Awas Ancaman Gagal Panen! Pakar IPB Warning Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau
Bahaya
BOGOR DIKSIMERDEKA.COM – Hujan abu vulkanik akibat erupsi gunung api bukan cuma urusan sesak napas atau atap rumah yang kotor. Bagi sektor pertanian, guyuran abu ini adalah teror mematikan. Pakar Ilmu Tanah IPB University, Prof Iskandar, membunyikan alarm kewaspadaan. Nasib ribuan hektare lahan pertanian kini berpacu dengan waktu, sangat bergantung pada seberapa lama tanaman itu diselimuti abu.
Makin lama abu mengendap, makin besar pula daya rusaknya. Tanaman tak ubahnya manusia yang dicekik perlahan karena tak bisa bernapas.
“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” tegas Prof Iskandar dalam wawancara daring di Bogor dilansir dari laman kepakaran IPB, Senin (7/9).
Stomata Tertutup, Fotosintesis Lumpuh Total
Kerusakan utama terjadi pada sistem pernapasan dan ruang makan tanaman. Saat daun dan batang tertimbun abu vulkanik, stomata atau mulut daun otomatis tertutup rapat. Proses fotosintesis lumpuh total.
Tanpa fotosintesis, pertumbuhan tanaman berhenti seketika. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan cepat, kerugian besar sudah menanti para petani di depan mata. “Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” imbuhnya memperingatkan.
Selain durasi paparan, radius dari pusat letusan ibarat penentu hidup-mati tanaman. Makin dekat dengan kawah, abu yang turun bukan sekadar debu halus, melainkan material panas yang mematikan.
“Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati,” papar Prof Iskandar. Sementara di jarak yang lebih jauh, material yang turun lebih halus dan ringan, meski tetap membawa ancaman jika menumpuk tebal.
Jangan Dibuang! Ada Berkah di Balik Musibah
Lantas, apa yang harus dilakukan petani saat hujan abu mereda? Jangan diam saja menunggu keajaiban. Prof Iskandar mendesak lahan pertanian segera diolah begitu kondisi dinyatakan aman. Abu yang menempel pada daun harus segera dibersihkan, apalagi material yang tipis sebenarnya mudah luruh oleh guyuran air hujan.
Namun, jika tumpukan abu di tanah terlanjur tebal, pengolahannya butuh tenaga ekstra. Menariknya, pakar tanah ini melarang keras petani membuang abu vulkanik tersebut. Abu itu harus diaduk dan dicampur langsung ke dalam tanah, lalu diukur tingkat keasaman (pH) dan daya hantar listriknya (DHL).
Di balik daya rusaknya yang mengerikan, abu vulkanik sebenarnya membawa ‘harta karun’ berupa pupuk gratis berskala masif. Siklus alam ini adalah cara bumi meregenerasi tanah-tanah yang sudah rusak dan terdegradasi akibat eksploitasi pupuk kimia.
“Begitu abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan, maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K) dan lain-lain,” jelasnya.
Pada akhirnya, kecepatan penanganan dan intervensi alam berupa curah hujan menjadi kunci penyelamatan sektor pertanian dari ancaman kiamat kecil ini.
“Jadi semoga saja ‘hujan’ abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur,” pungkas Prof Iskandar.

Tinggalkan Balasan