KATHMANDU DIKSIMERDEKA.COM – Kegelapan pekat, udara pengap, dan endapan lumpur tebal selama sembilan hari itu akhirnya pecah oleh secercah cahaya. Sebuah keajaiban terjadi di tengah tragedi memilukan yang mengoyak Nepal. Dua pekerja proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ditarik keluar dalam kondisi bernyawa, usai terkubur hidup-hidup pasca-banjir bandang dahsyat yang menyapu wilayah tersebut pekan lalu.

Keduanya diselamatkan dalam sebuah operasi dramatis di terowongan Trishuli 3A, salah satu titik paling hancur akibat terjangan air bah. Juru Bicara Angkatan Darat Nepal, Brigjen Raja Ram Basnet, mengonfirmasi bahwa kedua pekerja itu dievakuasi dari perut bumi, tepatnya di kedalaman 170 meter.

Dilansir The Guardian,korban pertama yang menghirup udara bebas adalah Sanjay Shah, mandor proyek Upper Trishuli 3A, yang langsung dilarikan ke barak militer. Tak lama berselang, sang supervisor, Kabir Maharjan, menyusul diangkat dari lubang yang sama.

Militer Nepal merilis momen mengharukan saat Shah ditarik dari celah kecil terowongan yang gelap gulita. Tubuhnya dibalut lumpur dari ujung kepala hingga kaki. Namun, matanya terbuka. Kesadarannya penuh. Ia dipanggul di atas bahu seorang anggota tim penyelamat. Kondisi keduanya dinyatakan stabil dan langsung diterbangkan ke rumah sakit di Kathmandu.

Saat pertama kali bisa bicara dengan petugas militer usai diselamatkan, pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Shah sangat menyayat hati: “Sekarang hari apa?”

Insting Pahlawan di Ruang Kontrol

Bagi Shah, terkurung di perut bumi bukanlah karena ia tak sempat lari, melainkan karena panggilan nurani. Menceritakan penderitaannya kepada tim penyelamat, Shah menuturkan bahwa saat kiamat kecil itu terjadi, ia sedang berada di ruang kontrol terowongan.

Baca juga :  Update Banjir Bandang Nepal : 165 Korban Jiwa, 1.000 Lebih Turis Lenyap Tanpa Jejak

Kutipan kesaksiannya menjadi bukti nyata heroisme di tengah bencana.

“Biasanya hanya ada lima atau enam orang di sana, tetapi saat itu pasti ada sekitar 40 hingga 45 orang di dalam,” ungkap Shah. “Karena saya berada di ruang kontrol, tanggung jawab saya adalah menyelamatkan nyawa semua orang. Setelah kecelakaan seperti itu, saya tidak bisa begitu saja lari sendirian. Saya harus menyelamatkan semua orang.”

Alih-alih memikirkan nyawanya sendiri, Shah memilih bertaruh waktu demi rekan-rekannya.

“Saat mencoba mengeluarkan semua orang, saya memberi tahu mereka bahwa ada kecelakaan besar di bendungan dan mendesak semua orang untuk lari. Karena melakukan itu, saya kehilangan waktu. Pada akhirnya, saya sendiri tidak bisa keluar,” imbuhnya.

Bertahan Hidup dengan Mantra dan Suara di Kegelapan

Untuk menjaga kewarasannya di tengah kegelapan total dan ancaman kematian yang mengintai, Shah menghabiskan waktunya dengan merapal mantra. Selama terjebak, ia mengaku hanya bisa berkomunikasi dengan tiga atau empat orang lainnya yang nasibnya serupa.

Baca juga :  Kiamat Kecil di Himalaya! 750 Nyawa Melayang, 3.000 Lenyap Disapu Banjir Bandang Nepal-Tibet!

“Mereka berkomunikasi dengan berteriak satu sama lain dari dekat. Mungkin juga ada orang di dalam pembangkit listrik. Beberapa dari mereka mungkin tidak dapat melarikan diri,” tuturnya getir.

Keberhasilan evakuasi ini memompa kembali semangat tim SAR. Menteri Komunikasi Nepal, Bikram Timilsina, menyatakan pemerintah masih menaruh harapan besar. “Kami menunggu evakuasi lebih banyak orang lagi,” tulis Timilsina di media sosialnya.

Pacu Waktu Menembus Puing Bencana Nasional

Banjir bandang pekan lalu bukan bencana biasa. Tragedi ini dipicu oleh runtuhnya gletser yang mencair di perbatasan antara Nepal dan Tibet yang dikuasai Tiongkok. Air bah bercampur puing dan lumpur raksasa menghantam lembah, menghancurkan sebagian besar proyek PLTA di sepanjang sungai Bhote Koshi dan Trishuli.

Skala kerusakannya sangat masif dan kritis. Badan Penanggulangan Bencana setempat mencatat setidaknya 1.259 orang tewas, dan lebih dari 5.000 jiwa masih dinyatakan hilang.

Kini, operasi pencarian terpusat pada terowongan-terowongan PLTA. Otoritas meyakini masih ada pekerja yang bertahan hidup berkat kantong udara (air pockets) di dalam reruntuhan. Sejauh ini, 270 orang berhasil diselamatkan dari berbagai titik proyek.

Medan evakuasi sangat brutal. Batu-batu raksasa dan banjir lumpur menyumbat pintu-pintu masuk terowongan. Di fasilitas Upper Trishuli 3A, tim spesialis dan militer butuh waktu nyaris enam hari tanpa henti hanya untuk menemukan mulut terowongan.

Baca juga :  Petaka di Atas Awan: Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Turis Lenyap Ditelan Arus!

Harapan kian membuncah pada Jumat dini hari ketika tim SAR akhirnya berhasil menembus reruntuhan dan mendengar suara sahutan dari dalam.

Tim penyelamat berteriak, “Jangan panik, kami sedang menyelamatkan kalian.” Dari balik kegelapan, terdengar jawaban lemah namun melegakan: “Oke.”

Penantian Keluarga yang Menguras Air Mata

Meski keajaiban terjadi pada Shah dan Maharjan, realita pahit masih menghantui ratusan keluarga lainnya. Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal (IPPAN) melaporkan sedikitnya 557 pekerja masih hilang di sepanjang Sungai Trishuli, dengan sekitar 115 orang diyakini terjebak di terowongan utama.

Secara total, otoritas lokal memperkirakan ada 900 pekerja hilang dari 12 proyek PLTA di dataran tinggi Himalaya. Sekitar 500 di antaranya diyakini masih terkurung di dalam perut gunung.

Selama sembilan hari terakhir, keluarga korban berkerumun di rumah sakit Kathmandu dan kantor kelistrikan Nepal. Wajah-wajah putus asa menanti kepastian. Poster-poster orang hilang menutupi dinding Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan.

Sementara itu, tim SAR kini juga memacu waktu di PLTA Rasuwagadhi. Pihak berwenang Nepal masih optimistis bahwa 46 pekerja yang terjebak di ruang bawah tanah fasilitas tersebut masih bernapas, menunggu keajaiban berikutnya datang menjemput mereka.