DIKSIMERDEKA.COM MANILA — Ketegangan kembali memanas. Filipina mengungkap dugaan penggunaan sianida oleh kapal China di wilayah sengketa.

Temuan ini bukan sekadar isu biasa. Pemerintah Filipina menilai penggunaan sianida bisa menjadi bentuk sabotase yang berbahaya, baik bagi ekosistem laut maupun kepentingan militer mereka.

Seperti yang dilansir CNN, Hasil uji laboratorium memastikan bahwa botol yang disita angkatan laut Filipina di kawasan Second Thomas Shoal tahun lalu memang mengandung zat beracun tersebut.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Filipina, Cornelio Valencia, menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan hal sepele.

“Kami ingin menegaskan bahwa penggunaan sianida di Ayungin Shoal merupakan bentuk sabotase yang bertujuan membunuh populasi ikan lokal dan menghilangkan sumber makanan penting bagi personel angkatan laut,” ujarnya.

Baca juga :  AS “Melunak”? Kapal Tanker Rusia Diizinkan Masuk Kuba, Blokade Mulai Retak

Ia juga memperingatkan dampak lanjutan dari penggunaan bahan kimia berbahaya itu.

“Sianida dapat merusak terumbu karang dan pada akhirnya dapat mengancam stabilitas kapal perang tersebut,” katanya.


BalasanChina : Tidak Masuk Akal

Tuduhan itu langsung dibantah keras oleh China. Pemerintah Beijing menyebut tuduhan Filipina sebagai rekayasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pihak Filipina justru yang melakukan tindakan ilegal.

“Pihak Filipina secara ilegal mengganggu kapal nelayan China yang melakukan aktivitas penangkapan ikan normal, merampas perlengkapan hidup nelayan, dan merekayasa apa yang disebut ‘aksi sianida’ ini,” ujarnya.

Baca juga :  Trump Perluas Pengaruh di Amerika Latin, Pemilu Sejumlah Negara Jadi Sorotan

Ia bahkan menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak bisa dipercaya.“Cerita mereka sama sekali tidak memiliki kredibilitas,” tegasnya.


Sengketa Lama, Konflik Baru

Second Thomas Shoalyang oleh Filipina disebut Ayungin Shoal memang menjadi titik panas konflik.

Wilayah ini masuk dalam zona ekonomi eksklusif Filipina, namun China juga mengklaimnya dan menyebutnya sebagai Renai Reef.

Ketegangan di lokasi ini sudah berlangsung lama.

Filipina sebelumnya menuduh China mengganggu misi pengiriman logistik ke kapal militernya.

Pada Juni 2024, konflik bahkan sempat memanas hingga menyebabkan seorang pelaut Filipina kehilangan jari.

China membantah tuduhan tersebut dan justru menuding Filipina memasuki wilayahnya secara ilegal.

Baca juga :  Siapa Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

Taruhan Besar Dunia

Laut China Selatan bukan sekadar wilayah konflik biasa.Lebih dari 3 triliun dolar perdagangan global melintasi kawasan ini setiap tahun.Artinya, setiap eskalasi konflik di wilayah ini bisa berdampak langsung ke ekonomi dunia.


Putusan arbitrase internasional tahun 2016 sebenarnya telah menyatakan klaim luas China tidak memiliki dasar hukum.Namun Beijing menolak keputusan tersebut. Sejak saat itu, konflik terus berlanjut tanpa penyelesaian jelas.


Kasus sianida ini membuka babak baru ketegangan.Bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kekuasaan dan pengaruh di kawasan strategis dunia.Dan seperti yang sudah sering terjadi, Laut China Selatan kembali jadi panggung konflik yang belum menemukan akhir.