DIKSIMERDEKA,COM DHAKA– Mereka kabur untuk hidup. Tapi justru mati di laut.

Sekitar 250 pengungsi Rohingya hilang setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam di Laut Andaman—sekali lagi menampar dunia yang seolah tak pernah belajar dari tragedi.

Ini bukan sekadar kecelakaan laut. Ini tragedi kemanusiaan yang berulangdan dunia seperti sudah kebal (acuh tak acuh).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) langsung angkat suara.

“Kapal tersebut dilaporkan tenggelam akibat angin kencang, laut yang ganas, dan kelebihan muatan,” ungkap UNHCR dalam pernyataan resminya seperti yang dilansir The Guardian, Rabu (15/4/2026).

Kapal itu berangkat dari Teknaf, Bangladesh selatan, menuju Malaysiajalur klasik penuh risiko yang sudah berkali-kali memakan korban.


Melarikan Diri dari Neraka, Berakhir di Lautan

Bagi etnis Rohingya, ini bukan perjalanan biasa. Ini pelarian dari penderitaan.

Baca juga :  Gelaran RCID Ke-2, RI Perkuat Kerja Sama Industri dengan Bangladesh dan Sri Lanka

Mereka adalah minoritas Muslim dari Myanmar yang selama bertahun-tahun mengalami penindasan, kekerasan, bahkan disebut sebagai korban genosida oleh PBB.

Lebih dari satu juta Rohingya kini terjebak di kamp pengungsian Cox’s Bazar, Bangladesh—hidup dalam kondisi memprihatinkan: padat, kotor, dan minim bantuan.

Tak heran, banyak yang nekat kabur.

Naik kapal seadanya. Bertaruh nyawa di laut.


Kapal Neraka: Penuh, Panas, dan Mematikan

Informasi awal menyebut kapal tersebut membawa sekitar 280 orang telahberlayar sejak 4 April.

Yang terjadi di atas kapal? Mengerikan.

Rafiqul Islam, salah satu korban selamat, membongkar kenyataan pahit:

“Kami dijejalkan di dalam kapal. Beberapa orang meninggal di sana. Saya bahkan terkena luka bakar akibat tumpahan minyak,” ujarnya.

Kapal itu berlayar selama empat hari sebelum akhirnya terbalik.

“Kami terapung hampir 36 jam sebelum akhirnya diselamatkan,” lanjutnya.

Bayangkan: tanpa makanan, tanpa air, tanpa harapan.

Baca juga :  Virus Nipah makan korban lagi: Seorang wanita Bangladesh tewas, Asia Siaga Bandara

Hanya 9 Orang Selamat, Sisanya Hilang

Penjaga Pantai Bangladesh menyebut hanya sembilan orang yang berhasil diselamatkan.

Mereka ditemukan mengapung di laut, berpegangan pada drum dan kayu.

“Kami menemukan mereka terapung di laut dalam dan berhasil menyelamatkan mereka,” kata juru bicara penjaga pantai.

Sementara ratusan lainnya? Masih hilang.

Dan kemungkinan besar… sudah tak tertolong.


Dunia Sibuk Politik, Kemanusiaan Terabaikan

Tragedi ini kembali membuka luka lama: dunia gagal melindungi Rohingya.

PBB menegaskan:

“Tragedi ini menunjukkan mahalnya harga dari pengungsian berkepanjangan dan tidak adanya solusi nyata bagi Rohingya.”

Ironisnya, saat negara-negara besar sibuk dengan konflik geopolitik—seperti ketegangan perang yang dipicu Amerika Serikat di Timur Tengah—krisis kemanusiaan seperti ini justru tenggelam dari perhatian.

Baca juga :  Krisis Sudan Memburuk, 19 Juta Orang Terancam Kelaparan di Tengah Minimnya Bantuan

Padahal, dampaknya sama mematikan.


Perjalanan Berbahaya yang Tak Pernah Berhenti

Setiap tahun, ribuan Rohingya menempuh jalur laut berbahaya menuju Malaysia, Indonesia, atau Thailand.

Mereka tahu risikonya.

Tapi bagi mereka, tetap tinggal… lebih menakutkan daripada mati di laut.


Kesimpulan: Tragedi yang Terus Terulang

Sejak 2017, lebih dari 730.000 Rohingya terusir dari Myanmar akibat operasi militer brutal yang disebut mengandung unsur genosida.

Namun hingga kini, solusi nyata belum terlihat.

Dan tragedi di Laut Andaman ini hanyalah satu dari sekian banyak.

Pertanyaannya bukan lagi: kenapa ini terjadi?
Tapi: kenapa dunia terus membiarkannya terjadi?