DIKSIMERDEKA.COM, SYDNEY— Ketegangan geopolitik kembali terasa di Indo-Pasifik setelah kapal perang Australia melintasi Selat Taiwan, jalur laut sensitif yang diperebutkan klaim kedaulatan. Sumber pemerintah Australia menyebut fregat HMAS Toowoomba melakukan pelayaran rutin pada Jumat–Sabtu sebagai bagian dari operasi kehadiran regional.

“Semua interaksi dengan kapal dan pesawat asing berlangsung aman dan profesional,” kata sumber tersebut seperti dilansir oleh Reuters.

Namun Beijing menanggapinya serius. Media pemerintah China melaporkan militer mereka memantau kapal itu sejak awal hingga akhir pelayaran.

“Tentara Pembebasan Rakyat melakukan pelacakan, pemantauan, dan operasi siaga sepanjang transit,” tulis laporan yang mengutip sumber militer.

Baca juga :  Siapa Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

Selat Taiwan adalah jalur laut sempit namun sangat strategis. China menganggapnya wilayah perairan sendiri karena mengklaim Taiwan sebagai bagian negaranya. Sebaliknya, negara Barat memandang selat itu perairan internasional yang bebas dilintasi.

Amerika Serikat rutin melayarkan kapal militernya di sana setiap beberapa bulan. Sekutu Washington seperti Inggris, Prancis, Kanada, dan Australia juga sesekali melakukan pelayaran serupa. Beijing menilai aktivitas itu provokatif dan belakangan meningkatkan kehadiran militer di sekitar Taiwan, termasuk latihan perang besar pada akhir Desember lalu.

Baca juga :  Iran Kutuk Serangan AS, Desak PBB dan Negara Islam Bertindak

Taiwan menolak klaim China dan menegaskan hanya rakyatnya yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut.

Transit kapal Australia ini bukan sekadar patroli simbolik. Dampaknya terasa secara strategis dan ekonomi global sekaligus:

  • Pesan militer terbuka: Sekutu AS menunjukkan solidaritas keamanan Indo-Pasifik dan kesiapan menjaga jalur laut internasional.
  • Risiko salah tafsir militer: Pemantauan ketat China meningkatkan potensi insiden tak disengaja di laut atau udara.
  • Efek ekonomi global: Selat Taiwan merupakan jalur perdagangan penting dunia. Gangguan di wilayah ini bisa menghambat distribusi barang industri, terutama elektronik dan semikonduktor.
  • Tekanan geopolitik meningkat: Setiap pelayaran militer di selat itu mempertegas rivalitas blok Barat vs China, memperpanjang ketegangan strategis kawasan.

    Pelayaran satu fregat mungkin tampak rutin di atas kertas, tetapi di panggung geopolitik global itu adalah sinyal kekuatan. Australia menegaskan prinsip kebebasan navigasi, sementara China membaca langkah itu sebagai tantangan langsung. Selat Taiwan kembali terbukti bukan sekadar jalur laut — melainkan barometer suhu politik dunia.
Baca juga :  AS–Israel Akui Rencanakan Serangan Berbulan-bulan, Bahrain Konfirmasi Pangkalan Armada Kelima AS Diserang