Trump Ancam Blokade Selat Hormuz! Dunia Terancam Krisis Energi Global
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON — Ketegangan global kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana ekstrem: memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan segera bergerak menghentikan seluruh aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Ia bahkan menyampaikan ancaman keras terhadap kapal-kapal yang terlibat.
Amerika Serikat, kata Trump, akan mulai “memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.”
Ia juga menyatakan militer AS akan “menghancurkan ranjau yang dipasang Iran di selat tersebut,” dan memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerang kapal Amerika atau kapal sipil “akan dihancurkan tanpa ampun.”katanya seperti yang dilansir The Guardian.
Trump menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk menghentikan praktik yang ia sebut sebagai pemerasan oleh Iran.
“Tidak ada pihak yang membayar tol ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” tegasnya.
Ancaman Hancurkan Infrastruktur Iran
Tidak berhenti pada blokade, Trump juga kembali melontarkan ancaman yang lebih luas.
Ia menyebut Amerika Serikat mampu melumpuhkan seluruh infrastruktur energi Iran hanya dalam waktu singkat.
“Saya bisa menghancurkan Iran dalam satu hari,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News. “Saya bisa menghancurkan seluruh energi mereka, semua pembangkit listrik mereka.”
Pernyataan ini langsung menuai reaksi keras dari komunitas internasional.
Peringatan Kejahatan Perang
Sejumlah pakar hukum internasional menilai ancaman tersebut berpotensi melanggar hukum perang.
Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnès Callamard, menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil tidak dapat dibenarkan.
“Menyerang infrastruktur sipil secara sengaja merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa fasilitas seperti pembangkit listrik dan sistem air adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat.
“Pembangkit listrik, sistem air, dan infrastruktur energi sangat penting bagi kehidupan sipil. Menyerangnya akan bersifat tidak proporsional dan melanggar hukum humaniter internasional, serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” tegasnya.
Keterlibatan Negara Lain
Trump juga mengklaim bahwa sejumlah negara akan ikut terlibat dalam operasi ini.
Ia menyebut Inggris sebagai salah satu negara yang akan mengirim kapal penyapu ranjau untuk membantu membuka jalur pelayaran.
“Sejumlah negara akan membantu kita,” kata Trump. “Saya memahami Inggris dan beberapa negara lain juga mengirim kapal penyapu ranjau.”
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Inggris terkait keterlibatan tersebut.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Selat Hormuz menjadi titik paling krusial dalam konflik ini.
Iran sebelumnya menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel.
Penutupan ini memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan krisis ekonomi.
Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa wilayah tersebut berada dalam kendali mereka.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Haji Babaei, menyatakan bahwa Selat Hormuz “sepenuhnya berada di bawah kendali Iran” dan menegaskan bahwa jalur tersebut tidak bisa dinegosiasikan.
“Iran tidak akan mundur sedikit pun dari tuntutannya,” tegasnya.
Risiko Eskalasi
Meski Trump menyatakan blokade akan segera dimulai, ia mengakui bahwa prosesnya membutuhkan waktu.
Ia menyebut operasi ini sebagai langkah besar yang memerlukan persiapan militer matang.
Namun, langkah ini juga dinilai berisiko memperbesar konflik.
Blokade terhadap jalur energi utama dunia berpotensi memicu ketegangan lebih luas, bahkan melibatkan negara-negara lain.
Rencana blokade Selat Hormuz bukan sekadar strategi militer.Ini adalah langkah yang bisa mengubah peta ekonomi global.
Jika benar dilakukan, dampaknya akan terasa langsung pada harga energi, inflasi, hingga stabilitas politik

Tinggalkan Balasan