Al-Aqsa Memanas, Massa Israel Bawa Bendera dan teriak “Kematian untuk Orang Arab”
DIKSIMERDEKA YERUSALEM– Kota Yerusalem kembali memanas. Ribuan nasionalis Israel turun ke jalan dalam pawai besar Jerusalem Day sambil meneriakkan slogan anti-Arab yang memicu ketegangan dan bentrokan di kawasan Muslim Kota Tua, Kamis (14/5/2026). Situasi makin panas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengibarkan bendera Israel di kompleks Al-Aqsa, lokasi suci yang selama ini menjadi titik sensitif konflik Israel-Palestina.
Dalam pawai yang didukung pemerintah Israel itu, sejumlah peserta terdengar meneriakkan “kematian untuk orang Arab”, “semoga desa kalian terbakar”, dan “Gaza adalah kuburan”.
Pawai tahunan yang dikenal sebagai Jerusalem Day itu dalam beberapa tahun terakhir semakin diwarnai kelompok nasionalis sayap kanan dan ekstremis Yahudi.
Ketegangan memuncak ketika Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengibarkan bendera Israel di depan kompleks Masjid Al-Aqsa, situs paling suci bagi umat Islam di Yerusalem.
Sebelum pawai dimulai, sebagian besar warga Palestina di kawasan Muslim Kota Tua menutup toko dan meninggalkan area tersebut. Namun bentrokan tetap terjadi antara kelompok nasionalis Yahudi dan warga Palestina yang masih berada di lokasi.
Kedua kelompok disebut saling melempar kursi sebelum dipisahkan aparat kepolisian Israel yang dikerahkan dalam jumlah besar.
“Saya datang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ini kota kami. Ini Tanah Suci. Tuhan memberi kami negara dan kota ini,” kata Ariel Amichai, peserta pawai berusia 19 tahun.
Ketika ditanya pesan apa yang ingin disampaikan kepada warga Palestina di Yerusalem, ia menjawab bahwa warga Palestina “harus pergi” karena Yerusalem adalah milik Israel.
Pawai tersebut diikuti peserta dari berbagai wilayah Israel dan permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki. Pemerintah kota Yerusalem dan sejumlah kementerian Israel disebut mendanai operasi besar pengamanan dan transportasi peserta.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich juga turut menghadiri pawai tersebut.
Di tengah ketegangan, kelompok aktivis Yahudi Standing Together membentuk barisan pelindung untuk menjaga warga Palestina dari potensi kekerasan politik.
Koordinator Standing Together, Suf Patishi, mengatakan sekitar 400 relawan turun ke jalan mengenakan rompi ungu khas organisasi mereka.
“Kami ingin memastikan setiap sudut kota terlindungi agar serangan terhadap warga Palestina bisa dicegah,” ujarnya.
Beberapa Yahudi ultra-Ortodoks juga ikut menentang aksi kekerasan tersebut. Seorang pria bernama David mengatakan dirinya merasa prihatin dengan perilaku sebagian komunitas Yahudi yang menurutnya mencoreng nilai agama.
“Ini penodaan terhadap nama Tuhan,” katanya.
Sementara itu di kompleks Al-Aqsa yang oleh Yahudi disebut Temple Mount, Ben-Gvir terlihat menari bersama pendukungnya sambil menyanyikan lagu bertema penguasaan Temple Mount.
Politikus sayap kanan itu selama ini mendorong perubahan status quo yang sudah berlaku selama puluhan tahun, di mana non-Muslim dilarang berdoa di area suci tersebut.
Dalam unggahan Telegram pada Kamis malam, Ben-Gvir menulis: “59 tahun setelah pembebasan Yerusalem, saya mengibarkan bendera Israel di Temple Mount dan kami bisa dengan bangga mengatakan: kami telah mengembalikan kendali atas Temple Mount.

Tinggalkan Balasan