DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Sekretaris Jenderal (Sekjend) Ferri Nuzarli resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) Partai Buruh Bali di Sanur, Selasa (24/02/2026). Musda kali ini menjadi ajang konsolidasi kekuatan, evaluasi perjuangan, serta penegasan arah politik partai ke depan.

Dalam arahanya kepada kader partai di Bali, Ferri Nuzarli, menegaskan bahwa tantangan politik ke depan semakin berat, seiring masih kuatnya dominasi oligarki ekonomi dalam memengaruhi kebijakan publik.

Sementara itu, buruh, pekerja formal, petani, nelayan, dan rakyat kecil masih dihadapkan pada ketidakpastian kerja, upah murah, serta jaminan sosial yang belum optimal.

Baca juga :  Usai Lolos Peserta Pemilu, Partai Buruh Gencarkan Konsolidasi

Menurut Ferri, Bali memiliki tantangan yang khas karena struktur ekonominya sangat bergantung pada sektor pariwisata. Ketergantungan tersebut membuat banyak jenis pekerjaan di Bali rentan terdampak krisis global, sehingga dibutuhkan kekuatan politik yang benar-benar berpihak pada pekerja.

“Partai Buruh harus hadir sebagai kekuatan politik yang memperjuangkan kepastian kerja, upah layak, perlindungan tenaga kerja, serta pembangunan ekonomi yang berpihak pada rakyat Bali,” tegasnya.

Ia menyebutkan, ada tiga langkah penting yang harus dilakukan Partai Buruh ke depan. Pertama, konsolidasi yang solid di tingkat kota, kabupaten, hingga basis-basis perusahaan.

Baca juga :  Usai Lolos Peserta Pemilu, Partai Buruh Gencarkan Konsolidasi

Kedua, penyusunan program kerja yang konkret dan menyentuh kebutuhan riil pekerja serta masyarakat Bali. Ketiga, strategi politik yang terukur dan realistis untuk menghadapi polarisasi ekonomi dan politik ke depan.

Ferri menekankan bahwa Partai Buruh tidak boleh berhenti sebagai partai papan nama, melainkan harus tumbuh menjadi partai kader, partai gerakan, dan partai yang hidup serta menyatu dengan rakyat.

Baca juga :  Usai Lolos Peserta Pemilu, Partai Buruh Gencarkan Konsolidasi

Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara kerja partai dengan gerakan buruh dan organisasi rakyat lainnya.

“Partai Buruh dibangun bukan untuk kepentingan elit, tetapi sebagai alat perjuangan kelas pekerja,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong agar struktur dan badan Partai Buruh di Bali menjadi contoh integritas, militansi, dan kemandirian.

Momentum Musda ini, kata dia, harus dijadikan titik tolak untuk memperkuat barisan, menyusun agenda kolektif yang progresif, serta memastikan Partai Buruh Bali tampil sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan.

Reporter: Agus Pebriana