DIKSIMERDEKA.COM, WASHINGTON-Militer Amerika Serikat dilaporkan memakai AI Claude buatan perusahaan Anthropic dalam operasi rahasia untuk menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Laporan ini pertama kali diungkap Wall Street Journal dan langsung bikin geger karena menandai penggunaan AI canggih dalam misi militer nyata.begitulaporan yang dilansir Reuters.

Menurut sumber yang dikutip laporan tersebut, Claude dipakai lewat kerja sama Anthropic dengan perusahaan analitik data Palantir Technologies, kontraktor langganan Departemen Pertahanan AS dan aparat penegak hukum federal.

Operasi militer itu disebut melibatkan serangan di Caracas dan berujung penangkapan Maduro, yang kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba.

Baca juga :  Trump Janji Buka File UFO Pentagon, Obama Ikut Diseret

AI Dipakai Meski Dilarang Untuk Kekerasan

Ironisnya, aturan resmi Anthropic justru melarang penggunaan Claude untuk kekerasan, pengembangan senjata, maupun pengawasan.

Juru bicara Anthropic tidak membenarkan maupun membantah keterlibatan AI mereka dalam operasi tersebut. Ia hanya menegaskan:“Setiap penggunaan Claude baik di sektor swasta maupun pemerintahharus mematuhi kebijakan penggunaan kami yang mengatur bagaimana Claude boleh dipakai.”

Baca juga :  🚨 Update: Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain

Sementara itu, Pentagon, Gedung Putih, Palantir, dan Anthropic sama-sama belum memberi komentar resmi soal klaim penggunaan AI dalam operasi tersebut.


Untuk Pertama Kalinya AI Dipakai Untuk Misi Militer Rahasia

Jika laporan itu benar, ini jadi kasus pertama yang diketahui publik di mana model AI besar digunakan dalam operasi militer rahasia pemerintah AS.

Peristiwa ini sekaligus menunjukkan tren baru: militer dunia semakin mengandalkan AI untuk analisis intelijen, perencanaan strategi, hingga penentuan target serangan.


TEGANG: Pentagon VS Perusahaan AI

Bos Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya sudah memperingatkan perlunya regulasi ketat agar AI tidak disalahgunakan untuk operasi mematikan atau pengawasan massal.

Baca juga :  El Mencho Tewas Ditembak Pasukan Khusus,8 Negara Bagian Meksiko Rusuh, AS Akui Bantu Intelijen

Sikap hati-hati itu kabarnya bikin sebagian pejabat Pentagon kesal. Bahkan, Departemen Pertahanan dilaporkan ingin memakai model AI yang “tidak membatasi kemampuan perang.

Skandal ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal masa depan perang.
Jika benar AI sudah ikut menentukan strategi penangkapan pemimpin negara, dunia bisa memasuki era baru: perang dipandu algoritma, peluru dikawal kecerdasan buatan.