Istri Korban Tewas Turbulensi Maut SQ321 Resmi Seret Singapore Airlines ke Meja Hijau!
SINGAPURA DIKSIMERDEKA.COM Tragedi turbulensi horor yang menghantam maskapai bergengsi kembali berbuntut panjang. Pasalnya, istri dari seorang pria berkebangsaan Inggris yang tewas dalam penerbangan Singapore Airlines (SIA) pada Mei 2024 lalu kini resmi melayangkan gugatan hukum. Akibat insiden mengerikan tersebut, sang istri tidak hanya kehilangan belahan jiwanya, tetapi juga menderita cedera tulang belakang yang sangat parah.
Faktanya, Linda Kitchen (74) telah memulai proses hukum di Pengadilan Tinggi Inggris. Berdasarkan laporan BBC, langkah tegas ini ia ambil untuk menuntut ganti rugi dari SIA demi membiayai perawatan spesialis bagi tulang punggungnya yang patah.
Selanjutnya, sang suami dilaporkan menderita serangan jantung fatal saat insiden itu terjadi. Pada waktu itu, tepatnya tanggal 21 Mei 2024, penerbangan SQ321 rute London menuju Singapura tiba-tiba terjun bebas sejauh lebih dari 54 meter hanya dalam tempo lima detik saat melintasi langit Myanmar.
Bahkan, menurut laporan media Inggris, pasangan yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 52 tahun ini sebenarnya sedang menikmati perjalanan liburan enam minggu ke Singapura, Indonesia, dan Australia.
Sayangnya, impian liburan itu hancur berantakan di udara. Menanggapi gelombang tuntutan ini, pihak SIA pada 29 Agustus lalu memilih bungkam dengan alasan tidak dapat mengomentari masalah yang sedang berjalan di pengadilan.
Liburan Berujung Petaka, Tulang Punggung Hancur Tertimpa Suami
Lebih lanjut, saksi mata di lokasi kejadian membeberkan bahwa pesawat anjlok secara mendadak persis saat awak kabin menyajikan menu sarapan rutin. Akibatnya, barang-barang di dalam kabin, bahkan tubuh para penumpang, terlempar ke segala arah.
Sementara itu, selama pesawat terjun bebas, Linda menceritakan bahwa suaminya, seorang sutradara teater bernama Geoffrey Kitchen, jatuh menimpa dirinya. Insiden ini sontak meremukkan tubuh Linda hingga membentur sandaran tangan kursi pesawat. Setelah itu, penumpang lain akhirnya turun tangan membantu memindahkan tubuh Geoffrey, sementara seorang dokter yang berada di dalam pesawat segera melakukan resusitasi jantung paru (CPR).
Oleh karena itu, penerbangan yang mengangkut 211 penumpang dan 18 awak kabin tersebut terpaksa mengalihkan rute darurat ke Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand. Secara total, insiden brutal ini melukai 79 orang. Tim medis lantas melarikan Linda ke rumah sakit setempat. Di sana, ia harus bertahan selama 10 hari sebelum akhirnya tim medis menerbangkannya kembali ke Bristol, Inggris.
Tragisnya, pihak berwenang baru menginformasikan kematian suaminya dua hari setelah tragedi tersebut.
“Ketika saya terpisah dari Geoff, saya tahu kondisinya sangat buruk, tetapi tidak ada yang mempersiapkan saya untuk mendengar kabar bahwa ia telah meninggal. Itu benar-benar menghancurkan hati saya,” ungkap Linda dalam pernyataannya yang dikutip oleh media Inggris, termasuk The Independent.
“Saya merasakan sakit yang luar biasa hingga perjalanan itu terasa samar. Setibanya di Inggris, saya dirawat di rumah sakit selama sekitar seminggu dan, setelah pulang, saya membutuhkan bantuan yang sangat besar di rumah,” tambahnya dengan nada pilu.
Tuntutan Keadilan Usai Dua Tahun Dibungkam Misteri
Di sisi lain, pengacara spesialis penerbangan yang mewakili Linda, Anthe Korelidou, melontarkan kritik yang sangat tajam terkait lambannya kejelasan kasus ini.
“Meskipun sudah lebih dari dua tahun sejak kematian Geoff, Linda dan anggota keluarga lainnya terus memiliki sejumlah pertanyaan dan kekhawatiran tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apakah ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah cedera mereka,” tegas sang pengacara menuntut transparansi maskapai.
“Semua yang Linda inginkan hanyalah agar penyelidikan yang paling menyeluruh dilakukan. Dikeluarkannya proses Pengadilan Tinggi adalah tonggak penting untuk dapat memberikan orang-orang terkasih Geoff jawaban yang layak mereka dapatkan,” ucap Korelidou menyambung argumentasinya.
Sementara itu, The Independent melaporkan bahwa dokumen gugatan di Pengadilan Tinggi Inggris memuat dua tuntutan dari keluarga Kitchen. Tuntutan pertama mengatasnamakan Linda Kitchen pribadi, sedangkan tuntutan kedua menggunakan namanya namun bertindak atas nama harta peninggalan almarhum Geoffrey Kitchen.
Tak hanya itu, catatan pengadilan Inggris juga membongkar fakta bahwa sejumlah penumpang lain tak tinggal diam. Mereka yang terdiri dari Bradley Richards, Jack Jenkins, Hannah Fullerton, Andrew Dawood, Bryan Matthews, serta Pauline dan Michael Rainey, turut melancarkan aksi hukum menggugat SIA.
Sebelumnya, pada tahun 2024, pihak maskapai memang sempat menyodorkan tawaran kompensasi kepada para penumpang penerbangan maut tersebut. Bagi penumpang yang menderita cedera ringan, SIA menawarkan uang damai sebesar US$10.000. Sementara itu, maskapai menyodorkan pembayaran uang muka sebesar US$25.000 bagi penumpang dengan cedera serius yang membutuhkan perawatan medis jangka panjang serta meminta bantuan finansial. Di luar uang ganti rugi tersebut, SIA juga berjanji mengembalikan penuh uang tiket pesawat kepada seluruh penumpang.
Terkait insiden ini, pihak maskapai sebelumnya telah mengeluarkan permohonan maaf resmi. “Kami dengan tulus meminta maaf kepada seluruh penumpang dan awak kabin di penerbangan SQ321 atas pengalaman traumatis mereka. Keselamatan dan kesejahteraan penumpang serta staf SIA adalah prioritas utama kami.”
Namun sayangnya, alasan teknis di balik kecelakaan udara ini masih menyisakan kejanggalan serius. Faktanya, Biro Investigasi Keselamatan Transportasi Singapura (TSIB) mengeluarkan laporan yang menemukan bahwa radar cuaca di dalam pesawat kemungkinan besar gagal mendeteksi awan badai pemicu turbulensi parah tersebut, sehingga kapten pesawat benar-benar kecolongan. Meskipun demikian, TSIB—departemen di bawah naungan Kementerian Transportasi Singapura—berdalih bahwa mereka belum bisa menyimpulkan secara pasti apakah sistem radar cuaca itu sendiri mengalami kerusakan teknis atau tidak. Penjelasan abu-abu inilah yang kini membuat para korban tak ragu menyeret sang raksasa penerbangan ke meja hijau.

Tinggalkan Balasan