120 Juta Motor Akan Dikonversi Listrik dalam 4 Tahun
DIKSIMERDEKA.COM,JAKARTA – Pemerintah tancap gas mempercepat transisi energi bersih. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mempercepat implementasi energi baru terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sekolah dan desa-desa di seluruh Indonesia.
Instruksi tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam rapat terbatas di Istana Negara yang membahas percepatan implementasi energi bersih.
“Kami baru selesai rapat terbatas dengan Bapak Presiden yang membahas implementasi energi bersih dan terbarukan, termasuk program 100 gigawatt PLTS,” kata Bahlil di Istana Negara, Kamis lalu (6/3).
Satgas Transisi Energi Dibentuk
Untuk mempercepat realisasi program tersebut, Presiden Prabowo membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi dan menunjuk Bahlil sebagai ketua.
Satgas ini bertugas mendorong implementasi energi terbarukan sekaligus menekan beban subsidi energi yang selama ini cukup besar.
Menurut Bahlil, konversi pembangkit listrik berbasis diesel ke PLTS akan membantu pemerintah menghemat subsidi listrik sekaligus mempercepat penggunaan kendaraan listrik.
“Dengan konversi dari PLTD ke PLTS, kita bisa melakukan efisiensi subsidi listrik sekaligus mendorong percepatan penggunaan motor dan mobil listrik,” ujarnya.
PLTS untuk Desa Terpencil
Kementerian ESDM juga menargetkan pembangunan PLTS untuk memperluas akses listrik di daerah terpencil, terutama di pulau-pulau kecil yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik.
Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi nasional sekaligus mempercepat penggunaan energi ramah lingkungan.
120 Juta Motor Akan Dikonversi
Selain pembangunan PLTS, Presiden Prabowo juga meminta percepatan program konversi kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik.
Pemerintah menargetkan sekitar 120 juta sepeda motor akan dikonversi menjadi motor listrik dalam waktu 3–4 tahun ke depan.
“Bapak Presiden ingin implementasinya dilakukan secepat mungkin, maksimal dalam 3 sampai 4 tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat,” kata Bahlil.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga menekan konsumsi bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi nasional.

Tinggalkan Balasan