DIKSIMERDEKA.COM BEIJING – Dulu, lulus kuliah identik dengan tiket menuju dunia kerja. Kini, anggapan itu mulai memudar di China. AI Bikin Sarjana China Sulit Dapat Kerja di tengah membludaknya jumlah lulusan baru dan minimnya lowongan yang tersedia. Tahun ini, sekitar 12,7 juta mahasiswa China resmi diwisuda, tetapi banyak di antaranya justru harus menghadapi kenyataan pahit: ijazah tak lagi menjadi jaminan mendapatkan pekerjaan.

Akibatnya, jutaan anak muda harus bersaing memperebutkan jumlah pekerjaan yang jauh lebih sedikit.

Salah satunya adalah Jasmine, perempuan 22 tahun lulusan akuntansi di Shanghai. Selama sebulan terakhir ia telah mengirim sekitar 150 lamaran kerja, namun belum satu pun membuahkan hasil.

“Jauh lebih sulit daripada yang saya bayangkan. Lowongan sedikit, sementara persaingan sangat ketat, terutama untuk pekerjaan yang memiliki akhir pekan libur dan jaminan sosial,” ujarnya seperti yang dilansir dari The Guardian, Selasa (14/7/2026).

AI Mulai Menggantikan Pekerjaan Pemula

Fenomena ini bukan sekadar akibat perlambatan ekonomi. Para peneliti menilai revolusi Artificial Intelligence (AI) menjadi faktor yang memperparah kondisi pasar tenaga kerja.

Menurut peneliti Economist Intelligence Unit (EIU), pekerjaan level pemula kini menjadi yang paling rentan digantikan oleh otomatisasi.

Baca juga :  Trump Disambut Kabut Polusi di Beijing, China Tak Lagi “Bersih-Bersih” untuk AS

“Posisi entry level jauh lebih mudah diotomatisasi atau digantikan AI. Bahkan lulusan teknologi informasi kini mulai kehilangan sebagian pekerjaan awal mereka karena sudah dapat dikerjakan oleh AI,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat lulusan baru kehilangan batu loncatan yang selama ini menjadi pintu masuk ke dunia kerja profesional.

Jurusan Lama Mulai Dihapus

Di sisi lain, pemerintah China juga melakukan perubahan besar dalam sistem pendidikan tinggi.

Dalam kurun 2021-2025, lebih dari 12.200 program studi sarjana terutama jurusan seni, bahasa, dan humaniora—ditutup.

Sebagai gantinya, universitas membuka sekitar 10.200 program studi baru yang berfokus pada teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan, robotika, kendaraan listrik, semikonduktor, hingga energi baru.

Pendiri konsultan China Education International, Charles Jeffery Sun, menyebut perubahan tersebut memang menyakitkan bagi banyak lulusan, tetapi dianggap sebagai langkah yang tidak bisa dihindari.

“Selama puluhan tahun fokus pendidikan tinggi China adalah memperluas akses kuliah. Kini saatnya beralih pada kualitas dan relevansi dengan kebutuhan industri,” katanya.

Ekonomi Melambat, Lowongan Menyusut

Masalah semakin rumit karena ekonomi China sedang mengalami perlambatan.

Baca juga :  365 Hari di Orbit! China Tancap Gas Kejar Misi Pendaratan Manusia di Bulan

Pemerintah Beijing bahkan menurunkan target pertumbuhan ekonomi menjadi sekitar 4,5-5 persen, terendah sejak 1991.

Perlambatan dipicu melemahnya konsumsi domestik, perang tarif internasional, serta populasi yang semakin menua.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat perusahaan lebih berhati-hati merekrut pegawai baru.

Menurut Charles Sun, jika digabungkan dengan lulusan tahun-tahun sebelumnya yang masih menganggur, mahasiswa pascasarjana, dan lulusan luar negeri yang kembali ke China, jumlah pencari kerja tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 15 juta orang.

Media Sosial Dipenuhi Curahan Hati

Tekanan tersebut mulai terlihat di media sosial China.

Di platform Xiaohongshu, berbagai jajak pendapat yang dibuat para lulusan menunjukkan mayoritas responden masih belum memperoleh pekerjaan.

Dalam salah satu survei yang diikuti lebih dari 14 ribu orang, sekitar 10 ribu responden mengaku masih menganggur.

Ungkapan “lulus berarti menganggur” kini menjadi kalimat yang semakin sering muncul di media sosial China.

Seorang lulusan berusia 26 tahun bahkan menuliskan curahan hatinya.

“Tolong seseorang selamatkan saya. Saya menangis, saya lelah, saya menyerah.”

Jadi Kurir Demi Bertahan Hidup

Karena sulit mendapatkan pekerjaan tetap, semakin banyak lulusan sarjana memilih bekerja di sektor ekonomi digital atau gig economy, seperti menjadi pengemudi ojek online maupun kurir pengantar barang.

Baca juga :  Bukan Iran atau AS, China Kini Jadi Penentu Harga Minyak Dunia

Sektor ini kini menyerap lebih dari 200 juta pekerja di China.

Namun para ekonom mengingatkan pekerjaan fleksibel tersebut berisiko menurunkan keterampilan profesional dalam jangka panjang sekaligus memperlambat perkembangan karier para lulusan muda.

Pemerintah Mulai Bergerak

Pemerintah China sebenarnya telah meluncurkan berbagai program untuk mengatasi persoalan ini.

Pada Juli 2026, Beijing memulai kampanye nasional selama enam bulan guna mendorong perusahaan merekrut lebih banyak lulusan baru.

Pemerintah juga menargetkan penciptaan 12 juta lapangan kerja perkotaan melalui pengembangan industri berbasis AI, pelatihan keterampilan baru, dan program magang di sektor teknologi.

Meski demikian, para pakar menilai dampaknya tidak akan langsung terasa karena persoalan yang dihadapi bersifat struktural.

Sementara itu, jutaan lulusan seperti Fan hanya bisa berharap keadaan akan membaik.

“Saya tidak tahu kapan situasi ini berubah. Saya juga tidak tahu harus melakukan apa untuk masa depan. Yang bisa saya lakukan hanyalah menerima kenyataan,” katanya.