TEHERAN DIKSIMERDEKA.COM Bukannya mereda, tensi di Timur Tengah justru makin mendidih. Arab Saudi kini meledak amarahnya dan melontarkan kutukan keras atas serangan terhadap supertanker miliknya pada Senin (31/8/2026) malam lalu. Insiden mematikan ini merenggut nyawa dua pelaut asal Filipina, dan Riyadh tanpa ragu langsung menuding Iran sebagai dalang utamanya.

Perusahaan pelayaran nasional Arab Saudi, Bahri, pada hari Rabu membenarkan bahwa kapal mereka, Sidr, telah “terlibat dalam insiden keamanan saat transit di Selat Hormuz”.

Berdasarkan laporan perusahaan keamanan maritim, Sidr dihantam proyektil misterius saat berada di utara Semenanjung Musandam, Oman. Tak cuma kapal Saudi, sebuah supertanker milik Korea Selatan, Senegal Prosperity, juga dilaporkan kena hantam di sebelah timur Musandam pada waktu yang nyaris bersamaan.

Hingga kini, Iran belum merespons langsung tudingan pedas Saudi tersebut. Namun, Teheran sebelumnya bersikeras mengeluarkan alibi bahwa dua kapal tanker itu terbakar gara-gara menabrak ranjau akibat nekat melewati jalur tak resmi di selat tersebut.

Saling Balas Dendam AS-Iran dan Pesta Pernikahan yang Berdarah

Kabar tewasnya dua pelaut ini meledak tak lama setelah militer Amerika Serikat (AS) membombardir Iran lewat serangkaian serangan udara. Sebagai balasan, pasukan Iran memberondong pangkalan AS di negara-negara Arab tetangga dengan rudal dan drone. Ini merupakan aksi baku tembak paling brutal di antara kedua kubu sejak bulan Juli lalu.

Baca juga :  AS Tembaki Kapal Iran di Teluk Oman, Teheran Murka dan Ancam Balas Serangan!

Korban jiwa berjatuhan. Pada hari Rabu, Menteri Kesehatan Iran mengumumkan bahwa 18 orang tewas dan 108 lainnya luka-luka akibat gempuran AS. Iran pun langsung mengecam AS telah melakukan “kejahatan perang”, menyusul serangan fatal yang menewaskan empat orang termasuk dua anak-anak di sebuah pesta pernikahan di kota selatan Sirik. Merespons kecaman ini, militer AS hanya berdalih sedang ‘menyelidiki’ laporan tersebut.

Terkait nasib para pelaut yang jadi korban di tengah pusaran konflik ini, pihak Bahri merilis pernyataan resmi bahwa “insiden keamanan” yang menimpa Sidr terjadi sekitar pukul 23:40 waktu setempat (19:40 GMT) di hari Senin.

“Dengan kesedihan mendalam, Bahri mengonfirmasi kehilangan dua pelaut Filipinanya akibat insiden tersebut,” bunyi pernyataan resmi perusahaan. “Perusahaan menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya dan simpati yang tulus kepada keluarga, orang terkasih, dan rekan kerja mereka di masa sulit ini.”

Kementerian Luar Negeri Saudi pun tak tinggal diam. Mereka secara resmi menyatakan kutukan kerajaan atas “penargetan Iran terhadap tanker Saudi (Sidr) saat transit di Selat Hormuz”.

Saudi juga mengutuk rentetan serangan Iran baru-baru ini terhadap Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Riyadh secara tegas menuntut “kebutuhan untuk menghentikan eskalasi dan menghormati keamanan dan keselamatan navigasi internasional”, serta menjaga keamanan pasokan energi global, kedaulatan nasional, dan hukum internasional.

Baca juga :  AS Serang Iran Lagi, Ledakan Guncang Bandar Abbas dan Selat Hormuz

Drama Baku Hantam di Urat Nadi Minyak Dunia, Trump Ngotot Jalur “Aman”

Pernyataan keras Saudi ini dirilis sehari setelah lembaga intelijen dan manajemen risiko maritim, Marisks dan Kpler, membeberkan fakta mengerikan. Dua kapal tanker—yang masing-masing mengangkut dua juta barel minyak mentah Saudi—dihantam proyektil tak dikenal hanya dalam selang waktu beberapa menit saat transit keluar melewati Selat Hormuz, Senin larut malam.

Menurut Marisks, Sidr dihantam “proyektil tak dikenal” pada pukul 19:52 GMT sekitar 16 mil laut (30 km) di timur laut Khasab, Oman. Sementara Senegal Prosperity dihajar “tiga proyektil tak dikenal” sekitar 17 mil laut di timur Khasab. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga mengonfirmasi dua insiden di lokasi yang sama.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Rabu merilis pernyataan balasan. Mereka mengklaim bahwa kedua kapal tanker minyak itu “atas desakan militer AS untuk transit melalui rute ilegal” di Selat Hormuz sebelum akhirnya “menabrak ranjau dan meledak”. IRGC menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut “saat ini sedang terbakar”.

Militer AS belum memberikan komentar spesifik soal ini, tetapi berdalih bahwa serangan terbaru mereka terhadap Iran merupakan balasan atas “upaya serangan baru-baru ini oleh IRGC terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan terhadap anggota militer Amerika”.

Baca juga :  Update : Iran Targetkan Pangkalan Militer AS di Kuwait, UEA, Qatar, dan Bahrain

Selat Hormuz sendiri bukanlah perairan sembarangan. Ini adalah urat nadi yang dilewati seperlima pasokan minyak dan gas global. Sejak perang AS dan Israel melawan Iran pecah pada bulan Februari, jalur ini praktis lumpuh akibat hujan rudal dan drone Iran terhadap kapal komersial, ditambah blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebenarnya, AS dan Iran sempat menyepakati perjanjian awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat itu pada bulan Juni. Sayangnya, kesepakatan itu ambyar hanya dalam hitungan minggu setelah serangan terhadap kapal-kapal dilanjutkan dan AS kembali menerapkan blokadenya. Iran ngotot tak mau melepaskan kendali atas perairan itu dan terus menargetkan kapal-kapal yang memakai rute selatan (melewati perairan Oman) demi menghindari rute perairan Iran.

Ironisnya, di tengah hujan proyektil dan kobaran api, Presiden AS Donald Trump dengan santainya mendeklarasikan bahwa selat itu “terbuka”. Ia sesumbar bahwa militer AS telah sukses membantu mengawal kapal-kapal menavigasi rute selatan.

Menteri Energi AS Chris Wright bahkan pamer data bahwa 17 juta barel minyak berhasil mengalir melewati Selat Hormuz dengan kapal pada hari Senin lalu—sebuah rekor total harian tertinggi sejak perang ini meletus.