Akhirnya Buka! Bandara Soetta Kembali Bernapas Usai Tercekik Abu Krakatau, Penumpang Sempat ‘Gedebak-Gedebuk’ Kena Prank
TANGERANG DIKSIMERDEKA.COM – Setelah sempat “mati suri” dihantam teror abu vulkanik Gunung Anak Krakatau lebih dari 25 jam, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, akhirnya kembali berdenyut. Selasa (8/9) dini hari, lautan manusia mulai membanjiri area bandara. Antrean panjang di konter check-in dan drop bagasi langsung mengular bak lepas dari belenggu.
Namun, di balik kelegaan itu, terselip cerita karut-marutnya alur informasi yang sempat membuat ribuan calon penumpang senam jantung. Informasi yang simpang siur dari pihak maskapai membuat penumpang kebingungan di tengah situasi krisis.
Drama WhatsApp dan Kepanikan di Menit Akhir
Keputusan buka-tutup operasional bandara ini nyatanya diwarnai komunikasi yang buruk kepada pelanggan. Salah satu calon penumpang tujuan Bandara Kualanamu, Medan, menceritakan drama yang harus ia lalui sebelum akhirnya memegang boarding pass untuk penerbangan pukul 00.30 WIB.
Ia mengaku sempat mendapat pesan WhatsApp yang menyatakan penerbangannya dibatalkan, sebelum akhirnya ada rilis resmi bahwa bandara beroperasi kembali.
“Iya sih, sempat dagdukd juga, gedebak-gedebuk. Soalnya tadi di jam 10-an ada informasi masuk ke WA bahwa pembatalan ee penerbangannya dibatalin gitu. Terus tiba-tiba kita tanya lagi jam 12.00 ternyata masih belum bisa dipastikan. Setelah jam . Akhirnya baru ada keputusan dari akun resmi e Bandara Soekarno itu bahwasanya penerbangan sudah buka lagi,” ujar penumpang tersebut menceritakan kepanikannya.
Sistem Buka-Tutup Diberlakukan, Benang Kusut Ratusan Jadwal Terbang
Meski paper test abu vulkanik di area bandara kini dinyatakan negatif dan aman untuk penerbangan, otoritas bandara tidak bisa bersantai. Mereka kini harus memutar otak untuk mengurai benang kusut ratusan jadwal penerbangan yang sempat dibatalkan atau delay berhari-hari.
Berdasarkan laporan jurnalis Kompas TV, Jihan Jufri, otoritas bandara saat ini terpaksa menerapkan sistem Air Traffic Flow Management (ATFM). Artinya, antrean penerbangan tidak bisa langsung dilepas liar, melainkan menggunakan sistem buka-tutup. Maskapai kini dihadapkan pada tugas berat: menyusun ulang jadwal (reschedule) penerbangan tanpa membuat penumpukan kembali meledak di terminal.
Lelah Menunggu Kepastian, Rela Tidur “Menggelandang”
Pantauan di Terminal 1 menunjukkan situasi yang perlahan kondusif, namun sisa-sisa kepenatan fisik dan mental tak bisa disembunyikan. Banyak penumpang yang kehabisan tenaga dan terpaksa “menggelandang” menginap di area bandara demi menanti kepastian tiket pengganti. Saking membeludaknya penumpang yang telantar, sebagian dari mereka bahkan kedapatan harus beristirahat di area employee lounge (ruang tunggu karyawan).
Untuk mencegah simpang siurnya informasi terulang kembali, Humas Bandara Soekarno-Hatta mewanti-wanti masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah pesan berantai. Penumpang diminta untuk terus memelototi pembaruan dari media sosial resmi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, atau segera menghubungi customer service di nomor 172 untuk memastikan jadwal terbang mereka benar-benar aman.
Bandara Soetta perlahan bangkit, namun sistem mitigasi informasi ke penumpang jelas butuh evaluasi total agar tak ada lagi yang merasa di-prank saat bencana melanda.

Tinggalkan Balasan