Pesawat Qantas Terbang 19 Jam Tanpa Henti, Tempuh 17.000 Km dari Prancis ke Australia
MELBOURNE, DIKSIMERDEKA.COM – Langit Australia menyambut kedatangan pesawat yang digadang-gadang bakal mengubah masa depan penerbangan jarak jauh. Maskapai Qantas berhasil menerbangkan pesawat Airbus A350-1000ULR sejauh hampir 17.000 kilometer tanpa henti dari Toulouse, Prancis, menuju Melbourne dalam uji coba yang berlangsung sekitar 19 jam.
Dilansir dari The Guardian, penerbangan spektakuler itu mendarat mulus di Melbourne pada Jumat (24/7) pagi waktu setempat setelah lepas landas dari fasilitas produksi Airbus di Toulouse sehari sebelumnya.
Tak hanya mencuri perhatian dunia aviasi, penerbangan ini juga menjadi tontonan ribuan orang. Data Flightradar24 menunjukkan lebih dari 67.000 pengguna memantau perjalanan pesawat tersebut secara langsung, menjadikannya penerbangan yang paling banyak diikuti di dunia pada hari itu.
Pesawat ini merupakan bagian dari Project Sunrise, proyek ambisius Qantas yang bertujuan menghadirkan penerbangan komersial tanpa transit dari Sydney ke London. Jika sesuai rencana, layanan tersebut mulai beroperasi pada Oktober 2027 dan akan menjadi salah satu penerbangan non-stop terpanjang di dunia.
Dirancang Terbang hingga 22 Jam
Airbus A350-1000ULR dirancang khusus untuk menempuh penerbangan ultra jarak jauh. Dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 20.000 liter, pesawat ini mampu terbang hingga 22 jam tanpa mendarat atau menempuh jarak sekitar 18.500 kilometer.
Qantas memesan 12 unit pesawat jenis ini dengan konfigurasi 238 kursi, lebih sedikit dibandingkan varian standar A350-1000 yang umumnya berkapasitas lebih dari 300 penumpang. Pengurangan jumlah kursi dilakukan agar pesawat mampu membawa bahan bakar lebih banyak sekaligus meningkatkan kenyamanan penumpang selama penerbangan berdurasi hampir satu hari penuh.
Awak Uji Berlatih Hadapi Penerbangan Ekstrem
Dalam penerbangan perdana menuju Australia tersebut, Airbus menugaskan empat pilot uji dan lima insinyur uji terbang untuk menguji berbagai sistem penting pesawat.
Kepala Pilot Teknis Qantas, Alex Passerini, mengatakan penerbangan balik ke Toulouse diperkirakan berlangsung lebih lama, sekitar 23 jam. Selama perjalanan itu, tim akan menguji berbagai sistem, mulai dari distribusi bahan bakar, pendingin udara, hingga prosedur operasional untuk penerbangan ultra jarak jauh.
Ia menjelaskan para pilot dan awak kabin nantinya akan mendapatkan waktu istirahat secara bergantian sesuai sistem keselamatan yang telah dirancang berdasarkan analisis data penerbangan.
Masih Berstatus Pesawat Uji
Meski sudah mengenakan identitas Qantas, pesawat yang mendarat di Melbourne itu belum memakai corak merah-putih khas maskapai asal Australia tersebut. Badannya masih berwarna cokelat muda dengan logo Qantas pada bagian ujung sayap.
Qantas menjelaskan pesawat komersial pertama yang akan menggunakan livery resmi perusahaan, bernama Vega, masih berada di jalur perakitan Airbus dan dijadwalkan diserahkan kepada maskapai pada April 2027.
Sempat Beberapa Kali Mundur
Project Sunrise sebenarnya telah beberapa kali mengalami penundaan. Pada 2025, Qantas menargetkan layanan Sydney-London tanpa transit dimulai pada paruh pertama 2027.
Namun, Airbus kemudian mengumumkan pengiriman pesawat pertama baru dilakukan pada April 2027. Akibatnya, peluncuran layanan komersial kembali diundur menjadi Oktober 2027.
Selain Sydney, Qantas sebelumnya juga mempertimbangkan Melbourne dan Brisbane sebagai titik keberangkatan penerbangan langsung menuju London maupun New York. Namun, keputusan akhir mengenai rute akan disesuaikan dengan permintaan pasar setelah armada baru mulai beroperasi.
Bakal Ubah Cara Orang Bepergian
Jika seluruh proses pengujian berjalan sesuai rencana, Airbus A350-1000ULR akan menjadi tulang punggung layanan penerbangan ultra jarak jauh Qantas. Kehadiran pesawat ini diharapkan mengubah cara masyarakat bepergian antarbenua karena penumpang tidak lagi harus transit di bandara lain sebelum mencapai tujuan akhir.
Rute langsung seperti Sydney-London diperkirakan mampu memangkas waktu perjalanan secara keseluruhan sekaligus mengurangi risiko keterlambatan akibat pergantian pesawat atau waktu transit yang panjang. Bagi pelaku bisnis maupun wisatawan, penerbangan tanpa henti dinilai menawarkan efisiensi dan kenyamanan yang lebih tinggi.
Namun, penerbangan dengan durasi lebih dari 20 jam juga menghadirkan tantangan tersendiri. Selain memastikan keandalan mesin dan efisiensi bahan bakar, maskapai harus menjaga kondisi fisik awak kabin dan pilot, serta memastikan kenyamanan penumpang selama berada di dalam pesawat hampir satu hari penuh.
Karena itu, rangkaian uji coba yang dilakukan Qantas bersama Airbus tidak hanya berfokus pada performa pesawat, tetapi juga mencakup pengujian sistem operasional, manajemen kru, kualitas udara kabin, hingga pengalaman penumpang. Hasil pengujian tersebut akan menjadi dasar sebelum pesawat mulai melayani penerbangan komersial ultra jarak jauh pada 2027.

Tinggalkan Balasan