DIKSIMERDEKA.COM – CARACAS – Duka Gempa Venezuela belum juga berakhir. Lima hari setelah dua gempa dahsyat mengguncang negara itu, gempa susulan berkekuatan Magnitudo 4,6 kembali mengguncang wilayah utara Venezuela pada Senin (29/6/2026), memicu kepanikan di tengah operasi penyelamatan yang masih berlangsung.

Warga Caracas dan kota pelabuhan La Guaira berhamburan keluar rumah, tenda darurat, hingga tempat penampungan sementara ketika sirene peringatan gempa kembali berbunyi. Banyak penyintas mengaku trauma karena guncangan kali ini terasa hampir sekuat gempa utama yang melanda pekan lalu.

Berdasarkan data US Geological Survey (USGS), gempa susulan tersebut memiliki magnitudo 4,6. Sementara Survei Geologi Kolombia mencatat kekuatannya mencapai Magnitudo 5,1.

Meski Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, menyatakan belum ada laporan kerusakan baru, getaran tersebut memperburuk kepanikan masyarakat yang masih diliputi trauma akibat bencana sebelumnya.

“Saya sedang tidur ketika guncangan membangunkan saya. Rasanya hampir sama kuat dengan gempa hari Rabu,” ujar Amarelis Mendoza, warga El Hatillo, Caracas.

Ribuan Korban, Krisis Kemanusiaan Kian Memburuk

Bencana yang diawali dua gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 itu kini telah menewaskan 1.719 orang.

Pemerintah Venezuela juga mencatat 5.034 orang mengalami luka-luka, hampir 800 bangunan rusak berat, sementara puluhan ribu warga masih dinyatakan hilang.

Baca juga :  Kapal Pengungsi Rohingya Tenggelam di Laut Andaman, 250 Orang Hilang

Di sejumlah kawasan terdampak seperti Altamira dan San Bernardino, ribuan warga masih bertahan di tenda-tenda darurat yang berdiri di taman kota, trotoar, hingga ruang terbuka. Mereka memilih tidak kembali ke rumah karena khawatir bangunan yang retak akan runtuh akibat gempa susulan.

Beberapa jalur Metro Caracas kembali dihentikan operasinya sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kerusakan infrastruktur yang lebih parah.

Sementara itu, pencarian korban di Apartemen Rita yang ambruk total sempat dihentikan selama sekitar 90 menit setelah gempa susulan terjadi.

Harapan Menemukan Korban Selamat Kian Menipis

Tim penyelamat dari Venezuela bersama personel internasional masih terus menyisir reruntuhan bangunan.

Pada Minggu sebelumnya, harapan sempat muncul ketika seorang pria dan putra remajanya berhasil dievakuasi hidup-hidup dari reruntuhan di La Guaira.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan operasi pencarian tidak akan dihentikan selama masih ada peluang menemukan korban selamat.

“Hari ini kami masih berhasil menyelamatkan orang yang hidup. Karena itu operasi pencarian akan terus dilanjutkan,” katanya.

Meski demikian, para penyelamat mengakui peluang menemukan korban selamat semakin kecil karena masa emas 72 jam pascagempa telah lama berlalu.

Baca juga :  Gempa Venezuela: Kisah Pilu Penyintas yang Selamat dari Reruntuhan Gedung di Caracas

Seorang anggota tim penyelamat asal El Salvador mengatakan sebagian besar korban yang kini ditemukan kemungkinan sudah meninggal dunia.

Bantuan Dunia Terus Berdatangan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah korban masih akan bertambah.

Koordinator PBB untuk Venezuela, Gianluca Rampolla del Tindaro, mengatakan pihaknya telah menyiapkan 10.000 kantong jenazah, meski berharap jumlah korban tidak akan mencapai angka tersebut.

Hingga kini sedikitnya 27 negara telah mengirimkan lebih dari 2.000 personel penyelamat, sekitar 160 anjing pelacak, serta bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar.

Sementara itu, Korps Marinir Amerika Serikat berhasil memperbaiki salah satu pelabuhan utama Venezuela di La Guaira sehingga kapal bantuan USS Fort Lauderdale kini dapat menurunkan logistik, alat berat, dan perlengkapan medis.

Pemerintah Amerika Serikat juga menggandakan bantuan kemanusiaan dari US$150 juta menjadi US$300 juta atau sekitar Rp5,35 triliun (kurs Rp17.846 per dolar AS). Dana tersebut akan digunakan untuk layanan kesehatan darurat, makanan, air bersih, sanitasi, tempat penampungan, hingga distribusi logistik bagi para korban.

Penjarahan dan Kemarahan Warga

Di tengah operasi penyelamatan, situasi keamanan mulai memburuk.

Sejumlah apotek, supermarket, dan toko di La Guaira dilaporkan dijarah warga yang kecewa karena bantuan dinilai datang terlalu lambat.

Baca juga :  Krisis Sudan Memburuk, 19 Juta Orang Terancam Kelaparan di Tengah Minimnya Bantuan

Kemarahan juga ditujukan kepada aparat keamanan yang dianggap lebih banyak berjaga dibanding membantu proses evakuasi korban.

“Negara membutuhkan kalian. Letakkan senjata dan ambil sekop,” teriak seorang warga kepada para tentara di kawasan Tanaguarena, mendesak mereka ikut mencari korban yang masih tertimbun reruntuhan.

Pemerintah Venezuela juga membatasi akses jurnalis asing ke beberapa zona terdampak selama 48 jam dengan alasan keamanan.

Jutaan Warga Membutuhkan Bantuan

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan hingga 6,76 juta orang terdampak bencana tersebut dan membutuhkan bantuan berupa tempat tinggal sementara, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, hingga kebutuhan pokok.

Gempa terbesar Venezuela dalam lebih dari satu abad ini terjadi ketika negara kaya minyak tersebut masih berjuang keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan yang telah melemahkan sistem kesehatan dan pelayanan publik.

PBB memperkirakan biaya rekonstruksi pascagempa mencapai US$6,7 miliar, atau sekitar Rp119,57 triliun dengan kurs Rp17.846 per dolar AS.

Di tengah situasi tersebut, tokoh oposisi Venezuela yang berada di pengasingan, María Corina Machado, menyatakan akan segera kembali ke negaranya.

“Saatnya telah tiba. Kita harus bersama, saling menguatkan, berduka, dan bangkit menghadapi masa sulit ini,” ujarnya.