DIKSIMERDEKA.COM MILAN Kota mode dunia lumpuh dihajar amuk massa. Pemerintah Italia sampai harus mengerahkan 500 tentara militer untuk “mempertahankan Milan” menyusul kerusuhan brutal selama dua hari berturut-turut. Demonstrasi yang dipicu bobroknya pelayanan publik dan meroketnya biaya hidup ini berujung pada bentrokan dengan polisi, penjarahan toko, hingga vandalisme yang tak terkendali.

Pengerahan ratusan tentara ini masuk dalam paket darurat keamanan yang dijadwalkan cair pada rapat kabinet Selasa ini. Akibat teror kerusuhan ini, toko-toko di pusat kota Milan terpaksa tutup lebih awal dan memaku jendela mereka dengan papan kayu, ngeri akan adanya serangan susulan di jantung finansial Italia tersebut.

“Dari kata-kata ke tindakan: 500 tentara tambahan untuk mempertahankan Milan,” tegas Wakil Perdana Menteri Italia yang juga ketua partai sayap kanan League, Matteo Salvini, melalui media sosialnya pada Senin (19/10/2026).

Etalase Kosong di Surga Belanja Dunia, Merek Raksasa Kocar-kacir

Pemandangan di distrik perbelanjaan mewah Via Montenapoleone kini lebih mirip zona perang ketimbang surga belanja. Sebagian besar toko yang menaungi merek sultan seperti Chanel, Tiffany, dan Dior buru-buru mengosongkan barang dagangan dari etalase mereka sebagai langkah pencegahan. Polisi bersenjata tampak mondar-mandir berpatroli, ditonton segelintir turis yang kebingungan.

Baca juga :  “Ambil Sendiri Minyakmu!” Donal Trump Ngamuk Ke Negara Eropa Yang Ogah Bantu AS Melawan Iran

Amuk massa ini digerakkan oleh ratusan demonstran yang mayoritas diyakini masih di bawah umur. Mereka membakar tempat sampah dan menjarah pusat kota sepanjang akhir pekan. Padahal, pada hari Sabtu, demonstrasi memprotes krisis biaya hidup ini awalnya berjalan damai.

Deretan toko tak luput dari kebringasan massa. Ritel olahraga Decathlon dan Arc’teryx, hingga gerai operator seluler Vodafone hancur dijarah, seperti yang terekam dalam tayangan televisi. Tak mau ambil risiko, merek pakaian Levi’s, Under Armour, dan Decathlon langsung menutupi kaca etalase mereka dengan kardus dan panel kayu tebal.

Baca juga :  Atletico Madrid Singkirkan Barcelona! Simeone: ‘Indah Rasanya Jadi 4 Besar Eropa’

Anak Muda Mengamuk, Pemerintah Kebut Aturan Hukum

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang tengah bersiap menghadapi pemilu nasional tahun depan, mengutuk keras aksi kekerasan ini. Ia langsung menggelar rapat darurat dengan para menteri dan petinggi keamanan pada Senin.

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri, Antonio Tajani, tak kalah geram. “Pemerintah akan merespons dengan tegas serangan terhadap negara ini, termasuk melalui langkah-langkah yang bertujuan menekan kekerasan oleh anak di bawah umur,” tulis Tajani di platform X.

Menurut laporan surat kabar Corriere della Sera, Meloni tengah mematangkan rencana “pukulan keras”. Rencana ini mencakup perpanjangan masa penahanan preventif bagi anak di bawah umur, penindakan tegas terhadap geng remaja, serta mempercepat pengesahan sejumlah pasal dalam RUU Keamanan yang saat ini masih mandek di parlemen.

Data dari kepolisian Italia mengungkap realita pahit: 271 anak muda sempat ditahan selama kerusuhan Milan pada hari Minggu. Dari jumlah tersebut, 32 orang resmi ditangkap, yang mana 23 di antaranya masih di bawah umur dan 13 lainnya adalah warga negara asing. Sebanyak 28 orang lainnya telah dilaporkan ke otoritas kehakiman.

Baca juga :  Trump Putar Haluan! 5.000 Tentara AS Dikirim ke Polandia

Kerusuhan di Milan ini merupakan efek domino dari bentrokan serupa yang pecah pada hari Sabtu di kota-kota utara lainnya, seperti Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin, di mana 28 demonstran diringkus aparat.

Kemarahan massal di Italia ini bak cermin dari kerusuhan besar di negara tetangga mereka, Prancis. Di sana, ratusan ribu rakyat yang muak dengan tingginya biaya hidup dan merosotnya kualitas layanan publik turun ke jalan pada hari Sabtu, menciptakan salah satu aksi protes paling berdarah dan penuh kekerasan dalam beberapa tahun terakhir di Eropa.