Selat Hormuz Ditutup, Harga BBM Terancam Melonjak: DPR Sebut Beban APBN Bisa Naik Rp10,3 Triliun
DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan dan energi global. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, mengingatkan pemerintah agar segera mengantisipasi dampak ekonomi bagi Indonesia.
Menurut Mantan Wakil Gubernur Lampung ini , Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan internasional yang menjadi pintu keluar-masuk utama minyak dan komoditas dari kawasan Teluk. Gangguan pada jalur ini tidak hanya berdampak pada distribusi energi global, tetapi juga dapat meningkatkan biaya perdagangan dan logistik.
“Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global. Gangguan di jalur ini akan memengaruhi perdagangan internasional,” ujar Chusnunia dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Harga Minyak Naik, Beban APBN Bisa Membengkak
Chusnunia menilai penutupan jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia. Dampaknya bisa langsung terasa pada ekonomi nasional.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel di atas asumsi pemerintah dapat menambah beban negara sekitar Rp10,3 triliun.
Kenaikan harga energi juga berisiko meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor seperti transportasi, manufaktur, hingga pertanian. Efek berantai ini pada akhirnya bisa mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Pariwisata hingga Logistik Terancam
Selain energi, sektor pariwisata juga diprediksi terdampak. Lonjakan harga bahan bakar dapat meningkatkan harga tiket pesawat dan biaya operasional perjalanan.
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Bagi dunia usaha, situasi ini juga bisa memicu peningkatan biaya logistik dan distribusi.
“Gangguan pasokan energi dan logistik dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi dan menghambat pertumbuhan ekonomi,” kata Chusnunia.
20,1 Juta Barel Minyak Lewati Selat Hormuz
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi dampak penutupan Selat Hormuz.
Menurutnya, jalur tersebut setiap hari dilewati sekitar 20,1 juta barel minyak yang menjadi bagian penting dari distribusi energi global.
“Sekarang Selat Hormuz ditutup akibat perang Israel, Amerika, dan Iran. Ini berdampak pada energi global,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Impor Minyak RI Dialihkan ke Amerika
Bahlil menjelaskan sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah, yang sebagian besar distribusinya melewati Selat Hormuz.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat serta negara lain seperti Afrika dan Brasil.
“Ini tidak bisa diramal kapan selesai. Kami mengambil skenario terburuk dengan mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika agar ada kepastian pasokan,” katanya.
Momentum Percepat Transformasi Energi
Meski berpotensi menekan ekonomi, Chusnunia menilai situasi ini juga bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi energi.
Ia mendorong pemerintah dan dunia usaha melakukan diversifikasi sumber energi, meningkatkan efisiensi energi, serta mengembangkan industri substitusi impor agar ketergantungan terhadap energi impor dapat dikurangi.
“Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang mendukung dunia usaha untuk melakukan diversifikasi energi dan memperkuat kemandirian ekonomi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan