DIKSIMERDEKA.COM LONDON – Kepolisian Inggris menangkap lima orang pria atas dugaan tindak pidana terorisme dan kepemilikan bahan peledak di dekat sebuah pangkalan udara di Inggris pada Minggu (27/9/2026) dini hari. Pangkalan udara tersebut diketahui secara aktif digunakan oleh armada pesawat pengebom jarak jauh Amerika Serikat (AS) dalam operasi yang berkaitan dengan ketegangan militer melawan Iran.

Menyusul penangkapan tersebut, unit penjinak bom dari Angkatan Darat Inggris langsung dikerahkan ke lokasi kejadian. Sebagai langkah pencegahan standar operasional selama proses penyelidikan berlangsung, puluhan rumah warga di sekitar area tersebut telah dievakuasi oleh pihak berwenang.

Detektif senior di wilayah Gloucestershire, Richard Ocone, menyatakan bahwa operasi penangkapan ini dilakukan segera setelah lewat tengah malam, menyusul informasi yang diterima dari warga setempat. Hingga saat ini, identitas kelima tersangka belum dipublikasikan dan pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai kemungkinan motif di balik rencana tersebut.

Perwira senior di Kepolisian Antiterorisme Inggris, Vicki Evans, mengonfirmasi status penahanan para tersangka. “Kami masih berada di tahap awal penyelidikan, dan kelima pria tersebut tetap ditahan. Seperti yang bisa ditebak, kami bekerja sama erat dengan mitra-mitra kami untuk memahami situasi insiden ini,” ujar Evans.

Di bawah undang-undang antiterorisme Inggris, pihak kepolisian memiliki wewenang untuk menahan tersangka hingga 14 hari sebelum mereka resmi dijatuhi dakwaan. Kepolisian menyatakan kelima pria tersebut ditahan bukan hanya atas dugaan pelanggaran kepemilikan bahan peledak, tetapi juga atas kecurigaan tahap persiapan tindakan teroris.

Merespons insiden ini, Presiden AS Donald Trump menyebut penangkapan tersebut sebagai pencapaian yang “fantastis”. Berbicara kepada wartawan di Chicago, Trump mengklaim bahwa intelijen AS dan Inggris telah mengintai para tersangka dalam waktu yang lama. “Mereka ingin menimbulkan kerusakan besar pada pangkalan kami dan kerja sama dengan pihak Inggris berjalan sangat baik,” kata Trump.

Namun, klaim presiden tersebut dibantah oleh laporan dari berbagai media utama Inggris, termasuk BBC, The Guardian, dan The Telegraph. Mengutip berbagai sumber keamanan, media-media tersebut melaporkan bahwa operasi penangkapan itu tidak dipandu oleh data intelijen jangka panjang. Kewaspadaan warga lokal yang melapor kepada pihak berwenang diyakini memainkan peran kunci dalam menggagalkan aksi tersebut. Menyusul peristiwa ini, Kedutaan Besar AS di London mengeluarkan peringatan resmi agar warga negara Amerika di Inggris meningkatkan kehati-hatian.

Situasi di lokasi kejadian berlangsung ketat. Rekaman udara menunjukkan sebuah robot penjinak bom beroperasi di antara tiga mobil boks putih di area hutan dekat pangkalan. Pintu belakang dua mobil tersebut tampak terbuka dengan barang-barang hitam besar berserakan di sekitarnya. Surat kabar The Daily Mail juga mempublikasikan video yang menunjukkan beberapa individu ditangkap di lokasi kejadian dengan kondisi bertelanjang dada dan tangan diborgol ke belakang. Seorang warga lokal mengaku kepada CNN bahwa ia mendengar suara helikopter pada pukul 02.00 pagi, disusul kedatangan kendaraan penjinak bom. Pada Minggu malam, terdengar dua ledakan terkontrol dari arah desa Whelford.

Desa Whelford terletak berdekatan dengan Royal Air Force (RAF) Fairford, pangkalan yang digunakan oleh pesawat pengebom B-1 AS. Pangkalan ini merupakan lokasi operasi garis depan bagi Komando Serangan Global AS. Juru bicara Angkatan Udara AS di Fairford menolak membahas langkah perlindungan spesifik demi alasan keamanan operasional, namun menegaskan unitnya tetap waspada untuk memastikan keselamatan personel.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyampaikan apresiasi kepada layanan darurat dan berterima kasih atas kesabaran warga setempat. Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menambahkan bahwa insiden ini merupakan pengingat nyata akan ancaman yang dihadapi negara. Keamanan di sekitar pangkalan dilaporkan telah ditingkatkan secara drastis dalam beberapa pekan terakhir, menyusul izin dari pemerintah Inggris pada bulan Maret yang memperbolehkan AS menggunakan Fairford untuk operasi serangan terhadap situs rudal Iran. Kebijakan ini sebelumnya telah memicu ancaman balasan dari Garda Revolusi Iran.