Perang AS-Iran Buntu, Trump Makin Agresif Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah
DIKSIMERDEKA JAKARTA Washington sepertinya ogah menginjak rem di Timur Tengah. Di tengah kebuntuan (stalemate) Perang AS-Iran, militer Amerika Serikat (AS) justru merapatkan barisan dengan mengirimkan kelompok tempur kapal induk ketiganya ke kawasan tersebut.
Langkah ini menjadi sinyal keras betapa dinamis dan ruwetnya perang yang dikobarkan oleh Presiden Donald Trump, terlebih Pemilu Sela (midterm elections) AS kini sudah di depan mata.
Dulu, Trump sempat sesumbar bahwa perang ini hanya akan memakan waktu hitungan minggu. Nyatanya? Masih alot. Kini, sang Presiden bahkan secara terbuka menebar ancaman bahwa eskalasi serangan pasca-Pemilu Sela menjadi opsi yang sangat rasional untuk dieksekusi.
Armada Raksasa di Tengah Pusaran Konflik
Armada yang sedang membelah lautan menuju Timur Tengah ini bukan manuver biasa. Membawa lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 Marinir, pengerahan ini mencakup kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt yang bersanding dengan kelompok kesiapan amfibi khusus USS Makin Island, lengkap dengan dua kapal pendarat amfibinya.
Menurut seorang pejabat AS—yang berbicara secara anonim untuk membahas operasi militer sensitif ini—tiga kapal induk diprediksi sudah siaga penuh di perairan Timur Tengah paling cepat pada akhir Oktober mendatang.
Dengan tambahan tenaga baru ini, postur Angkatan Laut AS di Timur Tengah akan membengkak ke angka yang tak lazim. Total ada lebih dari 20.000 pelaut dan Marinir, ditambah ratusan pesawat tempur canggih yang mengepung kawasan tersebut.
Sebagai catatan, Angkatan Laut AS terakhir kali menyiagakan tiga kelompok tempur kapal induk sekaligus di Timur Tengah pada April lalu. Itu adalah pengerahan militer paling masif sejak tahun 2003.
Saat ini, lautan Timur Tengah sudah diisi oleh kapal induk USS George H.W. Bush dan USS George Washington, yang berpatroli bersama kelompok kesiapan amfibi USS Boxer.
Keberadaan USS George Washington di sana sebenarnya adalah sebuah anomali. Habitat asli kapal raksasa ini adalah Samudra Pasifik. Namun, ia terpaksa digeser ke Timur Tengah untuk “menyelamatkan” USS Abraham Lincoln, yang krunya sudah dihantam kelelahan luar biasa setelah melaut nonstop selama lebih dari 260 hari tanpa jeda. Jika USS Theodore Roosevelt tiba, besar kemungkinan USS Washington akan ditarik mundur ke perairan lepas Jepang.
Gertakan Trump dan Taruhan Politik Pemilu Sela
Nuansa politis dari pergerakan militer yang memakan biaya fantastis ini sangat kental. Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Time yang terbit Kamis lalu, Trump blak-blakan membuka peluang soal serangan udara baru. Ia menyebut “mungkin” akan menggenjot intensitas pengeboman di Iran setelah Pemilu Sela tanggal 3 November usai.
Namun, saat dicecar lebih jauh mengenai detail strateginya, Trump memilih untuk main rahasia.
“Saya tidak bisa memberi tahu Anda hal itu karena, dengar, Anda tahu, Anda bertanya, di mana Anda akan mengebom?” kilah Trump.
Dalam wawancara yang dilakukan hari Senin itu, Trump juga memastikan bahwa dirinya telah menolak mentah-mentah proposal gencatan senjata terbaru dari pihak Iran. Standar sang Presiden rupanya sudah berubah.
“Hal-hal yang tidak akan saya setujui setahun yang lalu, tidak akan saya setujui hari ini,” tegasnya.
Trump mencontohkan, Iran sempat menawari kesepakatan untuk “membuka” Selat Hormuz—jalur urat nadi pengiriman energi global. Namun, menurut perhitungan Trump, proposal tersebut secara keseluruhan “tidak cukup baik”.
Pertanyaan terbesarnya: apakah perang yang kian hari kian tidak populer ini bakal jadi bumerang dan mengancam peluang menang Partai Republik di bulan November?
Awalnya, Trump menjawab dengan nada sedikit ragu: “Itu mungkin.”
Namun, layaknya politisi sejati, ia buru-buru meralat dan memoles narasinya dengan optimisme tingkat tinggi. “Itu seharusnya membantu, karena Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.”
Sang Presiden dengan yakin mengklaim bahwa “100% orang” sangat menentang Iran memiliki kemampuan serangan nuklir, “termasuk di seluruh dunia.”
“Jadi, jika Anda mengatakannya seperti itu, itu akan membantu,” pungkas Trump menutup analisanya. “Jika Anda tidak mengatakan itu, itu bisa merugikan.”

Tinggalkan Balasan