DIKSIMERDEKA.COM TOKYO– Pemerintah tak mau lagi Proyek Abadi Masela terus menjadi proyek “abadi” karena tak kunjung selesai. Setelah hampir tiga dekade tertunda, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia langsung menekan investor Jepang agar mempercepat realisasinya.

Dalam pertemuan dengan pimpinan INPEX Corporation di Tokyo, Bahlil menegaskan proyek gas raksasa di Laut Arafura itu harus segera masuk tahap keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID).

Nilai investasinya bukan main. Proyek Abadi Masela diperkirakan mencapai USD 20 miliar atau sekitar Rp339 triliun. Pemerintah menilai proyek ini akan menjadi penggerak ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur sekaligus memperkuat pasokan gas nasional.

“Sudah 27 Tahun, Masa Mau Tunggu Lagi?”

Dalam pertemuan dengan CEO INPEX Takayuki Ueda, Bahlil menyampaikan proyek Masela harus segera melangkah ke tahap berikutnya.

Baca juga :  Selat Hormuz Ditutup, Harga BBM Terancam Melonjak: DPR Sebut Beban APBN Bisa Naik Rp10,3 Triliun

Ia menargetkan proses Front End Engineering and Design (FEED) bisa dimulai pada kuartal II 2026, atau paling lambat kuartal III tahun ini. Dengan begitu, tender Engineering Procurement Construction (EPC) bisa segera digelar.

Nada Bahlil tegas. Ia tak ingin proyek strategis ini terus berlarut-larut.

“Ini sudah 27 tahun. Masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi?” kata Bahlil.

Apalagi, kata dia, wilayah proyek Masela berada dekat dengan kampung halaman ibunya.

Negara Siap Jadi Pembeli Gas Masela

Agar proyek tidak tersendat karena masalah pasar, pemerintah bahkan menyiapkan langkah berani.

Lapangan Abadi Masela diproyeksikan memproduksi 9 juta ton LNG per tahun (9 MTPA). Jika hingga akhir April 2026 belum ada pembeli besar, pemerintah siap turun tangan.

Baca juga :  Bahlil Jamin Pasokan Batubara PLN Aman hingga April 2026

Bahlil mengatakan lembaga investasi negara Danantara bisa menjadi pembeli gas tersebut, termasuk untuk kebutuhan program hilirisasi nasional. “Kami menghargai pembeli luar negeri. Tapi sekarang negara harus hadir. Kalau perlu kami saja yang membeli,” tegasnya.

Langkah ini diharapkan memberi kepastian pasar sehingga investor tidak ragu mengambil keputusan investasi.

INPEX: Kami Juga Ingin Proyek Ini Cepat Jalan

CEO INPEX Takayuki Ueda menyambut positif dorongan pemerintah Indonesia. Ia memastikan perusahaan memiliki komitmen kuat untuk mempercepat proyek tersebut.

Menurut Ueda, proyek Masela sudah menjadi perhatian serius perusahaan selama bertahun-tahun.

“Saya sendiri sudah 12 tahun mengerjakan proyek Abadi ini. Kami punya komitmen yang sama untuk mempercepat realisasinya,” ujar Ueda.

Perizinan Beres, Jalan Mulai Terbuka

Dari sisi administrasi, proyek ini juga makin siap berjalan. Beberapa izin penting sudah dikantongi pada awal 2026.

Baca juga :  Usai Lapor Prabowo, Bahlil Siap Sikat Izin Tambang Nakal! Ratusan IUP Terancam Dicabut

Di antaranya:

  • Persetujuan AMDAL terbit pada 13 Februari 2026
  • Persetujuan pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan pada Januari 2026

Dengan izin strategis tersebut, pemerintah berharap proses pembangunan proyek bisa dipacu lebih cepat.

Masela Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Pemerintah melihat Proyek Abadi Masela sebagai salah satu proyek energi paling strategis Indonesia. Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek ini juga diharapkan membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.

Jika target percepatan berjalan sesuai rencana, proyek yang selama ini hanya menjadi wacana panjang itu akan berubah menjadi mesin ekonomi baru di Laut Arafura.