DPRD Bali Akui Masih Ada Istilah Sekolah Favorit dan Tidak Favorit
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Di tengah pelaksanaan tahapan pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali mengakui masih adanya istilah sekolah favorit dan tidak favorit di tengah masyarakat.
Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Nyoman Suwirta, mengatakan keberadaan istilah tersebut tidak terlepas dari belum meratanya kualitas pendidikan di Bali. Hal itu, menurutnya, membuat orang tua dan siswa masih berbondong-bondong memilih sekolah tertentu yang dianggap lebih unggul.
“Ini yang menjadi persoalan utama. Selama kualitas pendidikan belum merata, masyarakat akan tetap melihat ada sekolah favorit dan tidak favorit,” ujarnya.

Suwirta menjelaskan, kondisi tersebut juga berdampak pada tingginya antusiasme masyarakat untuk memasukkan anak ke sekolah tertentu, bahkan hingga memunculkan praktik titip-menitip.
Namun, ia menilai fenomena itu tidak sepenuhnya harus dipandang negatif, sebab pada dasarnya orang tua hanya ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.
Dalam upaya mengatasi ketimpangan itu, menurutnya, pemerintah perlu segera melakukan pemetaan kualitas sekolah secara menyeluruh, baik dari sisi sarana-prasarana maupun kualitas tenaga pendidik.
Dengan begitu, kesenjangan kualitas antar sekolah bisa diperkecil dan stigma sekolah favorit perlahan bisa dihapus.
“Kami sudah meminta dinas pendidikan untuk memetakan sekolah-sekolah ini. Jangan sampai ada sekolah yang terus dianggap unggulan, sementara yang lain tertinggal,” katanya.
Ia menambahkan, pemerataan kualitas pendidikan menjadi kunci penting agar pelaksanaan SPMB ke depan berjalan lebih adil dan tidak terjadi penumpukan pendaftar di sekolah-sekolah tertentu.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan