap menyimpan mimpi sederhana.

Ia berharap mendapat tempat di pusat perlindungan, belajar bahasa Spanyol selama setahun, lalu ketika berusia 18 tahun bekerja sebagai tukang cukur.

Yang paling ia takutkan adalah hidup tanpa dokumen resmi sehingga seluruh mimpinya sirna.

“Yang saya butuhkan hanyalah sebuah kesempatan,” katanya.