DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN

Amerika Serikat dan Iran kembali menggelar perundingan untuk memperpanjang gencatan senjata di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, untuk memperpanjang masa damai yang akan berakhir pada 22 April. Kamis (16/4/2026).

Dilansir oleh BBC, sumber diplomatik menyebutkan, negosiasi terus berjalan dengan mediasi Pakistan yang bergerak cepat membangun komunikasi antara dua kekuatan besar tersebut.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Washington belum secara resmi meminta perpanjangan gencatan senjata. Namun, ia memastikan keterlibatan AS masih sangat aktif dalam proses negosiasi.

“Kami belum secara resmi meminta perpanjangan gencatan senjata, tetapi kami tetap sangat terlibat dalam negosiasi ini,” ujarnya.

Ia juga mengisyaratkan optimisme dari pihak AS.“Kami merasa cukup yakin terhadap peluang tercapainya kesepakatan,” tambahnya.


Diplomasi Panas di Tengah Ancaman Perang

Upaya diplomasi kini bergerak cepat. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, bahkan langsung terbang ke Teheran membawa pesan dari Washington.

Baca juga :  Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global Trump, Kekuasaan Presiden Dibatasi

Di saat yang sama, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melakukan tur ke sejumlah negara Timur Tengah untuk menggalang dukungan perdamaian.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa komunikasi antara kedua negara masih terus berlangsung meski perundingan sebelumnya gagal. “Pandangan kedua pihak kemungkinan akan dibahas secara rinci dalam pertemuan ini,” katanya.

Namun, Iran memberikan syarat keras. Mereka menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon sebelum negosiasi lanjutan dilakukan.


Israel Masih Menggempur

Masalahnya, Israel belum menunjukkan tanda-tanda mundur.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru mempertegas operasi militer. “Pasukan kami terus menyerang Hezbollah, kami akan segera menguasai Bint Jbeil,” ujarnya.

Ia bahkan memerintahkan perluasan zona keamanan di Lebanon.

Baca juga :  Selat Hormuz Memanas, Pemerintah Amankan Kapal Indonesia dan Pasokan BBM

Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel, Letjen Eyal Zamir, menyampaikan ancaman yang lebih keras.

“Saya telah memerintahkan agar seluruh wilayah Lebanon selatan hingga Sungai Litani menjadi zona pembasmian teroris Hezbollah,” katanya.


Blokade Laut Picu Ketegangan Baru

Di sisi lain, Amerika Serikat telah menerapkan blokade laut terhadap Iran.

Beberapa kapal, termasuk tanker milik China, telah dipaksa berbalik saat mencoba melewati Selat Hormuz.

Iran pun merespons dengan ancaman keras.

“Kami dapat menghentikan seluruh perdagangan di kawasan Teluk jika blokade ini tidak dihentikan,” kata Mayor Jenderal Ali Abdollahi.

Ia menegaskan: “Iran akan bertindak tegas untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.”


Tekanan Ekonomi Jadi Senjata

Tak hanya militer, AS juga memainkan tekanan ekonomi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa Washington siap meningkatkan sanksi secara besar-besaran.“Kami siap menerapkan sanksi sekunder. Ini adalah langkah yang sangat keras dan merupakan setara finansial dari operasi militer,” ujarnya.

Baca juga :  Perang Makin Panas! Israel Gempur Sipil Iran, Upaya Damai Pakistan Terancam Gagal

🌍 Dunia Menunggu Keputusan

Meski situasi masih tegang, Presiden AS Donald Trump tetap optimistis.“Saya pikir Anda akan melihat perkembangan luar biasa dalam dua hari ke depan,” katanya.

Ia bahkan menyebut perang bisa segera berakhir. “Ini bisa berakhir dengan dua cara, tetapi saya pikir kesepakatan adalah pilihan terbaik,” ujarnya.

Trump juga menambahkan bahwa jika konflik berakhir, harga minyak dunia akan langsung turun.


Saat ini, dunia berada di titik krusial.

Perundingan bisa membawa perdamaian… atau justru menjadi jeda sebelum konflik yang lebih besar. Semua mata kini tertuju pada satu hal: apakah diplomasi akan menang, atau perang kembali meledak?