DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN – Iran Tutup Selat Hormuz setelah serangan Israel di Lebanon. Langkah Teheran mengancam negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat dan memicu kekhawatiran krisis energi global. ABagi Iran serangan ini mengancam kesepakatan damai sementara antara Teheran dan Washington yang baru ditandatangani beberapa hari lalu.

Dilansir The Guardian, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan kapal-kapal agar tidak mendekati jalur pelayaran strategis tersebut. Sebelum perang berkecamuk, Selat Hormuz menjadi jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Iran menuduh Israel melakukan kejahatan di Lebanon dan menilai Amerika Serikat telah melanggar komitmennya untuk mendorong gencatan senjata di negara tersebut.

Namun hingga kini belum jelas apakah ancaman penutupan Selat Hormuz benar-benar telah dilaksanakan. Situasi ini juga memunculkan tanda tanya besar terhadap perundingan Iran-AS yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Minggu (22/6).

Perundingan tersebut sejatinya menjadi langkah awal untuk mengubah kesepakatan sementara yang baru diteken pekan ini menjadi perjanjian yang lebih rinci, termasuk menyangkut program nuklir Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung merespons perkembangan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada biaya tambahan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata sementara 60 hari.

Namun dalam unggahan media sosial pada Sabtu, Trump juga memberi sinyal bahwa Amerika Serikat dapat memberlakukan tarif atau pungutan terhadap kapal jika negosiasi dengan Iran gagal mencapai hasil.

Baca juga :  Trump Ngamuk! Ultimatum Keras ke Iran: Buka Selat Hormuz atau “Neraka Menanti”

Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) membantah bahwa Selat Hormuz telah ditutup.

“Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Lalu lintas pelayaran masih berjalan normal dan pasukan AS terus memantau situasi untuk memastikan kondisi tersebut tetap terjaga,” kata Juru Bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, kepada Reuters.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance berangkat ke Swiss untuk menghadiri perundingan.

“Saya mungkin hanya berada di sana satu atau dua hari. Kami berharap dapat membuat kemajuan dalam isu nuklir dan juga gencatan senjata di Lebanon,” ujar Vance sebelum terbang dari Maryland.

Pakistan yang berperan sebagai mediator utama memastikan agenda perundingan tetap berjalan sesuai rencana. Laporan dari Teheran juga menyebutkan delegasi pejabat tinggi Iran telah bertolak menuju Swiss untuk mengikuti pembicaraan tersebut.

Lebanon Jadi Batu Sandungan

Meski Iran dan Amerika Serikat berhasil mencapai kesepakatan sementara, konflik yang terus berlangsung antara Hezbollah dan Israel di Lebanon kini menjadi tantangan terbesar bagi implementasi perjanjian tersebut.

Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Sabtu dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang. Otoritas setempat menyebut korban tewas dan luka terus berdatangan sejak dini hari.

Badan Pertahanan Sipil Lebanon mengatakan pihaknya telah mengevakuasi 16 jenazah dan 12 korban luka ke rumah sakit di wilayah Nabatieh.

Baca juga :  Perang Picu Harga Plastik Naik! Greenpeace: Saatnya RI Tinggalkan Plastik Sekali Pakai

Padahal, kesepakatan sementara Iran-AS secara jelas menyerukan penghentian seluruh aksi militer di berbagai front, termasuk Lebanon.

Namun kebijakan tersebut mendapat kritik keras dari sejumlah pejabat dan politisi Israel yang menilai kesepakatan itu justru menghambat upaya Tel Aviv menghadapi ancaman Hezbollah.

Militer Israel menyatakan serangan yang dilakukan merupakan respons terhadap peluncuran proyektil oleh Hezbollah pada malam sebelumnya.

Ketegangan meningkat setelah empat tentara Israel, termasuk seorang perwira senior, tewas ketika tank mereka dihantam serangan Hezbollah. Kelompok tersebut mengklaim serangan dilakukan setelah Israel melanggar gencatan senjata sebelumnya dengan terus bergerak maju ke wilayah Lebanon.

Serangan balasan Israel kemudian dilaporkan menewaskan sedikitnya 83 orang di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.

Masa Depan Kesepakatan Masih Abu-Abu

Status gencatan senjata yang disebut mulai berlaku pada Jumat malam juga masih belum jelas.

Hezbollah menyatakan akan mematuhi gencatan senjata jika Israel melakukan hal yang sama. Namun kelompok itu belum secara tegas mengonfirmasi bahwa gencatan senjata benar-benar berlaku di lapangan.

Anggota parlemen Lebanon dari Hezbollah, Hassan Fadlallah, menegaskan kelompoknya berhak merespons setiap serangan Israel.

“Ada pembicaraan mengenai gencatan senjata. Yang penting bagi kami adalah musuh tidak menyerang negara dan desa-desa kami serta tidak berusaha menduduki wilayah baru,” katanya.

Baca juga :  Iran Kutuk Serangan AS, Desak PBB dan Negara Islam Bertindak

Kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat sendiri mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade laut yang sebelumnya diterapkan AS.

Namun Israel dan Hezbollah bukan bagian dari penandatangan kesepakatan tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan sampai seluruh ancaman terhadap Israel benar-benar dihilangkan.

Di sisi lain, Hezbollah menolak menghentikan serangan selama Israel belum berkomitmen menarik pasukannya dari wilayah Lebanon. Iran juga menyebut penarikan Israel sebagai salah satu syarat penting keberhasilan kesepakatan.

Meski situasi masih jauh dari stabil, JD Vance tetap optimistis gencatan senjata dapat dipertahankan.

“Saya belum melihat bukti bahwa Selat Hormuz benar-benar ditutup,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kemajuan perundingan sangat bergantung pada keseriusan Amerika Serikat memenuhi kewajibannya.

“Perjalanan ini bertujuan menuntut pihak lain memenuhi komitmennya,” kata Baghaei.

Kesepakatan sementara yang diteken pekan ini memberi waktu 60 hari bagi kedua negara untuk mencapai perjanjian nuklir yang lebih komprehensif. Namun banyak pengamat menilai target tersebut sangat ambisius.

Sebagai perbandingan, perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang kemudian dibatalkan Trump saat masa jabatan pertamanya membutuhkan waktu negosiasi lebih dari 18 bulan sebelum akhirnya tercapai.