DIKSIMERDEKA.COM BERLIN Eropa sedang tidak baik-baik saja. Demonstrasi besar-besaran memprotes himpitan krisis biaya hidup yang awalnya meledak di Prancis,Protes Eropa kini resmi menular ke negara tetangganya, Jerman. Bertepatan dengan momen perayaan Halloween pada hari Sabtu lalu, puluhan ribu massa membanjiri jalanan di berbagai penjuru Jerman, menandai babak baru eskalasi protes di daratan Eropa.

‘GenZ Jerman Turun Tangan’: Lawan Biaya Hidup Selangit Hingga Isu Wajib Militer

Di Jerman, motor penggerak aksi ini adalah kelompok pemuda. Mengusung bendera gerakan baru bernama “Gen Z regelt” (Gen Z Turun Tangan!), mereka menuntut keadilan atas tingginya biaya hidup, bobroknya pendanaan sekolah dan kampus, isu lingkungan, hingga penolakan keras terhadap wacana penerapan kembali wajib militer. Protes massa ini melumpuhkan sejumlah kota vital, mulai dari Berlin, Frankfurt, Cologne, hingga Munich.

Menurut klaim panitia penyelenggara, sekitar 120.000 orang tumpah ruah di seluruh Jerman. “Kami adalah anak muda yang tidak mau lagi hanya menonton keputusan tentang masa depan kami dibuat tanpa melibatkan kami,” tulis gerakan tersebut dalam manifesto di situs web mereka.

Meski panitia mewajibkan peserta berunjuk rasa dengan damai dan tidak menutupi wajah—sekalipun memakai kostum Halloween—gesekan di lapangan tak terhindarkan. Di ibu kota Berlin, aksi berjalan kondusif, namun aparat sampai harus menerjunkan polisi antihuru-hara dan menyemprotkan meriam air (water cannon) di Cologne dan Hamburg.

Baca juga :  Duterte Tolak Hadiri Sidang ICC: Eks Presiden Filipina Terancam Diadili atas Kasus 30 Ribu Korban Perang Narkoba

Kepolisian Cologne berdalih, meriam air terpaksa ditembakkan lantaran demonstran mulai menyalakan kembang api di tengah barisan. “Tindakan kami diarahkan pada pembuat onar dan pelaku kekerasan – bukan terhadap peserta yang damai,” tegas pihak kepolisian dalam pernyataan resminya.

Kondisi lebih mencekam terjadi di Hamburg. Polisi antihuru-hara merangsek maju setelah massa membakar barikade dan menyerang petugas medis. Sementara itu di Frankfurt, bom molotov beterbangan menyasar petugas, disusul perusakan jendela pertokoan yang berujung pada penutupan kawasan elite Zeil. Aparat bahkan menangkap satu tersangka dan menyita dua pucuk senjata usai etalase sebuah toko senjata api dihancurkan massa. Sebagai langkah antisipasi, butik-butik mewah di sepanjang jalan mentereng Kurfürstendamm, Berlin, terpaksa memaku papan kayu untuk melindungi kaca etalase mereka.

Prancis Masih Membara: 320 Ribu Massa Mengepung Kota

Kebangkitan Gen Z di Jerman ini bak menyiram bensin ke dalam kobaran api yang sudah lebih dulu menyala di Prancis. Negara yang dipimpin Emmanuel Macron itu kembali diwarnai aksi unjuk rasa dari gerakan ‘Rompi Kuning’ (Yellow Vests) yang memasuki jilid ketiga, menyusul gelombang demonstrasi pada 17 dan 24 Oktober lalu.

Baca juga :  Milan Mencekam! 500 Tentara Turun Gunung, Butik Mewah Tutup Massal Dihantam Badai Penjarahan

Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat, 320.000 orang turun ke jalan secara serentak di berbagai wilayah, dengan 70.000 di antaranya mengepung Paris. Angka ini memang menyusut dibanding 550.000 pendemo pada 17 Oktober, namun daya rusaknya tetap diwaspadai. Hingga pukul 18.00 waktu setempat, aparat telah mencokok 296 orang.

Membaca tingginya “risiko kekacauan publik”, Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengambil langkah tangan besi. Ia melarang keras demonstrasi di area pusat kota dan mengerahkan 70.000 personel keamanan tambahan di seluruh negeri.

Kementerian Dalam Negeri menyebut aksi sebagian besar berjalan damai, kecuali ulah “elemen-elemen radikal di barisan belakang” yang mencoba merangsek masuk ke pusat kota Bordeaux, Toulouse, Rennes, Lille, Nantes, Marseille, dan Lyon dengan “niat membuat kerusakan dan penjarahan.”

Kegeraman memuncak di kalangan politisi. Jordan Bardella, pemimpin partai sayap kanan National Rally, mencuit keras di X: “Siapa pun yang melemparkan ‘alat pembakar rakitan’ ke arah penegak hukum harus dihukum sangat berat… para pelaku harus membusuk di penjara selama bertahun-tahun.”

Kekerasan memang menjadi momok dalam protes di Prancis. Data kementerian mencatat, sedikitnya 1.193 petugas kepolisian terluka sejak protes pecah bulan lalu.

Teror Malam Halloween: Ancaman ‘The Purge’ dan Denda Ratusan Juta

Situasi makin runyam dengan hadirnya perayaan Halloween. Menteri Nuñez memperingatkan adanya seruan terselubung untuk menggelar aksi di atas pukul 20.00 oleh “kelompok radikal sayap kiri dan Rompi Kuning yang teradikalisasi”. Seruan itu secara terang-terangan membajak momen Halloween untuk mengobarkan “revolusi” dan “pemberontakan”.

Baca juga :  Tragedi Latihan Tempur Berujung Maut: Api Mengamuk di Markas Militer Kanada, 4 Tentara Tewas Terpanggang

Lebih gila lagi, kata “Purge” mendadak trending di media sosial Prancis—merujuk pada film fiksi Hollywood tentang satu malam di mana semua bentuk kejahatan dilegalkan secara bebas.

Tak mau kecolongan, Kepolisian Paris langsung menyebar ancaman keras lewat X: “Pada perayaan Halloween, aturan tetap sama!” Polisi mengingatkan bahwa menyembunyikan wajah di tempat umum akan diganjar denda €150 atau setara Rp3.081.615. Lebih dari itu, membawa senjata, meski hanya senjata mainan atau palsu, bisa menyeret pelakunya ke bui maksimal 3 tahun ditambah denda mencekik sebesar €45.000 (sekitar Rp913,5 juta).

Sebagai pengingat, bara protes di Prancis ini awalnya hanya dipelopori oleh anak-anak SMA pada akhir September lalu, yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah, krisis kekurangan guru, hingga bobroknya sistem penerimaan mahasiswa baru. Siapa sangka, tuntutan pelajar ini berevolusi menjadi bola salju raksasa yang menggandeng kelompok Rompi Kuning—yang murka atas melambungnya harga bahan bakar—dan kini memantik krisis keamanan sosial terbesar di Eropa.