Studi UI Ungkap Alasan Ilmiah Orang Tetap Doyan Pinjol Meski Tinggi Risikonya
DIKSIMERDEKA.COM, DEPOK-Fenomena investasi ilegal dan pinjaman online (pinjol) di Indonesia kian menggila. Data mencatat, kerugian investasi bodong sejak 2017 menembus Rp 140 triliun, sementara pinjol menyumbang Rp 120 triliun hanya pada 2023. Totalnya? Rp 260 triliun melayang. Angka jumbo ini menjadi alarm keras bagi stabilitas ekonomi dan kesehatan mental masyarakat.
Rp 260 triliun raib ini diperkuat riset akademik. Mahasiswa program doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Miriam Rustam, membedah mekanisme psikologis di balik keputusan keuangan super nekat tersebut.
Dalam sidang promosi doktornya di Depok, 10 Februari 2026, Miriam memaparkan disertasi berjudul “Peran Paralel Emosi Antisipatif dan Emosi yang Diantisipasi dalam Perilaku Keuangan Berisiko dengan Tingkat Konstrual Sebagai Moderator”. Ia memperkenalkan konsep Kerangka Emosi Integral Paralel (KEIP) untuk menjelaskan kenapa orang tetap nekat ambil risiko meski bahaya sudah di depan mata.
Lewat penelitian terhadap lebih dari 900 responden, Miriam menemukan dua jenis emosi bekerja bersamaan ketika seseorang menghadapi tawaran keuangan berisiko.
Pertama, emosi antisipatif—perasaan spontan yang muncul saat melihat peluang, seperti rasa antusias ketika ditawari keuntungan besar. Kedua, emosi yang diantisipasi—bayangan perasaan di masa depan, misalnya membayangkan bahagia saat investasi sukses.
Masalahnya, intensi mengambil risiko melonjak tajam ketika informasi disajikan secara abstrak dan dibungkus narasi keuntungan. Fokus pada “modal usaha”, “cuan cepat”, atau “untung besar” membuat orang larut dalam imajinasi sukses. Risiko kegagalan pun tersingkir dari radar pikiran.
Dalam kondisi seperti itu, pertahanan psikologis melemah. Orang tak lagi berpikir detail soal skema pembayaran, bunga mencekik, atau ancaman gagal bayar.
“Jika masyarakat hanya diberikan janji kesuksesan yang bombastis, maka pertahanan psikologis mereka akan melemah,” ungkap Miriam.
Karena itu, ia mendorong literasi keuangan tak berhenti pada hitung-hitungan angka. Edukasi harus menyentuh pengelolaan emosi dan cara menyajikan informasi secara konkret. Masyarakat perlu dilatih mengenali dorongan emosi instan sebelum memutuskan. Di sisi lain, informasi risiko harus disajikan detail—termasuk konsekuensi gagal bayar dan beban bunga riil.
Disertasi Miriam dipromotori Prof. Bagus Takwin, M. Hum., Psikolog, dengan kopromotor Agnes Nauli Shirley W. Sianipar, S. Psi., M.Sc., Ph.D.
Lewat riset ini, Miriam berharap publik makin waspada terhadap jebakan investasi bodong dan pinjol ilegal. Sebab, di balik janji manis keuntungan, ada mekanisme emosi yang diam-diam mendorong orang melompat ke jurang risiko.

Tinggalkan Balasan