Lautan Manusia Antar Ali Khamenei ke Peristirahatan Terakhir, Iran Bersumpah Tak Akan Pernah Menyerah
TEHERAN, DIKSIMERDEKA.COM – Menjelang fajar menyingsing di Teheran, ibu kota Iran perlahan berubah menjadi lautan duka. Jalan-jalan utama dipenuhi pagar pengaman, kendaraan militer, pos pemeriksaan, dan spanduk merah raksasa bertuliskan “Kita Harus Bangkit”. Dari berbagai penjuru negeri, jutaan warga mulai berdatangan dengan membawa bendera, sajadah, selimut, hingga foto pemimpin yang selama lebih dari tiga dekade menjadi simbol Republik Islam Iran: Ayatollah Ali Khamenei, Kamis malam (2/7/2026).
Enam hari setelah wafat akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu, Iran akhirnya menggelar prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah modern negara itu. Pemerintah memperkirakan hingga 30 juta orang akan mengikuti rangkaian penghormatan terakhir bagi pemimpin tertinggi yang memimpin Iran selama 36 tahun penuh gejolak.
Namun bagi Teheran, pemakaman ini bukan sekadar perpisahan.

Ini adalah panggung untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Iran masih berdiri, masih melawan, dan belum menyerah.
Air Mata Pecah Saat Peti Jenazah Dibuka
Suasana paling menggetarkan terjadi pada Kamis malam ketika peti jenazah Khamenei pertama kali diperlihatkan kepada publik dalam upacara khusus bagi keluarga korban perang.
Begitu peti kayu itu muncul, ribuan pelayat langsung bergerak maju.
Tangisan pecah.
Banyak di antara mereka melemparkan syal dan kain ke arah petugas agar sempat disentuhkan ke peti sang pemimpin, berharap benda tersebut menjadi kenangan terakhir yang sakral.
Tak lama kemudian, peti jenazah diangkat tinggi-tinggi melewati lautan tangan menuju Masjid Agung Mosalla di Teheran, tempat jasad Khamenei akan disemayamkan selama tiga hari sebelum dimakamkan di Mashhad pada Kamis mendatang.
Kehilangan yang Tak Tergantikan
Di tengah prosesi yang megah, satu pemandangan membuat banyak pelayat tak kuasa menahan air mata.
Di samping peti Khamenei, terdapat sebuah peti mungil berwarna putih.
Itu adalah jenazah cucu perempuan Khamenei yang baru berusia 14 bulan, ikut tewas dalam ledakan yang sama bersama tiga anggota keluarga lainnya.
Peti kecil itu menjadi simbol bahwa perang tidak hanya merenggut pemimpin negara, tetapi juga menghancurkan kehidupan keluarga di baliknya.
Tangisan Para Jenderal
Sejumlah tokoh penting Iran tampak hadir memberikan penghormatan terakhir.
Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Ahmad Vahidi, muncul pertama kali di hadapan publik sejak pecahnya perang pada Februari lalu.
Pria yang dikenal keras itu tak mampu menyembunyikan emosinya.
Sementara Presiden Masoud Pezeshkian juga terlihat menitikkan air mata saat berdiri di depan peti jenazah.
Mohsen Rezaee, salah satu komandan senior Garda Revolusi, bahkan menangis terbuka di hadapan ribuan pelayat.
Bukan Sekadar Pemakaman
Pemerintah Iran sejak awal merancang prosesi ini sebagai demonstrasi politik sekaligus religius.
Prosesi sepanjang 10 kilometer akan digelar Senin mendatang, melintasi Imam Hossein Square hingga Azadi Square—lokasi bersejarah Revolusi Iran 1979.
Tak hanya itu, atas permintaan sejumlah tokoh Syiah Irak, jenazah Khamenei juga akan dibawa menuju kota suci Najaf dan Karbala sebelum dimakamkan.
Meski dihadiri pemimpin Irak, Pakistan, Armenia, Tajikistan, serta sejumlah ketua parlemen negara Arab, tak satu pun pemimpin Barat diundang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, bahkan menuduh negara-negara Eropa telah berada di “sisi sejarah yang salah” karena mendukung serangan Amerika Serikat dan Israel.
“Kami Tak Akan Pernah Menyerah”
Di balik suasana duka, pidato para petinggi Iran justru dipenuhi nada perlawanan.
Jenderal Ahmad Vahidi menegaskan kematian Khamenei tidak akan mengubah arah negara.
“Beliau hidup di hati dan jiwa kami. Iran tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kami tidak akan pernah menyerah.” katanya dilansir The Guardian.
Ketua parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menyerukan agar dunia mendengar “seruan darah” rakyat Iran.
“Kami tidak akan diam menghadapi penindasan. Dunia harus tahu bangsa Iran tidak akan pernah tunduk.”
Retorika balas dendam juga terus mengemuka dari kalangan garis keras, sementara Ketua Mahkamah Agung Iran meminta negara-negara Barat “membuka kembali buku sejarah” sebelum menghakimi Iran.
Bayang-Bayang Suksesor
Meski poster-poster bergambar Mojtaba Khamenei, putra sekaligus penerus Ali Khamenei, memenuhi sudut-sudut kota, satu pertanyaan besar masih menggantung.
Di mana Mojtaba?
Hingga kini ia belum pernah tampil di depan publik sejak mengalami luka berat dalam serangan yang menewaskan ayahnya.
Kondisi kesehatannya masih dirahasiakan.
Ia hanya mengirimkan beberapa pernyataan tertulis, termasuk mendukung proses gencatan senjata tanpa ikut terlibat langsung.
Ketiadaan sosok yang diproyeksikan menjadi pemimpin baru itu membuat spekulasi politik terus berkembang, terlebih di tengah inflasi yang melonjak dan rivalitas elite kekuasaan.
Namun bagi pemerintah Iran, pesan yang ingin disampaikan tetap sama.
Negara ini kehilangan pemimpinnya, tetapi tidak kehilangan tekadnya.
Dan selama enam hari ke depan, jutaan rakyat Iran akan berjalan mengiringi peti Ali Khamenei, mengubah jalan-jalan Teheran menjadi panggung duka sekaligus deklarasi bahwa Republik Islam Iran mengaku masih berdiri tegak menghadapi dunia.

Tinggalkan Balasan