DIKSIMERDEKA.COM-BOGOR-Kangkung memang populer di meja makan masyarakat. Namun, sayuran hijau ini nyaris tak pernah muncul di menu pasien rumah sakit. Ternyata alasannya bukan sekadar isu kontaminasi.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Hana Fitria Navratilova, menjelaskan pemilihan menu di fasilitas kesehatan dilakukan sangat selektif demi keamanan pangan dan kesesuaian gizi untuk berbagai kondisi klinis pasien.

Baca juga :  Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Akademisi IPB Bongkar Faktanya

“Secara umum sayuran berdaun memang jarang disajikan pada menu rumah sakit karena selain alasan praktis seperti penyimpanan dan pengolahan, juga sayuran berdaun cenderung tinggi purin,” ujarnya.

Menurutnya, selain purin, kandungan oksalat dan nitrat pada sayuran berdaun juga menjadi pertimbangan pembatasan konsumsi bagi pasien rawat inap. Artinya, bukan hanya kangkung—hampir semua sayuran berdaun menghadapi kendala serupa.

Dr Hana menegaskan, alasan utamanya bukan semata-mata kontaminan. “Jadi bukan alasan kontaminan,” tegasnya.

Baca juga :  Guru Besar IPB Temukan Cara Ubah Panas Sisa Industri Jadi Listrik

Ia menjelaskan, logam berat memang berbahaya bila dikonsumsi melebihi batas aman dalam jangka panjang karena bisa memicu gangguan ginjal, hati, bahkan kanker. Namun kontaminasi tidak hanya terjadi pada kangkung, melainkan juga bisa berasal dari beras maupun seafood.

Di sisi lain, faktor praktis juga menjadi pertimbangan. Sayuran berdaun harus segera diolah setelah diterima karena tidak tahan lama. Selain itu, volumenya menyusut signifikan setelah dimasak sehingga kurang ideal untuk penyajian massal di rumah sakit.

Baca juga :  El Nino 2026 Mengancam! IPB Ungkap Cara Murah Cegah Ledakan Hama Padi Sejak Dini

Karena itu, standar diet rumah sakit cenderung memilih jenis sayur yang aman bagi mayoritas pasien dan lebih mudah dikelola. Kangkung tetap sehat bila berasal dari sumber terkontrol dan lolos uji keamanan, tetapi dalam konteks diet klinis, pertimbangannya jauh lebih kompleks.