DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras di Provinsi Bali sepanjang Januari hingga Desember 2025 sebesar 331 ribu ton. Produksi ini mengalami penurunan sebesar 26 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 358 ribu ton.

Penurunan produksi beras ini sejalan dengan luasan panen padi dan produksi padi yang juga mengalami penurunan.

Fungsional Ahli Madya BPS Provinsi Bali Made Agus Adnyana mengatakan penurunan produksi beras di pulau dewata sejalan dengan menurunya produksi padi.

Baca juga :  Inflasi Desember 2023 di Denpasar Lebih Rendah dari Tahun Lalu

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BPS mencatat produksi padi mencapai 695 ribu ton. Produksi itu turun sebanyak 56 ribu ton dibandingkan 2024 yang sebesar 751 ribu ton.

Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi tertinggi pada 2025 adalah Kabupaten Tabanan, Gianyar, dan Badung.

“Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi (GKG) terendah yaitu Kota Denpasar, Kabupaten Bangli, dan Kabupaten Klungkung,” terangnya dalam Konfrensi Pers BPS Bali, Selasa (02/02/2026).

Baca juga :  BPS Catat Inflasi Bali Capai 1,61 Persen Maret 2025, Disumbang Tarif Listrik

Made Agus Adnyana mengatakan penurunan produksi padi terjadi di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Bali, kecuali Kabupaten Jembrana yang justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2025 terjadi di Gianyar dan Buleleng yang merupakan sentra produksi padi.

Dari sisi luas panen, sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 96.444 hektare, atau mengalami penurunan sebesar 7.360 hektare (7,09 persen) dibandingkan 2024 yang sebesar 103.804 hektare.

Puncak panen padi pada tahun 2025 terjadi pada bulan Mei dengan luas panen mencapai 14.122 hektare. Namun demikian, puncak panen pada Mei 2025 relatif lebih rendah atau turun sekitar 2.379 hektare (14,42 persen) dibandingkan Mei 2024.

Baca juga :  Triwulan II 2021, Pertumbuhan Ekonomi Bali Positif

Adapun BPS memperkirakan potensi produksi beras pada Januari−Maret 2026 diperkirakan mencapai sekitar 56 ribu ton, atau mengalami penurunan sekitar 12 ribu ton (17,48 persen) dibandingkan produksi beras pada Januari−Maret 2025 yang sebesar 68 ribu ton.

Reporter: Agus Pebriana