365 Hari di Orbit! China Tancap Gas Kejar Misi Pendaratan Manusia di Bulan
DIKSIMERDEKA.COM BEIJING – China berhasil meluncurkan wahana antariksa berawak Shenzhou-23 dan menambatkannya ke stasiun luar angkasa Tiangong pada Aenin dini hari, (25/6). Misi ini menjadi bagian penting dari ambisi Beijing untuk mengirim manusia ke Bulan sebelum 2030.
Roket Long March 2F lepas landas tepat pukul 23.08 waktu setempat dari Pusat Peluncuran Jiuquan di Gurun Gobi, China barat laut. Tayangan televisi pemerintah CCTV memperlihatkan roket melesat ke langit diiringi semburan api dan asap tebal.
Sekitar 10 menit setelah peluncuran, kapsul Shenzhou-23 berhasil memisahkan diri dari roket dan memasuki orbit. Badan Antariksa Berawak China (CMSA) menyatakan seluruh tahapan berlangsung sesuai rencana.
“Para astronaut berada dalam kondisi baik dan peluncuran berlangsung dengan sukses sepenuhnya,” kata CMSA.
Misi ini mencatat sejarah baru bagi China. Untuk pertama kalinya, seorang astronaut asal Hong Kong ikut terbang ke luar angkasa. Ia adalah Li Jiaying, 43 tahun, mantan anggota kepolisian Hong Kong.
Li didampingi insinyur antariksa Zhu Yangzhu, 39 tahun, serta Zhang Zhiyuan, 39 tahun, mantan pilot Angkatan Udara China yang menjalani penerbangan antariksa pertamanya.
Selama berada di Tiangong, ketiga awak akan menjalankan berbagai penelitian di bidang ilmu hayati, ilmu material, fisika fluida, dan kedokteran.
Eksperimen Kunci: Tinggal Setahun di Orbit
Salah satu agenda terpenting dalam misi Shenzhou-23 adalah eksperimen tinggal selama satu tahun penuh di stasiun luar angkasa. Ini menjadi pertama kalinya China mencoba misi berawak berdurasi sepanjang itu.
Program tersebut dipandang sebagai langkah krusial dalam persiapan misi pendaratan manusia di Bulan dan eksplorasi Mars pada masa mendatang.
CMSA menyatakan astronaut yang akan menjalani masa tinggal setahun penuh belum ditentukan. Nama awak yang dipilih akan diumumkan kemudian setelah perkembangan misi dievaluasi.
Menurut astrofisikawan dari Macquarie University, Australia, Richard de Grijs, tantangan terbesar dari misi jangka panjang bukan hanya soal teknologi, melainkan juga dampaknya terhadap tubuh manusia.
“Tantangan utama mencakup dampak jangka panjang terhadap manusia, termasuk penurunan kepadatan tulang, penyusutan massa otot, paparan radiasi, gangguan tidur, kelelahan perilaku, dan tekanan psikologis,” ujar De Grijs.
Ia juga menekankan pentingnya sistem daur ulang air dan udara yang andal, serta kemampuan menangani keadaan darurat medis ketika awak berada jauh dari Bumi.
Menurut De Grijs, China secara bertahap sedang membangun pengalaman operasional untuk mempertahankan keberadaan manusia secara berkelanjutan di stasiun Tiangong.
“Misi selama satu tahun merupakan langkah penting menuju ambisi eksplorasi Bulan dan bahkan ruang angkasa dalam yang lebih jauh. Setahun di orbit membawa manusia dan perangkat keras ke tingkat operasi yang berbeda dibandingkan misi-misi Shenzhou yang lebih pendek pada fase sebelumnya,” katanya.
Selama ini, awak Tiangong umumnya tinggal sekitar enam bulan sebelum digantikan kru berikutnya.
Berlomba dengan Amerika Serikat
Misi Shenzhou-23 menjadi bagian dari perlombaan baru menuju Bulan antara China dan Amerika Serikat. Beijing menargetkan pendaratan astronaut di permukaan Bulan sebelum 2030, sementara Washington menjalankan program Artemis untuk tujuan serupa.
Untuk mendukung target tersebut, China terus menguji berbagai teknologi baru. Pada 2026, Beijing berencana melakukan uji terbang orbital wahana generasi baru Mengzhou.
Pesawat antariksa itu akan menggantikan armada Shenzhou yang mulai menua dan diproyeksikan menjadi kendaraan utama pengangkut astronaut China menuju Bulan.
Pemerintah China juga menargetkan pembangunan tahap pertama pangkalan riset ilmiah berawak di Bulan pada 2035. Proyek tersebut diberi nama International Lunar Research Station.
Astronaut Pakistan Siap Menyusul
Selain memperluas kemampuan eksplorasi antariksa, China juga mulai membuka pintu bagi kerja sama internasional. Beijing menargetkan astronaut asing pertama dari Pakistan dapat bergabung dalam misi ke stasiun Tiangong sebelum akhir 2026.
Dalam tiga dekade terakhir, China menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mempercepat pengembangan sektor antariksa dan mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat, Rusia, serta negara-negara Eropa.
Sejumlah pencapaian penting telah diraih. Pada 2019, wahana Chang’e-4 berhasil mendarat di sisi jauh Bulan, sebuah prestasi yang belum pernah dicapai negara lain. Dua tahun kemudian, China sukses menurunkan rover penjelajah di Mars.
Percepatan program antariksa China tidak lepas dari kebijakan Amerika Serikat yang sejak 2011 melarang NASA menjalin kerja sama dengan Beijing. Kebijakan itu membuat China mengembangkan stasiun luar angkasanya sendiri, Tiangong, yang kini menjadi pusat berbagai eksperimen untuk mendukung ambisi eksplorasi Bulan dan ruang angkasa dalam.

Tinggalkan Balasan