DIKSIMERDEKA.COM, BOGOR — Harga kedelai impor yang terus merangkak naik kembali membuat pengrajin tahu dan tempe kelimpungan. Industri pangan rakyat itu kini terjepit dari dua arah. Di satu sisi biaya produksi melonjak, di sisi lain mereka sulit menaikkan harga karena khawatir ditinggalkan pembeli.

Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti, menilai persoalan ini bukan sekadar dampak melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Masalah utamanya, Indonesia terlalu bergantung pada kedelai impor.

“Tempe dan tahu merupakan sumber protein rakyat yang bahan bakunya hingga saat ini masih didominasi impor, sekitar 90 sampai 95 persen. Ketika dolar AS menguat atau rupiah melemah, harga kedelai impor otomatis menjadi lebih mahal meskipun harga kedelai dunia relatif tetap,” ujar Tanti.

Baca juga :  Guru Besar IPB Temukan Cara Ubah Panas Sisa Industri Jadi Listrik

Kondisi itu, lanjutnya, langsung menghantam biaya produksi para pengrajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Sayangnya, mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan usaha.

Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa kabur. Kalau harga dipertahankan, keuntungan terus menipis. Bahkan, tidak sedikit pengrajin yang akhirnya mengecilkan ukuran produk atau memangkas jumlah produksi agar tetap bisa bertahan.

“Biaya produksi naik jauh lebih cepat dibanding kemampuan UMKM menyesuaikan harga jual. Inilah yang membuat banyak pengrajin merasa terimpit,” tegasnya.

Menurut Tanti, persoalan tersebut sudah lama menghantui industri tahu dan tempe nasional. Selama Indonesia masih bergantung pada pasokan kedelai impor, gejolak kurs rupiah maupun harga global akan selalu menjadi ancaman bagi pelaku usaha.

Padahal, kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,5 hingga 2,7 juta ton per tahun. Sementara produksi dalam negeri masih jauh dari cukup dan produktivitas kedelai lokal juga belum mampu bersaing dengan negara-negara produsen utama.

Baca juga :  Bulan Menjauh dari Bumi Bikin Panik? Dosen IPB Tegaskan: Ini Proses Alamiah, Bukan Tanda Kiamat Iklim

Petani Harus Dibikin Untung

Di balik persoalan tersebut, Tanti melihat peluang untuk memperkuat produksi kedelai nasional sebenarnya masih terbuka lebar. Indonesia memiliki lahan yang memadai, pasar domestik yang besar, hingga peluang mengembangkan varietas unggul sesuai kebutuhan industri.

Namun, ia mengingatkan, pemerintah tidak cukup hanya mengajak petani menanam kedelai.

Menurutnya, petani harus diberi alasan ekonomi yang kuat agar mau beralih atau meningkatkan produksi kedelai.

“Harus ada kepastian harga, kepastian pasar, benih yang berkualitas, teknologi, sampai pendampingan kepada petani. Kalau itu dipenuhi, produksi kedelai nasional bisa meningkat,” katanya.

Baca juga :  El Nino 2026 Mengancam! IPB Ungkap Cara Murah Cegah Ledakan Hama Padi Sejak Dini

Pemerintah Diminta Jangan Tinggal Diam

Dalam jangka pendek, Tanti meminta pemerintah bergerak cepat menstabilkan harga kedelai, memperbaiki distribusi, sekaligus memperluas akses pembiayaan murah bagi UMKM melalui skema seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sementara dalam jangka panjang, pemerintah didorong membangun kemandirian kedelai nasional melalui peningkatan produksi lokal, penguatan koperasi pengrajin tahu-tempe, pengembangan riset benih unggul, hingga modernisasi industri pengolahan.

Menurutnya, ketahanan pangan tidak boleh hanya diukur dari stok beras.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal beras, tetapi juga protein rakyat seperti tahu dan tempe. Karena itu, kebijakan yang melindungi pengrajin sekaligus memperkuat produksi kedelai lokal harus terus didorong agar usaha tetap berkelanjutan dan pangan tetap terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya.