Inggris vs Meksiko: Bellingham Menggila, Kane Segel Kemenangan Dramatis Meski Main dengan 10 Pemain
MEXICO CITY, DIKSIMERDEKA.COM – Laga Inggris vs Meksiko membuat Stadion Azteca bergemuruh. Puluhan ribu pendukung Meksiko datang membawa mimpi melihat El Tri melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026 di rumah sendiri. Namun ketika peluit panjang berbunyi, yang tersisa hanyalah keheningan, tangis, dan pemain-pemain Meksiko yang terkapar di atas rumput.
Inggris sukses mencuri kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko dalam duel babak 16 besar yang menyajikan hampir semua elemen sepak bola: hujan deras, gol-gol indah, kartu merah, dua penalti, tekanan tanpa henti, hingga aksi heroik bertahan dengan 10 pemain.
Kini, The Three Lions melaju ke perempat final dan akan menghadapi Norwegia yang lebih dulu membuat kejutan dengan menyingkirkan Brasil.

Sejak awal pertandingan, suasana sudah begitu mencekam. Hujan deras sempat menunda kick-off selama satu jam, tetapi hal itu justru membuat atmosfer Stadion Azteca semakin membara. Teriakan puluhan ribu pendukung tuan rumah terus menggema mengiringi setiap sentuhan bola pemain Inggris.
Meski berada di bawah tekanan, skuad asuhan Thomas Tuchel tetap tenang. Mereka perlahan menguasai ritme permainan hingga akhirnya memecah kebuntuan.
Gol pertama lahir lewat skema serangan balik cepat. Jordan Pickford melempar bola kepada Declan Rice yang langsung mengalirkannya kepada Bukayo Saka. Winger Arsenal itu mengirim umpan silang sempurna yang disambut sundulan keras Jude Bellingham untuk membawa Inggris unggul 1-0.
Belum sempat Meksiko bangkit, Bellingham kembali menghukum pertahanan lawan. Berawal dari keberhasilan Elliot Anderson merebut bola di lini tengah, Harry Kane memberikan umpan matang yang diselesaikan gelandang Real Madrid tersebut menjadi gol kedua.
Stadion Azteca mendadak sunyi.
Namun Meksiko tidak menyerah.
Memanfaatkan kemelut hasil bola mati, Julián Quiñones memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 sebelum turun minum. Gol tersebut kembali membakar semangat publik tuan rumah.
Drama sesungguhnya baru dimulai pada babak kedua.
Petaka datang bagi Inggris ketika Jarell Quansah menerima kartu merah langsung akibat tekel keras terhadap Jesús Gallardo setelah wasit melihat tayangan VAR.
Bermain dengan 10 orang membuat Inggris dipaksa bertahan total menghadapi gempuran tanpa henti Meksiko.
Namun di tengah tekanan tersebut, Anthony Gordon menjadi pembeda. Kecepatannya memaksa kiper Raúl Rangel melakukan pelanggaran di kotak penalti.
Harry Kane yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna.
Gol tersebut menjadi gol keenam Kane di Piala Dunia 2026 sekaligus memperbesar keunggulan Inggris menjadi 3-1.
Meksiko kembali memperkecil skor lewat penalti Raúl Jiménez setelah Kane melakukan pelanggaran di kotak terlarang.
Sisa pertandingan berubah menjadi ujian mental bagi Inggris.
Selama lebih dari 10 menit tambahan waktu, The Three Lions bertahan mati-matian. John Stones, Dan Burn, hingga Jordan Pickford bergantian menggagalkan peluang-peluang Meksiko.
Ketika peluit panjang berbunyi, para pemain Inggris langsung berpelukan, sementara pemain Meksiko terduduk lesu menyaksikan mimpi mereka kandas di kandang sendiri.
Secara statistik, laga ini menunjukkan kontras menarik. Meksiko sebenarnya tampil jauh lebih dominan dalam mengendalikan permainan. El Tri menguasai 66 persen penguasaan bola, mencatat 465 operan dengan akurasi mencapai 92 persen, jauh di atas Inggris yang hanya menguasai 34 persen bola, membuat 261 operan, dan memiliki akurasi operan 83 persen.
Dominasi itu juga terlihat dari jumlah peluang. Meksiko melepaskan 23 tembakan, dengan lima di antaranya mengarah tepat ke gawang, sedangkan Inggris hanya mencatat enam tembakan, tetapi lima langsung mengarah ke gawang. Efektivitas luar biasa inilah yang menjadi pembeda utama karena tiga peluang berhasil dikonversi menjadi gol.
Dari sisi bola mati, Meksiko memperoleh 12 tendangan sudut, enam kali lebih banyak dibanding Inggris yang hanya mendapat dua sepak pojok. Namun rapatnya pertahanan Inggris membuat peluang-peluang tersebut gagal dimaksimalkan.
Pertandingan juga berlangsung keras. Meksiko melakukan 13 pelanggaran dan menerima dua kartu kuning, sedangkan Inggris melakukan enam pelanggaran, mengoleksi empat kartu kuning, serta kehilangan Quansah akibat satu kartu merah. Kedua tim sama-sama hanya sekali terjebak offside.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh tim yang paling lama menguasai bola atau paling banyak menciptakan peluang. Inggris tampil lebih klinis, memanfaatkan hampir setiap kesempatan emas yang dimiliki, lalu mempertahankan keunggulan dengan disiplin luar biasa meski harus bermain dengan 10 orang.
Kini, tantangan yang lebih besar sudah menanti. Inggris akan berhadapan dengan Norwegia yang sedang berada dalam performa terbaiknya setelah Erling Haaland membawa tim Viking menumbangkan Brasil. Duel tersebut dipastikan menjadi salah satu pertandingan paling dinantikan di perempat final Piala Dunia 2026.

Tinggalkan Balasan