PHRI Prediksi High Season Juli–Oktober Sumbang 3,5 Juta Wisman ke Bali, Target 7 Juta Dinilai Realistis
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai target Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mendatangkan 7 juta wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang 2026 masih sangat realistis untuk dicapai. Optimisme itu didasarkan pada tren kunjungan wisatawan yang terus meningkat meski dunia masih dibayangi ketidakpastian geopolitik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Januari hingga Mei 2026 jumlah wisman yang datang ke Bali 2.598.143 orang. Angka itu sebetulnya,
turun 1,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.644.879 kunjungan.
Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengatakan tren kunjungan masih cukup bagus. Ia mengatakan periode high season pada Juli hingga Oktober akan menjadi momentum utama untuk mengejar target 7 juta kunjungan.

“Melihat perkembangan situasi dan kondisi pariwisata Bali, trennya cukup bagus. Sekalipun masih ada geopolitik dan eskalasi konflik di Timur Tengah, wisatawan tetap datang dan memilih Bali sebagai destinasi terbaik. Jadi saya pikir target 7 juta itu sangat realistis dan saya optimistis bisa tercapai,” kata Suryawijaya.
Ia memperkirakan selama periode Juni hingga Oktober atau sekitar lima bulan musim liburan, Bali akan menerima tambahan kunjungan sekitar 3 juta hingga 3,5 juta wisatawan mancanegara.
“Mulai Juli, Agustus, September, Oktober hingga pertengahan Desember merupakan periode yang sangat baik. Lima bulan ini merupakan masa high season dan kami perkirakan bisa menyumbang sekitar 3 juta sampai 3,5 juta kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Optimisme tersebut juga tercermin dari tingginya tingkat hunian hotel di sejumlah kawasan wisata. Saat ini okupansi hotel di Nusa Dua dan sebagian besar wilayah Badung telah mencapai sekitar 79 persen, bahkan sejumlah hotel dilaporkan telah penuh.
Menurut Suryawijaya, tingginya okupansi hotel sejalan dengan meningkatnya arus wisatawan yang datang ke Bali pada musim liburan pertengahan tahun.
Selain kawasan Bali Selatan, ia melihat mulai terjadi pergeseran pola perjalanan wisatawan. Wisatawan kini mulai melirik destinasi di wilayah Bali Timur dan Bali Utara sehingga distribusi kunjungan menjadi lebih merata.
“Bahkan ada juga wisatawan yang melakukan cross island, melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo maupun Banyuwangi,” katanya.
Meski optimistis, PHRI mengingatkan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar tetap menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata yang aman, bersih, dan nyaman.
Menurutnya, isu kebersihan dan pengelolaan sampah menjadi perhatian serius karena belakangan kerap menjadi sorotan wisatawan di media sosial.
“Yang paling penting adalah Bali harus tetap aman, bersih, lestari, dan indah. Faktor keamanan sangat penting. Begitu juga persoalan kebersihan dan sampah harus terus dibenahi agar citra Bali tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas layanan pariwisata juga harus terus dilakukan sejalan dengan visi pembangunan pariwisata Bali yang berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat.
Selain pembenahan di dalam daerah, promosi ke pasar internasional juga terus dilakukan. Pelaku industri pariwisata bersama pemerintah akan memperkuat promosi ke sejumlah negara seperti Inggris melalui ajang World Travel Market (WTM) London, Australia, Selandia Baru, China, dan India yang dinilai sebagai pasar potensial bagi Bali.
Di sisi lain, berbagai agenda nasional maupun internasional yang digelar di kawasan Nusa Dua, Sanur, Kuta, dan Jimbaran pada semester kedua tahun ini juga diperkirakan akan menjadi pendorong tambahan bagi peningkatan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Suryawijaya berharap situasi geopolitik dunia segera membaik sehingga kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata semakin meningkat.
“Kalau situasi keamanan dunia membaik dan konflik segera berakhir, tentu akan membantu pemulihan ekonomi global. Itu juga akan berdampak positif terhadap minat masyarakat untuk berlibur ke Bali,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya mengatakan pemerintah menargetkan 7 juta kunjungan hingga akhir 2026. Target tersebut hampir setara dengan capaian tahun 2025 yang mencapai 7,05 juta kunjungan.
Untuk mencapai target kunjungan 7 juta wisman pada 2026, Pemprov Bali menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya memperkuat promosi pariwisata di pasar utama seperti Australia, India, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Eropa, dan Amerika, sekaligus membuka pasar potensial baru.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penyelenggaraan berbagai event internasional, sport tourism, meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), festival budaya, hingga pengembangan pariwisata berbasis desa wisata.
“Di samping itu, kami terus meningkatkan kualitas destinasi melalui penerapan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, termasuk penegakan tata kelola pariwisata, kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta kebijakan yang mendorong wisatawan menghormati budaya, adat istiadat, dan lingkungan Bali,” ujarnya.
Ia optimistis target kunjungan wisman tahun ini dapat tercapai dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Pariwisata Bali dibangun melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan seluruh komponen yang menjaga citra Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia,” ungkap Sumarajaya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan