DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan depresiasi rupiah yang tengah berlangsung saat ini berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali.

“Sebagai kawasan wisata, depresiasi rupiah justru dapat mendorong lebih banyak wisatawan datang ke Bali karena biaya hidup dan pengeluaran mereka di sini menjadi lebih murah,” ujar Destry saat memberikan sambutan dalam acara serah terima jabatan Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Bali, Jumat (22/5/2026).

Menurut Destry, momentum pelemahan rupiah harus dimanfaatkan dengan baik oleh Bali, khususnya dalam memperkuat sektor-sektor berbasis pariwisata dan jasa.

Baca juga :  Deputi Gubernur Bank Indonesia Buka Bali Jagaditha 2025

Ia menilai, di tengah tekanan ekonomi global, Bali masih memiliki peluang untuk tetap tumbuh karena ditopang ekonomi domestik dan sektor pariwisata yang kuat.

“Ini menjadi pekerjaan rumah ke depan, terutama untuk melihat potensi Bali berbasis pariwisata. Tetapi tentu harus dilakukan sungguh-sungguh agar manfaatnya dapat kembali ke daerah,” katanya.

Destry menjelaskan, kondisi global saat ini tengah menghadapi tekanan akibat geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Situasi tersebut berdampak terhadap perlambatan ekonomi dunia di tengah inflasi global yang masih tinggi.

Menurutnya, konflik geopolitik memicu kenaikan harga-harga dunia serta gangguan distribusi barang sehingga menyebabkan inflasi global meningkat. Kondisi itu kemudian mendorong suku bunga global tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer.

Baca juga :  Ekonomi Bali Menuju Era Baru, Koster Tekankan Peran Strategis Bank Indonesia

Bahkan, Amerika Serikat yang sebelumnya diperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini kini justru disebut membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2027.

Karena itu, lanjut Destry, Bank Indonesia bersama otoritas keuangan lain harus menjaga stabilitas ekonomi nasional agar pertumbuhan tetap terjaga.

Ia menyebut ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 masih mampu tumbuh sebesar 5,6 persen. Sementara Bali mencatat pertumbuhan sekitar 5,58 persen atau hampir setara dengan pertumbuhan nasional.

Baca juga :  BI: Waspada Kenaikan Harga Jelang Hari Raya

“Kita bersyukur ekonomi Indonesia dan Bali masih tumbuh baik. Ini menjadi modal penting karena kita memiliki ekonomi domestik yang kuat,” ujarnya.

Destry menambahkan, pelemahan rupiah memang menjadi tantangan karena memicu tekanan terhadap nilai tukar. Namun di sisi lain, kondisi itu dapat memberikan keuntungan bagi daerah berbasis ekspor jasa seperti Bali.

Dengan biaya hidup yang relatif lebih murah bagi wisatawan asing, Bali dinilai memiliki peluang untuk menarik lebih banyak kunjungan wisatawan mancanegara dan menggerakkan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata.

Reporter: Agus Pebriana