Krisis Sudan Memburuk, 19 Juta Orang Terancam Kelaparan di Tengah Minimnya Bantuan
DIKSIMERDEKA.COM LONDON– Sebanyak 19 juta warga Sudan menghadapi ancaman kelaparan di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk, Rabu (16/4/2026). Bantuan internasional yang dijanjikan baru memenuhi sekitar 16 persen dari total kebutuhan.
Lebih dari Rp22,6 triliun bantuan internasional dijanjikan untuk Sudan dalam konferensi di Berlin. Angka ini bahkan melampaui target awal sekitar Rp20 triliun.
Tapi jangan senang dulu. Realitanya, kebutuhan Sudan jauh lebih besar mencapai sekitar Rp42 triliun. Dan yang sudah terkumpul? Baru sekitar 16 persen saja.
Artinya, lubangnya masih menganga lebar.
Negara Hancur, Rakyat Terlantar
Sudan bukan sekadar krisis. Ini bencana kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.Dua pertiga penduduknya—sekitar 34 juta orang butuh bantuan untuk bertahan hidup.
Perang antara militer dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sudah masuk tahun keempat. Tapi tanda-tanda damai? Nyaris nihil.Bahkan, kedua pihak yang berperang tak hadir dalam konferensi penting itu.
PBB: Ini Bukan Lagi Krisis, Ini Mimpi Buruk
Sekjen PBB António Guterres tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.“Ini adalah mimpi buruk,” tegasnya seperti yang dilansir The Guardian, Kamis(16/4/2026).
Ia juga mengungkap fakta mengerikan:“wanita dan anak perempuan diteror, kekerasan seksual terjadi secara sistematis, keluarga dan komunitas hancur.” jelasnya.
Dan yang paling menohok:“ Bantuan saja tidak bisa menggantikan perdamaian.”
Kelaparan Massal Mengintai
Lebih dari 19 juta orang kini menghadapi kelaparan akut.Bahkan, beberapa wilayah sudah berada di level “bencana” alias mendekati kondisi kelaparan massal. Dan jumlah ini diprediksi bisa melonjak hingga 23 juta orang dalam waktu dekat begitu yang dilaporkan PBB.
Bantuan Ada, Tapi Perang Terus Menyala
Inggris misalnya, menambah bantuan menjadi sekitar Rp300 miliar.
Negara-negara lain juga ikut urunan. Masalahnya: uang datang, tapi peluru tetap beterbangan.
Upaya diplomasi yang digawangi AS, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arabyang dikenal sebagai “Quad” belum menghasilkan terobosan berarti.
Di luar gedung pemeintah, ratusan demonstran turun ke jalan. Mereka marah. Mereka frustrasi.Di dalam ruangan, para pejabat bicara soal bantuan.
Di luar sana, rakyat Sudan bicara soal bertahan hidup. Ironisnya, saat konflik global lain menyedot perhatian dunia Sudan seperti terlupakan.
Padahal setiap hari, nyawa terus melayang.
Uang bisa dikumpulkan. Bantuan bisa digelontorkan. Tapi tanpa menghentikan perang, semua itu hanya tambal sulam.
Sudan hari ini adalah cermin kegagalan dunia:punya uang, tapi tak punya solusi.
Dan selama peluru masih ditembakkan…Rp22 triliun itu tak lebih dari angka di atas kertas.

Tinggalkan Balasan